Kejanggalan Kematian Dosen Semarang, Tak Ada Luka, tapi Ada Darah dan Nama Polisi dalam Satu KK

Semarang, dosen meninggal, dosen meninggal di kos, kematian dosen muda Untag Semarang, kematian dosen, kematian dosen asal semarang, kematian dosen di Semarang, Kejanggalan Kematian Dosen Semarang, Tak Ada Luka, tapi Ada Darah dan Nama Polisi dalam Satu KK, 1. Penjelasan Polisi Tidak Selaras dengan Kondisi Jenazah, 2. Korban Ditemukan Tanpa Busana di Lantai, 3. Keluarga Baru Diberi Tahu Berjam-jam Setelah Penemuan, 4. Ada Nama Polisi AKBP B dalam Satu KK dengan Korban, 5. Lokasi Meninggal Bukan Tempat Tinggal DLL, 6. Kebiasaan Korban Sering ke Kostel Tidak Diketahui Keluarga, 7. Hasil Otopsi Belum Diterima Keluarga, 8. AKBP B Tidak Pernah Muncul di Hadapan Keluarga, 9. Minimnya Penjelasan Polisi soal Hubungan Korban dan AKBP B, 10. Keluarga Mencium Banyak Ketidakwajaran

Kasus kematian dosen muda Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang, berinisial DLL (35), terus menjadi perbincangan publik.

Ia ditemukan meninggal dunia di sebuah kostel di Kecamatan Gajahmungkur pada Senin (17/11/2025) sekitar pukul 05.30 WIB.

alih dianggap wajar, kematian DLL justru menyisakan banyak tanda tanya.

Sejumlah fakta di lokasi kejadian dinilai tidak sesuai dengan dugaan polisi yang menyebut ia meninggal karena sakit.

Selain itu, muncul nama seorang polisi berpangkat AKBP sebagai saksi pertama dan tercatat satu Kartu Keluarga (KK) dengan korban meski keluarga mengaku tidak pernah mengetahui adanya hubungan kekerabatan.

Berikut sederet kejanggalan yang kini dipertanyakan keluarga dan masyarakat.

1. Penjelasan Polisi Tidak Selaras dengan Kondisi Jenazah

Polisi menyebut DLL meninggal karena sakit, didasarkan pada rekam medis dari RS Telogorejo dua hari sebelum kematian. Kapolsek Gajahmungkur AKP Nasoir mengatakan tensi korban mencapai 190 mmHg dan gula darah 600 mg/dl.

“Jadi diduga korban meninggal dunia karena sakit. Tim Inafis Polrestabes Semarang juga tidak menemukan tanda-tanda kekerasan,” ujar Nasoir, Selasa (18/11/2025).

Namun, keluarga menemukan kenyataan berbeda.

Menurut Tiwi, keluarga korban, tubuh DLL justru menunjukkan kondisi tidak wajar:

  • Ada darah keluar dari hidung dan mulut
  • Ada bercak darah di bagian intim

Wajah korban terlihat “berbeda drastis” dalam foto yang diterima keluarga

“Korban dari dulu kelihatan sehat… Tidak ada tanda-tanda sakit tertentu,” kata Tiwi.

2. Korban Ditemukan Tanpa Busana di Lantai

Saat ditemukan, DLL telentang di lantai, tanpa busana, tanpa alas.

Keluarga menilai posisi ini tidak lazim bagi seseorang yang meninggal karena sakit biasa.

Lokasi meninggal pun bukan tempat tinggal DLL, melainkan kostel, bukan kamar kos pribadinya.

3. Keluarga Baru Diberi Tahu Berjam-jam Setelah Penemuan

DLL ditemukan pukul 05.30 WIB, tetapi keluarga baru menerima kabar pada petang hari.

Rentang waktu panjang ini memunculkan dugaan adanya keterlambatan informasi yang dianggap tidak wajar.

4. Ada Nama Polisi AKBP B dalam Satu KK dengan Korban

Salah satu kejanggalan terbesar adalah keberadaan AKBP B, seorang anggota Polri dari Direktorat Samapta Polda Jateng, yang disebut sebagai orang pertama yang menemukan jenazah.

Lebih mengejutkan lagi, DLL dan AKBP B tercatat satu KK, padahal keluarga tidak pernah mengetahui adanya hubungan keluarga.

Keluarga menduga korban mungkin pernah diminta masuk KK polisi itu untuk proses administrasi pindah KTP, tetapi tidak pernah diberi tahu.

5. Lokasi Meninggal Bukan Tempat Tinggal DLL

Menurut keluarga, DLL sudah merantau di Semarang empat tahun terakhir dan memiliki kos sendiri.

“Korban masih lajang… Ia kuliah sampai jadi dosen tetap di Untag sekitar 2021–2022,” ujar Tiwi.

Namun, ia justru ditemukan di kostel bukan di kos pribadinya.

6. Kebiasaan Korban Sering ke Kostel Tidak Diketahui Keluarga

Keluarga mengaku tidak mengetahui alasan DLL sering keluar-masuk kostel tersebut dalam beberapa waktu terakhir.

Aktivitas ini menimbulkan pertanyaan lain: apa sebenarnya yang dilakukan DLL di tempat itu?

7. Hasil Otopsi Belum Diterima Keluarga

Hingga malam hari (Selasa, 18/11), keluarga belum menerima hasil otopsi lengkap.

“Untuk hasil autopsi nanti kami kabari besok,” kata Tiwi, menunggu informasi lanjutan dari rumah sakit.

Ketiadaan kejelasan ini membuat kejanggalan semakin besar.

8. AKBP B Tidak Pernah Muncul di Hadapan Keluarga

Meski disebut sebagai “saudara” dalam KK dan orang pertama yang menemukan jenazah, AKBP B tidak terlihat sama sekali saat keluarga menunggu proses autopsi.

“Kalau namanya saudara harusnya hadir… tapi sampai sore dia tidak datang,” ujar Tiwi.

9. Minimnya Penjelasan Polisi soal Hubungan Korban dan AKBP B

Hingga kini, kepolisian belum menjelaskan:

  • Mengapa korban dan AKBP B berada dalam satu KK
  • Mengapa AKBP B ada di kostel saat kejadian
  • Apa aktivitas AKBP B sebelum menemukan korban
  • Bagaimana detail olah TKP dan hasil medis awal

Penjelasan hanya sebatas dugaan “meninggal karena sakit.”

10. Keluarga Mencium Banyak Ketidakwajaran

Mulai dari kondisi tubuh, lokasi kejadian, hubungan dengan polisi, hingga minimnya transparansi, keluarga menilai ada banyak hal yang tidak wajar.

“Sebenarnya keluarga sudah menggebu-gebu (ingin menindaklanjuti), tapi nanti kakak kandung korban yang memutuskan,” kata Tiwi.

Keluarga kini mempertimbangkan langkah hukum sambil menunggu hasil otopsi resmi.

Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul dan TribunJateng.com dengan judul Polisi Ungkap Korban Sakit, Namun Keluarga Temukan Sejumlah Kejanggalan dalam Kematian Dosen Untag

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.