Sulit Bergaul, Gen Z Mengandalkan AI untuk Ngobrol dengan Teman
Menyusun teks percakapan yang menarik dan mengalir dengan orang lain, baik itu dengan orang yang ditaksir, rekan kerja, atau teman kampus, terkadang memang sulit.
Tak heran jika makin banyak orang muda yang beralih kepada kecerdasan buatan (AI) untuk menavigasi situasi sosial yang sedang dihadapi, termasuk untuk sekedar ngobrol dengan teman.
Para ahli memperingatkan bahwa kebiasaan ini dapat menghambat pertumbuhan emosional, membuat seseorang jadi semakin tidak siap menghadapi kerumitan hubungan antarmanusia.
Michael Robb, kepala riset di Common Sense Media, menyebut fenomena ini sebagai “social offloading”, yakni ketika seseorang menggunakan AI untuk membantu menavigasi situasi interpersonal.
Menurutnya, fenomena ini tidak hanya terjadi pada Generasi Z. Ia juga mengamati hal serupa pada Generasi Alpha (lahir antara 2010 hingga 2024) serta sebagian generasi milenial (lahir antara 1981 hingga 1996).
Sekitar sepertiga remaja bahkan sudah lebih memilih berbicara dengan pendamping berbasis AI dibandingkan manusia ketika membahas percakapan yang serius. Hal ini terungkap dalam survei tahun 2025 yang dilakukan oleh Common Sense Media, sebuah organisasi nirlaba yang membantu keluarga menavigasi pilihan media yang sesuai dengan usia.
“Kalau kamu menggunakan AI untuk menyusun pesan kepada teman atau pacar, pada dasarnya kamu sedang mengalihdayakan proses komunikasi itu sendiri,” ujar Robb.
AI membuat kemampuan sosial melemah
Ia menilai ada dua persoalan utama dari fenomena tersebut. Pertama, muncul ketidaksesuaian ekspektasi karena penerima pesan sebenarnya merespons versi teman mereka yang sudah “dipoles” oleh AI, bukan pribadi yang sesungguhnya.
Kedua, penggunaan berulang dapat mengikis kepercayaan diri seseorang terhadap suaranya sendiri. Hal ini berpotensi menghambat kaum muda dalam mengembangkan keterampilan penting, seperti membaca maksud sosial, memahami emosi orang lain, serta menghadapi ketidakpastian dalam interaksi sosial.
“Hal ini berdampak pada rasa percaya diri, advokasi, dan pembentukan identitas kita, yang merupakan inti dari perkembangan sosial, kata Robb.
“Jika setiap teks yang rumit dimediasi oleh AI, hal itu dapat menanamkan keyakinan pada pengguna bahwa kata-kata dan insting mereka sendiri tidak pernah cukup baik,” lanjutnya.
Dr. Michelle DiBlasi, seorang psikiater dan asisten profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Tufts, mengamati tren yang sama.
“Saya telah melihat anak muda, usia akhir belasan, awal dua puluhan, menggunakan AI untuk bersosialisasi, dan seringkali mereka menggunakannya sebagai cara untuk mengimbangi fakta bahwa mereka sebenarnya tidak tahu bagaimana berinteraksi dengan orang lain,” katanya.
DiBlasi mengatakan bahwa penggunaan AI dalam interaksi sosial menghambat pertumbuhan emosional dan dapat melanggengkan perasaan kesepian dan isolasi.
Hal ini juga dapat membatasi kemampuan orang untuk memahami isyarat sosial, memperbaiki hubungan, dan terhubung dengan orang lain.
Mengapa Gen Z kesulitan bergaul
Russell Fulmer, seorang profesor di Universitas Negeri Kansas yang mempelajari AI dan ilmu perilaku, mengatakan bahwa kombinasi budaya digital dan efek pandemi telah menciptakan "badai sempurna" bagi AI untuk diintegrasikan ke dalam interaksi sosial.
Masa remaja, menurut WHO kira-kira usia 10 hingga 19 tahun, adalah jendela kritis untuk mengembangkan kepercayaan diri, rasa identitas yang stabil, dan pengaturan emosi.
Jika remaja tidak sepenuhnya mengembangkan keterampilan sosial mereka selama waktu ini, mereka cenderung kurang percaya diri, mungkin melarikan diri atau menghindar, dan resiliensinya rendah.
DiBlasi mengatakan pandemi menghantam Generasi Z pada saat yang periode rentan.
“Ketika itu terjadi, mereka berada pada tahap di mana lobus frontal otak mereka mulai terbentuk,” katanya.
Biasanya, saat itulah remaja belajar membangun hubungan, memahami isyarat sosial, dan mengembangkan mentalisasi atau kemampuan untuk memahami keadaan mental orang lain atau apa yang mereka pikirkan dan bagaimana perasaan mereka.
Kurangnya interaksi ini menyebabkan “rasa isolasi yang mendalam, merasa bahwa orang lain tidak memahami mereka, atau bahwa mereka tidak memahami orang lain,” yang mendorong banyak orang beralih ke AI untuk mendapatkan teman.
Belum terlambat untuk mengubah arah
DiBlasi menekankan bahwa belum terlambat bagi mereka untuk belajar. Dia mendorong orang-orang muda untuk bertanya pada teman dan keluarga daripada AI ketika mereka kesulitan mengungkapkan emosi yang sulit.
“Hal-hal ini adalah keterampilan yang, dengan latihan, sebenarnya dapat ditingkatkan,” kata DiBlasi.
Kecerdasan buatan adalah pengganti yang buruk untuk sebuah kekacauan dalam interaksi manusia yang sebenarnya, kata para ahli, dan kekacauan itulah intinya.
“Hubungan dan percakapan memang bisa terasa berantakan, dan mungkin memang seharusnya begitu. Justru dari situ seseorang belajar menjadi lebih kompeten secara sosial dalam jangka panjang,” ujar Michael Robb.
Ia menambahkan bahwa pendamping berbasis AI pada umumnya dirancang untuk sangat memvalidasi dan mudah menyetujui pengguna.
Karena itu, umpan balik yang diberikan AI tidak mencerminkan gesekan atau dinamika yang biasanya muncul dalam hubungan nyata, yang sebenarnya merupakan bagian penting dari cara orang saling merespons dalam interaksi sosial.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang