Kupas Tuntas Mekanisme Pasar Valas: Alasan Dolar AS Bisa Naik dan Turun terhadap Rupiah
Saat nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, banyak orang bertanya-tanya: mengapa harga dolar bisa terus berubah setiap hari? Bahkan dalam satu hari perdagangan, kurs bisa bergerak naik dan turun beberapa kali.
Ilustrasi rupiah dan dolar AS.
Dirangkum VIVA Kamis, 4 Juni 2026, jawabannya sebenarnya berakar pada prinsip ekonomi paling dasar, yakni hukum permintaan dan penawaran. Sama seperti harga cabai, emas, atau saham, nilai dolar AS juga ditentukan oleh seberapa besar permintaan dan penawaran di pasar valuta asing (valas). Namun, faktor yang memengaruhinya jauh lebih kompleks karena melibatkan ekonomi global.
Dolar Menguat Saat Permintaan Lebih Besar
Dalam pasar valas, dolar AS merupakan mata uang yang paling banyak diperdagangkan di dunia. Menurut Bank for International Settlements (BIS), transaksi pasar valuta asing global mencapai sekitar US$7,5 triliun per hari.
Ketika permintaan terhadap dolar meningkat sementara pasokannya relatif tetap, harga dolar akan naik terhadap mata uang lain, termasuk rupiah. Sebaliknya, jika permintaan menurun atau investor mulai menjual dolar, nilainya dapat melemah.
Pengaruh Besar Kebijakan The Fed
Salah satu faktor paling berpengaruh terhadap pergerakan dolar adalah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed.
Ketika The Fed menaikkan suku bunga, obligasi dan instrumen keuangan AS menjadi lebih menarik karena menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi. Investor global kemudian membeli aset-aset tersebut dan membutuhkan dolar untuk melakukannya.
Akibatnya, permintaan terhadap dolar meningkat dan mata uang AS cenderung menguat. Sebaliknya, ketika The Fed memangkas suku bunga, sebagian modal global dapat berpindah ke negara lain yang menawarkan imbal hasil lebih menarik sehingga dolar berpotensi melemah.
Ekspor dan Impor Ikut Menentukan
ilustrasi impor.
Perdagangan internasional juga memengaruhi nilai tukar.
Ketika suatu negara banyak mengekspor barang ke Amerika Serikat, pembeli luar negeri membutuhkan mata uang negara tersebut untuk membayar barang yang dibeli. Hal ini dapat meningkatkan permintaan terhadap mata uang negara eksportir.
Sebaliknya, jika impor jauh lebih besar daripada ekspor, kebutuhan terhadap mata uang asing akan meningkat sehingga memberikan tekanan pada mata uang domestik. IMF menjelaskan bahwa kondisi neraca perdagangan dan arus transaksi internasional merupakan salah satu faktor fundamental yang memengaruhi pergerakan kurs dalam jangka panjang.
Sentimen Investor Bisa Mengubah Arah Pasar
Selain faktor ekonomi riil, sentimen investor juga memainkan peran besar.
Saat kondisi global penuh ketidakpastian, seperti krisis keuangan, konflik geopolitik, atau ancaman resesi, investor biasanya mencari aset yang dianggap aman. Fenomena ini dikenal sebagai "flight to quality" atau perpindahan modal ke aset aman.
Karena dolar AS dianggap sebagai salah satu aset safe haven dunia, permintaannya sering meningkat saat pasar global bergejolak. Akibatnya, dolar menguat sementara mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, sering mengalami tekanan.
Sebaliknya, ketika ekonomi global membaik dan investor lebih berani mengambil risiko, modal sering mengalir ke pasar negara berkembang yang menawarkan potensi keuntungan lebih tinggi. Kondisi ini dapat membantu memperkuat mata uang negara berkembang dan mengurangi dominasi dolar.
Arus Modal Global Lebih Kuat daripada Perdagangan
Banyak orang mengira nilai tukar hanya ditentukan oleh ekspor dan impor. Faktanya, para ekonom menilai arus modal internasional sering kali memiliki pengaruh yang lebih besar.
Ketika dana investasi asing masuk ke pasar saham atau obligasi suatu negara, permintaan terhadap mata uang negara tersebut ikut meningkat. Sebaliknya, jika investor menarik dananya secara besar-besaran, mata uang lokal dapat tertekan meskipun kinerja ekspor masih baik.
Inilah sebabnya mengapa komentar pejabat bank sentral, data inflasi AS, atau keputusan suku bunga The Fed sering kali mampu menggerakkan kurs dalam hitungan menit.
Tidak Ada Mata Uang yang Selalu Kuat
Para ahli di CFA Institute menegaskan bahwa nilai tukar pada dasarnya selalu bergerak mencari titik keseimbangan baru berdasarkan kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, arus modal, dan ekspektasi pasar.
Artinya, tidak ada mata uang yang akan terus menguat selamanya atau melemah tanpa batas. Nilai tukar merupakan cerminan dari bagaimana pelaku pasar global menilai prospek ekonomi suatu negara dibanding negara lain.
Ilustrasi Mata Uang Dunia
Bagi masyarakat, memahami mekanisme ini penting agar tidak melihat pergerakan dolar semata-mata sebagai hasil spekulasi. Di balik naik turunnya kurs terdapat kombinasi faktor ekonomi global, kebijakan bank sentral, perdagangan internasional, dan psikologi investor yang saling memengaruhi setiap hari.