Pelaku Usaha Dukung Rencana Prabowo Bentuk BUMN Tekstil

CEO Sinergi Adv. Nusantara, H. Prama Tirta dan Grind Boys
CEO Sinergi Adv. Nusantara, H. Prama Tirta dan Grind Boys

Sebagian pelaku usaha tekstil dan konveksi di Tanah Air mulai menyatakan dukungannya pada rencana pemerintah, yang dikabarkan akan membentuk BUMN Tekstil.

Chief Executive Officer (CEO) Sinergi Adv. Nusantara, H. Prama Tirta mengatakan, dukungannya pada rencana pemerintah untuk membentuk BUMN Tekstil itu, karena menurutnya hal itu akan membuat industri tekstil nasional berjaya serta menciptakan banyak lapangan pekerjaan.

"Kami mendukung Presiden Prabowo Subianto yang akan mendirikan BUMN Tekstil," kata Prama dalam keterangannya, dikutip Senin, 26 Januari 2026.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto

"Semoga itu bisa mendongkrak atau menunjang UMKM agar lebih maju lagi, karena itu sangat dibutuhkan untuk menciptakan lapangan kerja. Sebab saat ini kita butuh jutaan lowongan kerja (loker)," ujarnya.

Hal senada juga diutarakan oleh Gofar Hilman dari Grinds Boys, yang diketahui juga memiliki usaha clothing baju dengan jenama Sekut.

“Semoga Pak Prabowo akan membentuk BUMN Tekstil, karena hal itu akan bermanfaat buat UMKM,” ujarnya.

Diketahui, sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan, pemerintah akan membentuk badan usaha milik negara (BUMN) baru khusus sektor tekstil.

Rencana tersebut merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto saat rapat di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, 11 Januari 2026 lalu. Alasannya, industri tekstil dan garmen dinilai menjadi garda terdepan dalam menghadapi risiko kebijakan tarif AS.

“Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali, sehingga pendanaan 6 miliar (dolar AS) nanti akan disiapkan oleh Danantara,” kata Airlangga.

Dia menerangkan, dari hasil studi yang telah rampung, rencana itu bakal dilanjutkan dengan penyusunan peta jalan (roadmap) penguatan industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Guna mendukung kebijakan tersebut, Pemerintah menyiapkan pendanaan sebesar US$6 miliar melalui BPI Danantara.

Dana tersebut diarahkan untuk pengadaan barang modal, penerapan teknologi baru, hingga peningkatan ekspor di sektor tekstil.

“Oleh karena itu sudah dibuat roadmap bagaimana meningkatkan ekspor kita yang dari 4 miliar (dolar AS), bisa naik ke 40 miliar (dolar AS) dalam 10 tahun l, dan bagaimana pendalaman dari value chain daripada industri tekstil,” ujarnya.

Airlangga mengakui, saat ini masih ada kelemahan pada rantai nilai (value chain) tekstil, terutama pada produksi benang, kain, dyeing, printing, dan finishing. Sehingga dengan adanya pembentukan BUMN tekstil baru, maka diharapkan hal itu bisa mendorong modernisasi dan pendalaman industri di sektor tersebut.