Minum Jamu Tidak Lagi Kuno, Kini Digemari Anak Muda
Selama ini, konsumen jamu kerap didominasi kalangan dewasa hingga lanjut usia.
empon tersebut memang dikenal memiliki beragam manfaat bagi kesehatan, tapi tak jarang dihindari karena identik dengan rasa pahit.
Anggapan tersebut kini mulai bergeser. Jamu tak lagi dipandang sebagai minuman kuno, justru semakin banyak generasi muda yang menikmati jamu sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
"Ketika kita pertama kali buka Acaraki pada 2018, ekspektasi kami ya mungkin teman-teman yang sepuh yang bakal datang, tapi menariknya justru sebaliknya," ungkap pemilik sekaligus direktur PT Acaraki Nusantara Persada, Jony Yuwono.
"Anak-anak muda justru mengunjungi outlet kafe jamu kami," sambung Jony kepada awak media di sela peresmian Acaraki PIK 2, Rabu (4/2/2026).
Pelanggan muda tidak hanya datang di awal pembukaan kafe jamu kekinian. Sampai saat ini, kata Jony, masih banyak generasi muda yang menjadi penikmat jamu di Acaraki.
Pemilik sekaligus direktur PT Acaraki Nusantara Persada, Jony Yuwono, saat ditemui awak media di sela peresmian Acaraki PIK 2, Rabu (4/2/2026).
Berbeda dengan pelanggan berusia 40-60 tahun yang gemar minum jamu hangat, generasi muda lebih menikmati sajian jamu dingin.
Variasi menu jamu kekinian juga lebih digemari oleh kalangan muda. Jony mengatakan, pelanggan muda menyukai sajian jamu dengan campuran soda dan kondimen lainnya yang jarang ditemui di menu jamu pada umumnya.
"Sebelum pandemi, mereka pesan yang segar-segar. Mereka pesan yang Golden Sparkling, yang dengan soda atau enggak yang dengan es krim, tapi setelah pandemi, mereka mulai mencoba yang pure," ungkap Jony.
Kini, pelanggan muda juga menyukai jamu tanpa gula maupun campuran bahan lain, seperti soda dan es krim. Murni hanya jamu kunyit dan asam, beras kencur, maupun jahe.
Tren minum jamu seperti kopi
Layaknya kedai kopi yang terus bertumbuh di Indonesia, Jony berharap jamu juga bisa digemari oleh lebih banyak orang.
"Memang untuk disandingkan dengan kopi, kita masih kecil, pasti, mungkin. Namun, kami cukup yakin dengan tren wellness ke depannya, mungkin jamu bisa menjadi suatu alternatif minuman cafein free," kata Jony.
Sebab berdasarkan pengamatannya, hampir semua minuman yang dikenal di dunia, mulai dari kopi, teh, jus, hingga alkohol, pada awalnya dikonsumsi bukan sekedar untuk menikmati rasa, melainkan karena khasiatnya,
Jamu juga bisa mengikuti jejak ini. Bahkan, dengan varian yang lebih beragam dari puluhan ribu tanaman herbal di dunia.
Kafe jamu kekinian Acaraki membuka gerai terbarunya di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Tangerang, Banten.
Saat disinggung harga jamu kekinian yang relatif mahal dibandingkan jamu gendong atau kaki lima, Jony menekankan proses membuat jamu yang panjang.
Tanaman herbal tidak lantas diolah begitu saja menjadi jamu. Pemilihan pupuk organik, pengeringan, sampai penyeduhan jamu, juga menentukan kualitas minuman tradisional ini.
Ia juga tidak membatasi cara minum jamu bagi anak muda. Apa pun formatnya, khasiat jamu tetap bisa dinikmati oleh semua orang.
"Mau dijadikan dengan konsep open table, bartender jamu, atau bagaimana, yang penting adalah petani-petani rempah masih bisa tetap tersejahterakan," ujarnya.
Potensi ekonomi jamu di Indonesia
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, mengatakan terdapat sekitar 30.000 spesies tanaman herbal.
Indonesia, kata Taruna, memiliki sekitar 18.000 jenis jamu dan lebih dari 600.000 ragam kuliner tradisional.
Kekayaan Indonesia memiliki modal alam yang sangat besar untuk masuk ke pasar global.
Namun, peluang itu hanya bisa diwujudkan jika dikembangkan dengan pendekatan ilmiah dan kepatuhan regulatori.
"Potensi ekonomi (jamu) tidak main-main. Potensi ekonominya itu Rp 350 triliun setiap tahun," ungkap Taruna.
"Tetapi jamu-jamu kita, ditambah obat tradisional itu baru sekitar Rp 1 triliun setiap tahun yang dieksplorasi menjadi revenue, " sambung dia.
Melihat hal ini, BPOM mendorong penguatan pengawasan obat tradisional agar jamu Indonesia siap go international.
Standar global bukan untuk mengekang, melainkan untuk memastikan jamu Indonesia diterima dunia tanpa kehilangan identitas.
"Kita berharap kafe-kafe jangan hanya menyiapkan teh, kopi, tapi kafe-kafe di seluruh Nusantara juga bisa memproduksi dan menyajikan jamu," pungkas Taruna.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang