Bikin Geram! Kain Kiswah Ka’bah Dijual ke Pelaku Kejahatan Seksual Jeffrey Epstein
Departemen Kehakiman (DOJ) Amerika Serikat kembali merilis dokumen terbaru terkait pelaku kejahaatan seksual, Jeffrey Epstein. 3 juta dokumen terbaru yang dirilis pada Jumat 30 Januari 2026 lalu, itu berisi korespondensi email antara Epstein dan sejumlah tokoh terkenal.
Tak hanya itu saja, dokumen tersebut juga dilengkapi dengan 180 ribu gambar dan 2 ribu video itu memuat berbagai informasi, mulai dari masa Epstein di penjara termasuk laporan psikologis hingga kematiannya saat menjalani tahanan. Selain itu, ada pula catatan penyelidikan terhadap Ghislaine Maxwell, rekan Epstein yang divonis bersalah karena membantu memperdagangkan anak perempuan di bawah umur.
Dokumen terbaru yang dirilis DOJ itu juga mengungkap adanya rangkaian email yang merinci pengiriman kain Kiswah dari Ka’bah di Mekkah ke Amerika Serikat. Pengiriman tersebut diatur melalui jaringan kotak yang terkait dengan Uni Emirat Arab dan diterima oleh Jeffrey Epstein, terpidana pelaku kejahatan pedofilia.
Korespondensi yang bertanggal Februari dan Maret 2017 itu menunjukkan seorang pebisnis asal Uni Emirat Arab bernama Aziza al-Ahmadi bekerja sama dengan seorang pria bernama Abdullah al-Maari untuk mengatur pengiriman tiga potong kain yang berkaitan dengan Kiswah. Kiswah merupakan kain hitam bersulam emas yang menutupi Ka’bah, pusat situs paling suci dalam agama Islam di Arab Saudi.
Kiswah memiliki makna religius yang sangat mendalam bagi umat Muslim di seluruh dunia. Setiap tahun, kain ini dilepas dari Ka’bah dan diganti dengan yang baru, sementara bagian dari Kiswah lama diperlakukan sebagai artefak bernilai tinggi.
Melansir laman Middle East Eye, Selasa 3 Februari 2026, email-email tersebut menunjukkan bahwa kain-kain itu dikirim melalui kargo udara dari Arab Saudi ke Florida menggunakan British Airways. Prosesnya melibatkan koordinasi yang cukup rinci, mulai dari penagihan biaya, pengurusan bea cukai, hingga pengantaran di dalam wilayah Amerika Serikat.
Dalam pesan-pesan itu dijelaskan bahwa ada tiga potong kain yang dikirim. Satu potongan berasal dari bagian dalam Ka’bah, satu dari penutup luar yang pernah digunakan, dan satu lagi dibuat dari bahan yang sama tetapi belum pernah dipakai. Potongan yang tidak digunakan itu disebut-sebut sebagai cara untuk mengklasifikasikan kiriman tersebut sebagai karya seni.
Pengiriman tersebut tiba di kediaman Epstein pada Maret 2017, jauh setelah ia menyelesaikan masa hukuman penjara dan terdaftar sebagai pelaku kejahatan seksual.
Dalam salah satu email, Ahmadi menekankan makna religius kain tersebut saat berbicara langsung kepada Epstein.
“Potongan kain hitam ini telah disentuh oleh sedikitnya 10 juta Muslim dari berbagai mazhab Sunni, Syiah, dan lainnya. Mereka mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali, lalu masing-masing berusaha semampu mereka untuk menyentuhnya, sambil menitipkan doa, harapan, air mata, dan cita-cita mereka pada kain ini, dengan harapan semua doa mereka akan dikabulkan,” tulis Ahmadi.
Namun, korespondensi tersebut tidak menjelaskan bagaimana Ahmadi mengenal Epstein atau alasan mengapa potongan-potongan kain suci itu dikirim kepadanya.
Dalam rangkaian email lainnya, Ahmadi menanyakan kondisi Epstein setelah Badai Irma menghantam kawasan Karibia pada September 2017 yang menyebabkan kerusakan parah di pulau pribadinya. Selama beberapa hari, Ahmadi berulang kali menghubungi sekretaris Epstein untuk menanyakan keadaannya di pulau tersebut.
“Semua orang selamat dan itu yang paling penting… beberapa bangunan rusak… pepohonan tumbang… dermaga dan paviliun hilang… jalan tidak bisa dilalui… ada kerusakan di luar, tapi bagian dalam baik-baik saja… semuanya berantakan, tapi bisa dibangun kembali! Terima kasih sudah menanyakan,” tulis sang sekretaris.
Ahmadi membalas dengan nada bercanda, “Janji akan kirim tenda baru ;)”.
Email-email itu tidak menunjukkan apakah Ahmadi pernah mengunjungi pulau Epstein atau memahami sepenuhnya apa yang sebenarnya terjadi di sana.
Pulau tersebut, yang dikenal dengan nama Little Saint James diketahui digunakan sebagai basis operasi jaringan perdagangan seks Epstein.
Dalam pesan lainnya, asisten lama Epstein, Lesley Groff, mengirimkan sebuah alat uji DNA kepada Ahmadi, meski tidak dijelaskan untuk keperluan apa.
Dalam korespondensi tersebut, Epstein sendiri jarang berkomunikasi langsung dengan Ahmadi. Dalam satu email, Ahmadi bertanya kepada Groff/
“Bolehkah saya mampir ke rumah Jeffrey hari ini sebelum meninggalkan New York City? Sekadar mengucapkan selamat tinggal dan ulang tahun. Saya hanya perlu sekitar 15 menit,” tulis sang pengusaha Timur Tengah itu.
Secara terpisah, sebuah memo FBI yang dirilis pada Jumat malam menyebutkan bahwa Epstein bekerja sama dengan intelijen Amerika Serikat dan Israel.
“Epstein memiliki hubungan dekat dengan mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, dan dilatih sebagai mata-mata di bawah bimbingannya,” demikian isi memo tersebut.