Sering Dianggap Cinta Padahal Toksik, Psikiater Jelaskan Ciri Hubungan Sehat untuk Gen Z

Generasi Z, hubungan toksik, Sering Dianggap Cinta Padahal Toksik, Psikiater Jelaskan Ciri Hubungan Sehat untuk Gen Z

Kasus hubungan toksik yang berujung pada kekerasan hingga cedera pada generasi muda menunjukkan banyak anak belum memahami batasan dalam hubungan.

Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menilai kondisi ini berkaitan dengan kurangnya panduan dan role model dalam membangun relasi yang sehat.

Ia menegaskan bahwa kemampuan menjalin hubungan perlu dipelajari agar anak muda tidak terjebak dalam relasi yang merugikan.

“Relasi yang sehat bukan tentang seberapa sering bersama menghabiskan waktu dengan senang gembira, tetapi seberapa aman, bertumbuh, dan dihargai dalam menjalankannya,” ujarnya dalam keterangan yang diterima Minggu (1/3/2026).

Tantangan relasi Gen Z di era digital

Generasi Z tumbuh di era digital ketika relasi sering dimulai lewat direct message, story, dan notifikasi yang terasa cepat dan instan.

Kedekatan bisa terbentuk dengan mudah, tetapi kedalaman hubungan secara emosional belum tentu kuat.

Tekanan sosial, fear of missing out (FOMO), dan budaya validasi di media sosial membuat sebagian anak muda sulit membedakan hubungan yang sehat dan hubungan yang melelahkan secara emosional.

Banyak anak muda akhirnya terikat dalam relasi toksik tanpa menyadari tanda-tandanya sejak awal. Validasi digital sering membuat hubungan terasa harus terlihat sempurna di hadapan publik.

Tekanan untuk tampil harmonis bisa menggeser fokus dari kualitas hubungan yang sebenarnya.

Komunikasi lewat pesan singkat juga sering memicu salah paham. Salah menafsirkan tanda baca, status terakhir dilihat, atau pesan yang belum dibalas bisa memicu konflik yang tidak perlu.

Fear of abandonment atau rasa takut ditinggalkan membuat sebagian anak muda rela mengorbankan nilai hidup yang dimiliki.

Paparan hubungan toksik di media sosial juga bisa membuat drama dianggap sebagai tanda cinta.

Lahargo menilai Gen Z cukup ekspresif secara emosional, tetapi belum semuanya memiliki keterampilan mengatur emosi dengan baik sehingga hubungan menjadi lebih rentan terhadap konflik yang tidak sehat.

Ciri hubungan sehat pada anak muda

Generasi Z, hubungan toksik, Sering Dianggap Cinta Padahal Toksik, Psikiater Jelaskan Ciri Hubungan Sehat untuk Gen Z

Ilustrasi pasangan. Banyak anak muda sulit membedakan cinta dan hubungan yang melelahkan, psikiater menjelaskan tanda relasi sehat agar Gen Z tidak terjebak hubungan toksik.a

Hubungan yang sehat memiliki batasan yang jelas dan saling dihargai. Dalam relasi yang matang, tidak ada paksaan membuka kata sandi pribadi dan tidak ada tekanan untuk selalu online.

Manipulasi emosional seperti kalimat “kalau kamu sayang, kamu harus…” juga tidak terjadi dalam hubungan yang sehat.

“Boundaries bukan tanda tidak cinta, justru itu adalah tanda cinta yang matang,” jelas dr. Lahargo.

Hubungan yang sehat membuat seseorang bisa menjadi dirinya sendiri tanpa rasa takut.

Seseorang merasa aman menyampaikan pendapat dan tidak perlu berpura-pura agar diterima. Perasaan harus terus menyesuaikan diri agar tidak ditinggalkan bisa menjadi tanda hubungan mulai tidak sehat.

Konflik dalam hubungan adalah hal yang wajar. Dalam relasi sehat, masalah dibicarakan dengan tenang dan tidak diselesaikan dengan ancaman putus atau kekerasan verbal, fisik, maupun seksual.

“Konflik itu wajar. Yang menentukan kualitas hubungan adalah cara menyelesaikannya,” kata dr. Lahargo.

Hubungan yang sehat juga tidak dipenuhi ketergantungan emosional yang berlebihan.

“Cinta bukan tentang: ‘Aku nggak bisa hidup tanpa kamu.’ Cinta yang sehat lebih seperti: ‘Aku memilih bersamamu, karena itu keinginanku dan itu membuatku lebih baik’,” ujarnya.

Ketergantungan emosional ekstrem sering menjadi awal sikap posesif dan perilaku mengontrol.

Peran orangtua dalam membentuk relasi sehat

Relasi anak tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi dibentuk dari pola komunikasi di keluarga. Anak belajar dari cara orangtua menyelesaikan konflik dan saling menghargai.

Anak yang tumbuh dengan komunikasi yang sehat cenderung mencari hubungan yang sehat saat dewasa.

Komunikasi terbuka membuat anak berani bercerita ketika menghadapi masalah dalam hubungannya.

Orangtua perlu mendengar tanpa menghakimi dan menguatkan tanpa meremehkan.

Lahargo mencontohkan bahwa kalimat seperti “Ayah lihat kamu sedih. Mau cerita?” lebih membantu dibanding sekadar mengatakan “Jangan baper.”

Validasi emosi membantu anak membangun ketahanan mental. Konsep harga diri juga perlu ditanamkan sejak dini agar anak tidak bertahan dalam hubungan yang abusif dan tidak mencari cinta untuk mengisi kekosongan.

“Keterampilan relasi itu sama pentingnya dengan keterampilan akademikmu. Pelajarilah dan jalani sebaik mungkin,” pesan dr. Lahargo.

“Rumah adalah sekolah pertama tentang cinta dan relasi. Ajarilah sebaik mungkin agar anak muda tidak tersesat di masa depan,” ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang