Jamu Tak Lagi Kuno, Trennya Kini 'Mewabah' ke Gen Z

Jamu kunyit asam
Jamu kunyit asam

 Mengonsumsi jamu mungkin identik dengan generasi X atau milenial. Namun siapa sangka belakangan hype konsumsi jamu menjamur di kalangan gen Z.

Bahkan di akhir tahun lalu muncul di media sosial tren opeen table jamu. Dalam sejumlah video yang tersebar di media sosial terutama TikTok terlihat anak-anak muda memesan beras kencur, kunyit asem, hingga brotowali di penjual jamu gendong. Hal ini menjadi tren solusi sehat dan hilang penat di kalangan gen z. Tren jamu di kalangan generasi Z juga sudah dibaca oleh Founder & Director PT. Acaraki Nusantara Persada, Jony Yuwono sejak tahun 2018 lalu. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

”Ketika kita pertama kali buka Acaraki di tahun 2018 ekspektasi kita mungkin teman-teman kita yang sepuh yang datang. Tapi menariknya justru sebaliknya, anak-anak muda mengunjungi kafe jamu kami,” kata dia kepada awak media, Rabu 4 Februari 2026.

Lebih lanjut terkait jenis jamu yang paling banyak diminati generasi Z, Jony mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil observasi internal, terjadi pergeseran selera di kalangan anak muda. Saat ini, gen Z mulai menyukai jamu otentik yang disajikan tanpa tambahan gula maupun campuran lainnya.

“Konsumen anak-anak muda cenderung kira-kira. 20-30 tapi yang umur 40, 60 ke atas sangat mengapresiasi mereka pesannya yang panas, hangat. Untuk anak-anak muda Sebelum pandemi mereka suka pesan yang segar-segar golden sparkling dengan soda atau dengan es krim. Setelah pandemi mereka mencoba yang pure jadi tanpa gula tanpa campuran lainnya. Jadi mereka coba murni kunyit dan asam tok. Itu suatu observasi yang unik,” kata dia.

Terkait tren open table yang belakangan ramai di kalangan generasi Z, Jony menyikapinya secara positif. Ia melihat, pascapandemi, semakin banyak masyarakat yang mulai mengonsumsi jamu seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan. Sejumlah jenis jamu seperti beras kencur, kunyit asam, temulawak, hingga wedang jahe pun dikenal dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh.

”Aku yakin pasti (semakin maju) karena setelah pandemi semua orang sudah mulai peduli terhadap kesehatan. Penyakit berevolusi dan kita tidak bisa bergantung terhadap obat tapi daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh tidak bisa didapat secara instan , tapi dibangun dari gaya hidup sehat, olahraga rutin termasuk konsumsi jamu yang rutin. Layaknya doa kesehatan jamu idealnya dikonsumsi rutin bagian dari gaya hidup mungkin alternatif kopi dan teh. Kalau dijadikan sebagai open table, mau dijadikan bar tender jamu atau seru-seruan anak muda terbuka sih,” kata dia.

Inovasi Jamu

Di PIK 2, jamu hadir dalam bentuk yang akrab bagi generasi urban: ruang yang estetis, narasi yang informatif, dan produk yang dirancang mengikuti ritme hidup modern. Cafe Jamu Indonesia yang dihadirkan oleh PT Acaraki Nusantara Persada (acaraki) mengusung konsep Jamu Experience Cafe. Pengunjung diajak memahami filosofi jamu, tentang jampi (doa), oesodo (kesehatan), dan pengetahuan lintas generasi sekaligus menikmati inovasi yang dikemas dengan selera masa kini.

Menurut Jony, langkah ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

”Acaraki hadir untuk memperluas cara masyarakat mengenal dan menikmati jamu,” ujarnya.

Di PIK 2, jamu dihadirkan bukan untuk menggantikan tradisi, melainkan mendekatkannya kembali ke keseharian masyarakat terutama generasi muda yang tumbuh di tengah arus globalisasi dan budaya populer. Inovasi menjadi kata kunci. acaraki memperkenalkan acaraki Jamu Capsule alternatif konsumsi jamu yang lebih praktis bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi. Tiga varian, Turmeric, Shades of Gold, dan All About Ginger, diluncurkan sebagai pelengkap, bukan pengganti jamu seduh. Pesannya jelas, yakni  modernisasi tidak harus memutus akar. Ia justru bisa menjadi jembatan agar tradisi tetap hidup.