Jeffrey Epstein Mata-Mata Israel?
Hubungan antara Jeffrey Epstein dengan Israel kini menjadi sorotan setelah Departemen Kehakiman AS merilis jutaan dokumen terkait kasus kejahatan seksual yang menjerat namanya. Dokumen-dokumen yang dirilis akhir Januari lalu itu mengungkap lebih banyak detail mengenai interaksi Epstein dengan tokoh-tokoh elite dunia, termasuk mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak.
Tak hanya itu, dokumen tersebut juga mencatat aliran dana Epstein ke sejumlah organisasi yang berafiliasi dengan Israel, seperti Friends of the Israeli Defence Forces (FIDF) dan organisasi pemukim Jewish National Fund (JNF), serta kedekatannya dengan individu-individu yang memiliki hubungan dengan badan intelijen luar negeri Israel.
Sepuluh hari setelah Departemen Kehakiman AS terakhir kali merilis jutaan dokumen terkait Epstein dan lebih dari sepuluh tahun sejak kematiannya saat berada dalam tahanan di Amerika Serikat detail hubungan Epstein dengan kalangan elite global masih terus mendominasi pemberitaan dunia.
Bahkan belakangan ini, disebut Epstein sebagai mata-mata Israel, benarkah demikian? Melansir laman Al Jazeerah, Selasa 10 Februari 2026 meski dokumen-dokumen tersebut memperkuat keyakinan sebagian pihak bahwa Epstein merupakan aset intelijen Israel, hal tersebut belum dapat dipastikan sepenuhnya.
Sebuah memo FBI yang disusun oleh kantor FBI wilayah Los Angeles pada Oktober 2020 menyebutkan bahwa salah satu sumber mereka meyakini Epstein telah direkrut sebagai agen Mossad. Dalam dokumen tersebut, Epstein digambarkan sebagai seseorang yang dilatih sebagai mata-mata untuk badan intelijen Israel.
Korespondensi email Epstein juga menunjukkan bahwa ia memiliki komunikasi intens dengan Yoni Koren, penasihat senior Ehud Barak sekaligus tokoh intelijen militer Israel. Koren diketahui kerap menginap di kediaman Epstein di New York. Email-email tersebut juga mengindikasikan bahwa Epstein diduga menanggung biaya pengobatan kanker Koren pada 2012.
Jejak hubungan Epstein dengan Israel sebenarnya sudah ada jauh sebelum itu. Robert Maxwell, taipan media asal Inggris yang juga ayah dari mantan kekasih Epstein, Ghislaine Maxwell, sejak lama dirumorkan memiliki keterkaitan dengan intelijen Israel.
Maxwell diketahui menanamkan dana besar ke perekonomian Israel dan meninggal secara misterius pada 1991 setelah dilaporkan jatuh dari kapal pesiarnya. Kematian itu terjadi setelah ia terungkap menggelapkan jutaan dolar dari dana pensiun perusahaannya.
Epstein sendiri tampaknya mencurigai adanya peran Mossad dalam kematian Maxwell. Dalam sebuah email yang dikirimnya pada 2018 dengan subjek “he was passed away”, Epstein menyinggung kematian Maxwell.
Dalam pesan tersebut, Epstein mengklaim bahwa Maxwell sebelumnya pernah mengancam intelijen Israel dengan mengatakan bahwa jika mereka (Mossad) tidak memberinya 400 juta euro untuk menyelamatkan kerajaan bisnisnya yang runtuh, ia akan membongkar semua hal yang telah ia lakukan untuk mereka.
Epstein juga menuding Maxwell bertindak sebagai operator informal yang mengumpulkan informasi tentang Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Soviet.
Apakah Epstein Menarik bagi Badan Intelijen?
Sebagai seorang finansier internasional dengan jaringan luas di kalangan elite global, sekaligus memiliki informasi sensitif yang berpotensi menjatuhkan banyak pihak, Epstein dinilai sebagai sosok yang sangat menarik bagi badan-badan intelijen.
“Sulit membayangkan Epstein tidak pernah didekati Mossad. Kasusnya mirip dengan Ashraf Marwan. Meski ia tidak lagi dibutuhkan untuk memata-matai Mesir karena kedua negara sudah berdamai, Mossad kembali menjalin kontak dengannya untuk membuka berbagai pintu,” ujar dosen di King’s Collage London, Ahron Bregman.
Namun asumsi ini ditepis oleh Dershowitz. Dershowitz sendiri tokoh kontroversial yang dikenal vokal mendukung Israel. Ia menyatakan bahwa tidak ada badan intelijen yang benar-benar akan mempercayai Epstein. Dershowitz menambahkan, jika Epstein memang agen intelijen, maka ia pasti sudah memberi tahu pengacaranya, yakni dirinya sendiri.
Perdana Menteri Israel saat ini, Benjamin Netanyahu, juga menepis klaim bahwa Epstein adalah agen Mossad. Melalui Twitter, Netanyahu menuliskan kalau hubungan dekat Jeffrey Epstein dengan Ehud Barak tidak menunjukkan bahwa Epstein bekerja untuk Israel. Justru sebaliknya.
Sumber lain, termasuk Christopher Steele mantan kepala divisi Rusia badan intelijen Inggris MI6 menyebutkan bahwa sangat mungkin Epstein justru direkrut oleh jaringan kejahatan terorganisasi Rusia. Di sisi lain, pemerintah Polandia juga telah membuka penyelidikan terkait dugaan hubungan Epstein dengan intelijen negara Rusia.
Hubungan Epstein dengan Organisasi Terkait Israel
Melalui yayasannya, COUQ Foundation, Epstein tercatat pernah menyalurkan dana ke Friends of the Israeli Defence Forces (FIDF) dan Jewish National Fund (JNF). Pada 2006, ia menyumbangkan 25.000 dolar AS kepada FIDF dan 15.000 dolar AS kepada JNF.
Berdasarkan situs resminya, FIDF menggalang dana untuk mendukung berbagai program bagi tentara Israel. Organisasi ini juga mengajak para donatur untuk mengadopsi brigade atau batalion militer, termasuk Batalion Netzah Yehuda ke-97, yang kerap dituding terlibat dalam pembunuhan warga sipil tak bersenjata, kematian tahanan, penyiksaan, serta perlakuan tidak manusiawi.
Sementara itu, JNF juga menuai kritik karena dinilai secara historis lebih mengutamakan warga Yahudi dalam kepemilikan lahan di Israel, sekaligus membatasi akses warga Palestina dengan dalih pelestarian lingkungan.
Para aktivis menuding JNF berkontribusi terhadap pengusiran komunitas Palestina melalui proyek penghijauan yang dibangun di atas desa-desa yang telah dikosongkan. Dugaan dukungan JNF terhadap aktivitas permukiman di Tepi Barat yang diduduki khususnya di kawasan Gush Etzion bahkan memicu seruan di sejumlah negara agar status amal organisasi tersebut dicabut. Selain itu, JNF juga dikritik atas praktik lingkungan yang dianggap merusak ekosistem setempat.