Survei Global Ungkap Pria Gen Z Setuju Istri Harus Taat pada Suami, Apa Kata Pria Indonesia?
Hampir sepertiga dari laki-laki dan remaja pria generasi Z, yaitu mereka yang lahir pada tahun 1997-2012, berpendapat bahwa seorang istri wajib menuruti suaminya.
Dikutip dari The Guardian, Minggu (8/3/2026), survei global terhadap 23.000 individu menemukan, para pria muda memegang pandangan yang lebih konvensional mengenai peran gender daripada generasi-generasi yang lebih tua.
Sepertiga atau 33 persen dari laki-laki generasi Z juga menyatakan, seorang suami berhak menentukan keputusan akhir pada hal-hal penting, berdasarkan survei di 29 negara, yang mencakup Inggris Raya, Amerika Serikat, Brasil, Australia, dan India.
Riset itu menemukan bahwa laki-laki generasi Z berpeluang dua kali lipat dibandingkan pria generasi baby boomers, kelahiran 1946-1964, untuk memiliki pandangan konvensional terkait pengambilan keputusan dalam pernikahan.
Hanya 13 persen pria di kelompok generasi baby boomers sepakat bahwa istri harus selalu menuruti suaminya. Di kalangan perempuan, 18 persen generasi Z dan 6 persen generasi baby boomers menyetujuinya.
Ilustrasi pasangan. Psikolog mengingatkan keputusan kembali menjalin hubungan hanya karena kasihan dapat memicu ketidakseimbangan dan masalah emosional dalam jangka panjang.
Masyarakat dari kedua jenis kelamin di Indonesia, yaitu 66 persen, serta Malaysia yaitu 60 persen, paling berpeluang menyepakati pernyataan tersebut, dibandingkan dengan 23 persen di Amerika Serikat dan 13 persen di Inggris Raya.
Penelitian tahunan terhadap kelompok usia di atas 16 tahun ini dilakukan oleh Ipsos dan Global Institute for Women's Leadership di King's College London. Penelitian menemukan perbedaan tajam pada keyakinan berbagai generasi laki-laki ketika menyangkut peran gender:
- Hampir seperempat atau 24 persen pria generasi Z beranggapan, perempuan tidak boleh terlihat terlalu mandiri atau sanggup mengurus diri sendiri, dibandingkan dengan 12 persen pria generasi baby boomers.
- Sikap terhadap norma seksual juga berbeda tajam lintas generasi, dengan 21 persen pria generasi Z menilai "wanita sejati" tidak pantas mengambil inisiatif hubungan intim, dibandingkan dengan hanya 7 persen pada pria generasi baby boomers.
- Lebih dari separuh atau 59 persen laki-laki generasi Z menyatakan pria dituntut melakukan terlalu banyak hal untuk mendukung kesetaraan, dibandingkan dengan 45 persen pria generasi baby boomers. Untuk perempuan, proporsinya masing-masing adalah 41 persen dan 30 persen.
Meskipun menjadi kelompok yang paling berpeluang meyakini wanita tidak boleh terlihat terlalu mandiri atau sanggup mengurus diri sendiri, pria generasi Z juga menjadi kelompok yang paling percaya bahwa perempuan yang memiliki karier sukses lebih memikat bagi laki-laki. Sebanyak 41 persen menyepakati pernyataan ini.
Apa kata pria generasi Z di Indonesia?
Untuk melihat realitas di lapangan, Kompas.com berkesempatan untuk mewawancarai beberapa laki-laki generasi Z soal hasil survei ini, Jumat (6/3/2026).
Ilustrasi
Perlu dicatat bahwa pendapat dari para narasumber tidak mewakili seluruh populasi laki-laki di Indonesia, sehingga perbedaan pendapat antara para narasumber dengan pembaca sangat wajar terjadi.
Kerja sama dalam pernikahan
Menanggapi hasil riset global tersebut, Devandra (26) yang masih melajang, tidak setuju dengan konsep bahwa istri wajib menuruti suaminya.
Menurut dia, pernikahan merupakan penyatuan dua individu yang menuntut diskusi dan kerja sama secara setara.
"Namanya menikah, ini kan dua orang menjadi satu, ibarat naik kapal pasti ada yang menyetir dan ada yang baca peta. Nah, untuk selalu nurut sih kayaknya terlalu ekstrem ya," ujar Devandra.
Lebih lanjut, Devandra mengaitkan pandangan konvensional mengenai kepatuhan mutlak tersebut dengan sisa-sisa budaya patriarki di tengah masyarakat.
Meski demikian, ia mengamati bahwa banyak pasangan modern saat ini lebih memilih untuk mengambil keputusan penting melalui kesepakatan berdua.
Diskusi dan kepemimpinan suami
Sementara itu, Aldrian (24) yang juga masih melajang, memberikan pandangan yang sedikit berbeda mengenai dinamika pengambilan keputusan dalam rumah tangga.
Ilustrasi pasangan.
Ia menekankan bahwa musyawarah dan pertukaran pendapat antara pasangan merupakan hal yang sangat esensial sebelum mengambil langkah.
"Istri itu enggak harus selalu nurut sama suami, tapi saling memberikan pendapat atau berembuk di setiap menentukan keputusan," jelas Aldrian.
"Tapi, tetap saja yang harus lebih dihargai adalah suaminya dalam memberikan keputusan, karena suami itu adalah pemimpinnya dalam rumah tangga. Suami adalah kepala rumah tangga," lanjut dia.
Komunikasi dan kesamaan nilai
Pandangan senada juga diungkapkan oleh Verus (28) yang telah berkeluarga. Ia menilai bahwa kewajiban istri untuk patuh tidaklah mutlak, melainkan sangat bergantung pada situasi dan komunikasi pasangan.
