Sebelum Meninggal, Lula Lahfah Sempat Jalani Operasi Batu Ginjal-Asam Lambung, Kenali Gejala Utama Batu Ginjal
Pihak Polda Metro Jaya mengungkap fakta terbaru menyangkut kasus kematian selebgram Lula Lahfah pada 23 Januari lalu. Polisi mengungkap sebelum ditemukan meninggal dunia di apartemennya di kawasan Jakarta Selatan, ternyata Lula Lahfah sempat menjalani operasi batu ginjal dan asam lambung.
”Korban almarhum itu habis operasi batu ginjal ya, tanggalnya lagi dicek ke RSPI. Habis operasi batu ginjal sama asam lambung akut,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, Senin 26 Januari 2026.
Budi melanjutkan, penyidik masih berkoordinasi dengan pihak medis guna memperjelas kondisi kesehatan Lula sebelum meninggal dunia. Sejumlah dokumen medis termasuk surat konsultasi dan riwayat pengobatan korban kini tengah dikaji oleh penyidik.
”Nanti pastinya kan itu ada surat konsultasi berobat ke dokter. Itu yang lagi didalami oleh pihak Polres Jaksel dan Polsek Kebayoran Baru,” kata dia.
Kasus meninggalnya Lula Lahfah yang disebut memiliki riwayat operasi batu ginjal menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap penyakit ini. Lantas, gejala apa saja yang perlu diperhatikan agar batu ginjal dapat dikenali sejak dini?
Melansir laman mass general Brigham, batu ginjal membutuhkan waktu lama untuk terbentuk. Namun begitu, batu tersebut tersangkut di saluran kemih, rasa sakitnya bisa muncul tiba-tiba dan sangat menyiksa.
Dokter spesialis ginjal alias Nefrolog, sekalius kepala divisi Nefrologi di Newton-Wellesley Hospital, Dr. Walter P. Mutter menjelaskan bahwa jika batu ginjal yang cukup parah dibiarkan tanpa pengobatan, kondisi ini bisa memicu infeksi ginjal bahkan mengancam fungsi ginjal.
Multer menjelaskan batu ginjal terbentuk di sistem saluran kemih. Biasanya berkembang di dalam ginjal dan kadang di kandung kemih.
”Batu ini berasal dari zat alami dalam urine yang mengkristal dan menumpuk lapis demi lapis selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun,” kata dia.
Ukuran batu ginjal bisa sangat bervariasi. Ada yang sekecil butiran garam dan bisa keluar lewat urine tanpa disadari. Ada juga yang lebih besar, seperti biji apel atau kacang polong. Dalam kasus yang jarang, ukurannya bahkan bisa sebesar bola golf. Batu yang lebih besar lebih berisiko tersangkut dan menimbulkan masalah di saluran kemih.
Apa saja gejala umum batu ginjal?
Mutter menjelaskan biasanya batu ginjal tidak menimbulkan gejala apa pun. Namun, saat batu tersebut bergerak, barulah muncul rasa nyeri dan tidak nyaman. Inilah yang sering disebut sebagai proses ‘mengeluarkan batu ginjal’.
Anda mungkin sedang mengalami batu ginjal jika merasakan gejala berikut:
- Nyeri tajam di punggung, sisi tubuh, perut bagian bawah, atau selangkangan
- Mual dan muntah
- Urine bercampur darah
- Nyeri saat buang air kecil
- Sulit buang air kecil atau hanya bisa keluar sedikit
- Urine tampak keruh atau berbau tidak sedap
- Demam
- Menggigil
Gejala batu ginjal bisa sangat berat. Jika Anda merasa mengalami nyeri yang diduga terkait batu ginjal, segera cari pertolongan medis. Hubungi dokter umum atau dokter keluarga terlebih dahulu. Jika tidak memiliki dokter tetap atau tidak ada jadwal yang tersedia, sebaiknya segera ke layanan gawat darurat atau klinik darurat.
Penyebab batu ginjal?
Pada kebanyakan pasien, kata Mutter sebenarnya para dokter tidak tahu pasti apa penyebab batu ginjal. Namun dalam beberapa kasus, para dokter bisa menemukan kondisi medis tertentu yang membuat seseorang lebih berisiko mengalami batu ginjal. Jika begitu, sangat penting dilakukan pemeriksaan metabolik secara menyeluruh untuk mencari faktor pemicu pada pasien tersebut.
Pemeriksaan lanjutan biasanya meliputi riwayat kesehatan, daftar obat yang dikonsumsi, serta tes laboratorium. Bisa juga dilakukan pemeriksaan urine 24 jam, yaitu mengumpulkan urine selama satu hari penuh untuk dianalisis guna melihat zat-zat yang dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu ginjal.
Faktor risiko batu ginjal
Meski penyebab pastinya belum sepenuhnya diketahui, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena batu ginjal, antara lain:
- Ras dan jenis kelamin — pria kulit putih memiliki risiko lebih tinggi
- Saluran kemih tersumbat, riwayat infeksi atau penyakit saluran kemih, gangguan hormon atau kalsium, serta beberapa penyakit usus
- Riwayat batu ginjal dalam keluarga
- Kurang minum atau dehidrasi
- Pola makan tinggi protein atau sering mengonsumsi makanan tinggi oksalat seperti bayam, almond, rhubarb, dan miso
- Obesitas
- Penggunaan obat-obatan dan suplemen tertentu
Pengobatan batu ginjal
Rencana pengobatan batu ginjal disesuaikan dengan kondisi, gaya hidup, dan faktor risiko masing-masing orang. Tenaga medis akan memberikan strategi untuk menurunkan kemungkinan batu ginjal muncul kembali di masa depan, seperti perubahan pola makan atau pengaturan obat.
“Jika batu ginjal perlu diangkat, ada banyak pilihan tindakan yang bisa dilakukan. Pasien akan bekerja sama dengan dokter urologi untuk membahas risiko dan manfaat dari setiap metode,” kata dia.
1. Ureteroskopi
Dokter akan memasukkan alat khusus (scope) ke dalam saluran kemih untuk mengambil batu ginjal secara langsung, jelas Mutter.
”Terkadang dipasang selang kecil (stent) agar aliran urine tetap lancar setelah batu diangkat,”katanya.
2. Shockwave lithotripsy
Ini adalah prosedur non-invasif yang menggunakan gelombang suara untuk memecah batu menjadi bagian-bagian kecil, sehingga bisa keluar bersama urine secara alami, jelas Mutter. Metode ini biasanya digunakan untuk batu ginjal yang tidak menimbulkan gejala.