Fakta Seputar Kolonoskopi, Prosedur Kesehatan yang Dijalani Lula Lahfah Sebelum Meninggal Dunia
Kabar meninggalnya selebgram Lula Lahfah tengah menjadi sorotan hangat pengguna media sosial. Lula Lahfah meninggal dunia pada 23 Januari 2026 lalu di apartemennya.
Sebelum ditemukan tak bernyawa di apartemennya di Kawasan Jakarta Selatan, Lula ternyata tengah berjuang melawan kondisi kesehatan yang cukup serius. Salah satu masalah yang dialaminya adalah pembengkakan usus hingga harus menjalani prosedur kolonoskopi.
“Nu gw takut. Usus gw masih bengkak penebalan. Terus gw harus colonoscopy di teropong,” demikian bunyi pesan yang dikirimkan Lula ke selebgram Keanu Angelo seperti dikutip dari akun Instagram Keanu, Senin 26 Januari 2026.
Lantas apa itu colonoscopy yang sempat dijalani oleh Lula Lahfah? Berikut ini fakta-fakta seputar colonoscopy yang dilansir dari laman Yale Medicine
1. Apa itu Colonoscopy?
Colonoscopy atau kolonoskopi adalah pemeriksaan untuk melihat kondisi bagian dalam rektum dan usus besar merupakan golden standart dalam skrining kanker kolorektal. Pemeriksaan ini terbukti menyelamatkan banyak nyawa setiap hari. Kolonoskopi adalah salah satu cara terbaik untuk menemukan penyakit ini sejak tahap awal, saat pengobatan masih sangat efektif.
“Pemeriksaan ini sering kali membantu menemukan kanker tepat waktu sehingga ia dapat melakukan operasi penyelamatan nyawa, sekaligus menjaga kualitas hidup pasien. Jika ada perubahan kebiasaan buang air besar atau muncul perdarahan meski dikira hanya wasir sebaiknya segera lakukan kolonoskopi,” kata Direktur Bedah Kolorektal Yale Medicine, Vikran Reddy, MD.
Dalam prosesnya, sebagian besar kolonoskopi dilakukan dengan sedasi. Dokter akan memasukkan selang tipis dan fleksibel yang dilengkapi lampu serta kamera kecil melalui rektum hingga ke usus besar.
Gambar dari bagian dalam usus akan tampil di layar monitor, sehingga dokter dapat melihat adanya polip atau kelainan lain. Pemeriksaan ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi peradangan, perdarahan, atau luka di usus.
2. Siapa yang perlu menjalani kolonoskopi?
American Cancer Society dan U.S. Preventive Services Task Force merekomendasikan skrining kanker kolorektal secara rutin bagi orang berusia 45 hingga 75 tahun dengan risiko rata-rata. Sementara itu, mereka yang berusia 75–85 tahun disarankan berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan apakah skrining masih diperlukan. Skrining kanker kolorektal umumnya tidak dianjurkan bagi orang di atas 85 tahun.
Kolonoskopi juga sangat dianjurkan bagi mereka yang memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker kolorektal. Kelompok ini mungkin perlu memulai skrining lebih awal dan menjalani pemeriksaan lebih sering. Misalnya, jika memiliki riwayat kanker kolorektal, dokter bisa menyarankan kolonoskopi lebih dini.
Pemeriksaan lebih awal juga dianjurkan bagi pasien penyakit radang usus seperti kolitis ulseratif atau penyakit Crohn, yang meningkatkan risiko kanker. Selain itu, kolonoskopi dapat disarankan jika muncul gejala yang tidak jelas penyebabnya, seperti nyeri perut, perubahan pola buang air besar, penurunan berat badan, atau perdarahan dari rektum. Dokter Yale Medicine juga menaruh perhatian khusus pada data yang menunjukkan meningkatnya kasus kanker kolorektal pada usia di bawah 50 tahun, bahkan pada mereka yang masih berusia 20-an.
3. Bagaimana persiapan kolonoskopi?
Dokter akan memberikan petunjuk rinci tentang persiapan kolonoskopi. Hal terpenting adalah membersihkan usus secara menyeluruh agar dokter dapat melihat dinding usus dengan jelas saat pemeriksaan.
Sekitar lima hari sebelum prosedur, pasien mungkin diminta menghentikan konsumsi obat tertentu, seperti suplemen zat besi dan aspirin, atau obat lain sesuai arahan dokter. Ini juga waktu yang tepat untuk mengatur transportasi pulang, karena setelah dibius Anda tidak diperbolehkan mengemudi selama 24 jam. Dokter juga tidak menyarankan penggunaan transportasi umum.
Sehari sebelum kolonoskopi, pasien juga harus menjalani diet cair bening, seperti kaldu bening, kopi atau teh tanpa susu, jus apel, jus cranberry putih, atau jus anggur putih. Anda juga boleh mengonsumsi agar-agar dan es loli, asalkan tidak berwarna merah, ungu, atau oranye.
Pada hari itu, pasien akan minum obat pencahar dalam bentuk pil atau cairan dalam jumlah besar. Efeknya adalah diare, sehingga Anda perlu berada dekat kamar mandi. Pada pagi hari sebelum prosedur, Anda masih boleh minum cairan bening hingga tiga jam sebelumnya.
4. Bagaimana rasanya menjalani kolonoskopi?
Sebelum prosedur dimulai, pasien akan berbaring di meja pemeriksaan dan diberikan anestesi.
Ada dua jenis anestesi yang umum digunakan. Pertama, sedasi sadar yang biasanya diberikan oleh dokter yang melakukan prosedur. Kedua, anestesi umum atau sedasi dalam, yang diawasi oleh dokter anestesi dan perawat anestesi.
Selama prosedur, dokter memasukkan kolonoskop selang dengan kamera di ujungnya ke dalam rektum. Gambar dari kamera akan ditampilkan di monitor untuk diperiksa. Tujuannya adalah menemukan dan mengangkat polip atau kelainan lain. Tanda-tanda vital Anda akan dipantau selama pemeriksaan.
Umumnya, kolonoskopi berlangsung antara 30 menit hingga satu jam. Karena efek anestesi yang sangat baik, banyak pasien terkejut saat terbangun dan mengetahui prosedurnya sudah selesai.
5. Apa yang terjadi jika ditemukan polip?
Setiap polip yang ditemukan akan diangkat dan dikirim ke ahli patologi. Jaringan tersebut akan diproses dan dianalisis, yang biasanya memerlukan waktu sekitar satu hari. Setelah diperiksa di bawah mikroskop, ahli patologi akan menentukan apakah jaringan tersebut jinak atau bersifat kanker.