"Kan harus bisa saling tenggang rasa, harus bisa saling mengerti, harus mau saling mendengar," ungkap Verus.
Ia mengingatkan agar pasangan muda tidak mementingkan ego masing-masing dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Menurut dia, menyamakan nilai atau prinsip hidup sebelum memutuskan untuk menikah adalah kunci yang sangat penting.
Pria yang menganut nilai tradisional sebaiknya mencari perempuan yang sepaham, begitu pula bagi mereka yang berpandangan lebih bebas.
Ilustrasi pasangan.
"Aku membebaskan istriku, tapi di satu sisi, sebagai istri, dia juga harus menghormatiku," ujar dia.
Verus menegaskan bahwa seorang suami pun wajib memiliki kesadaran penuh untuk selalu menghargai pendapat istrinya. Proses pengambilan keputusan dalam keluarga idealnya selalu dilakukan berdua dengan mempertimbangkan dampak positif dan negatifnya.
"Suami juga harus bisa peka bahwa mereka tidak selalu benar, dan istri pun juga seperti itu, tidak selalu benar," kata dia.
Pandangan pakar soal hasil riset
Terlepas dari pandangan narasumber di Indonesia yang lebih mengedepankan komunikasi dan diskusi dua arah, para ahli menyoroti adanya faktor sosiologis dan ekonomi di balik menguatnya pandangan konvensional pada pria generasi Z secara global.
Profesor Heejung Chung, direktur Global Institute for Women's Leadership sekaligus pemimpin riset tersebut, menyatakan ada beberapa tanda positif yang menunjukkan dukungan terhadap kesetaraan gender tetap kuat, contohnya pada kesepakatan bahwa harus ada lebih banyak perempuan di pemerintahan.
Namun ketika data perbandingan tersedia, hal itu menyiratkan pandangan masyarakat menjadi lebih konvensional.
Pada tahun 2019, 42 persen orang secara global menyebut hak-hak perempuan sudah berjalan terlalu jauh di negara mereka, dibandingkan dengan 52 persen saat ini. Di Inggris Raya, hal ini setara dengan peningkatan 12 poin.
Baca juga:
Ilustrasi pasangan. Konsep love language memang membantu pasangan saling memahami, tetapi jika disalahartikan justru bisa memicu kesalahpahaman dalam hubungan.
“Saya pikir ada banyak keluhan, banyak ketakutan akan laki-laki yang kehilangan posisi sosialnya,” kata Chung.
“Dan ada kekosongan yang diisi dengan retorika dan suara-suara yang mencoba mengadu domba laki-laki muda dengan kesetaraan gender, dengan perempuan muda, dengan pendatang," lanjut dia.
Hasil survei tersebut juga menyiratkan pria generasi Z memiliki ekspektasi yang lebih konvensional terhadap tingkah laku maupun pilihan mereka sendiri, sebagai contoh:
- 30 persen pria generasi Z meyakini laki-laki dilarang mengucapkan “aku sayang kamu” kepada teman-teman mereka, dibandingkan dengan 20 persen pria generasi baby boomers dan 21 persen perempuan generasi Z.
- 21 persen laki-laki generasi Z beranggapan bahwa pria yang ikut serta dalam perawatan anak dinilai kurang jantan dibandingkan mereka yang tidak melakukannya, dibandingkan dengan 8 persen pria generasi baby boomers dan 14 persen wanita generasi Z.
- Kedua gender merasa perempuan mempunyai lebih banyak pilihan dalam kencan dan hubungan asmara (22 persen), peran rumah tangga (24 persen), dan pakaian yang bisa mereka kenakan (34 persen). Sementara itu, pria dinilai mempunyai lebih banyak pilihan dalam hobi (18 persen) dan pekerjaan (39 persen).
Ketua Global Institute for Women's Leadership sekaligus mantan Perdana Menteri Australia, Julia Gillard, mengataan bahwa hasil tersebut meresahkan.
“Bukan hanya banyak laki-laki generasi Z yang membebankan ekspektasi yang mengekang pada perempuan, mereka juga menjebak diri mereka sendiri ke dalam norma-norma gender yang membatasi,” ungkap dia.
“Kita harus terus berbuat lebih banyak untuk menepis gagasan tentang permainan menang-kalah, yang mana perempuan adalah satu-satunya penerima manfaat dari dunia yang setara secara gender," sambung Gillard.
Ilustrasi pasangan.
Chung menuturkan, bahwa faktor ekonomi mungkin juga turut berperan. Pada generasi sebelumnya, laki-laki memiliki kemampuan untuk menampilkan maskulinitas lewat beberapa hal secara sosiologis.
“Lewat peran pencari nafkah, lewat kontribusi finansial mereka, hal-hal seperti membeli rumah, menjadi penanggung jawab dan pelindung. Bagi para pria muda di seluruh dunia, peluang-peluang tersebut tidaklah semudah itu," jelas Chung.
"Sehingga, mereka mungkin merasakan hilangnya peluang-peluang tersebut, dan mereka tidak diberikan konsep yang positif dan beragam mengenai maskulinitas," lanjut dia.
Data tersebut mengungkap kesenjangan antara apa yang orang-orang pikirkan secara pribadi mengenai peran gender di dalam rumah, dan apa yang mereka anggap diharapkan oleh masyarakat.
Di Inggris Raya, misalnya, hanya 14 persen individu yang secara pribadi merasa perempuan wajib memikul sebagian besar tanggung jawab untuk pengasuhan anak, tetapi 43 persen menyebut perempuan diharapkan menjadi pihak yang sebagian besar atau sepenuhnya bertanggung jawab.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang