3 Warga Gunungkidul Meninggal akibat Leptospirosis, Kenali Gejala Demam yang Khas

3 Warga Gunungkidul Meninggal akibat Leptospirosis, Kenali Gejala Demam yang Khas

Tiga orang meninggal dunia akibat leptospirosis di Gunungkidul sepanjang tahun 2026.

Hal itu dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Maret ini.

Menurut Dinkes Gunungkidul, tercatat ada 13 orang terjangkit, dan 3 di antaranya meninggal dunia akibat leptospirosis di awal tahun 2026.

"13 yang terjangkit, 3 meninggal dunia. Untuk sebarannya ada di beberapa kapanewon. Tapi, saat sekarang paling banyak di Kapanewon Playen karena ada temuan lima kasus dengan dua warga meninggal dunia," kata Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, dilansir dari , Senin (9/3/2026). 

Menurut Dinkes, angka kematian ini naik signifikan, karena selama 2025 hanya tercatat 1 orang meninggal dunia akibat penyakit yang penyebarannya melalui kencing tikus ini.

Lebih lanjut Dinkes mengimbau masyarakat untuk berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan, terutama para petani. Sebab banyak tikus yang berkembang biak di area ladang atau persawahan.

"Hujan membuat di sawah banyak genangan, sedangkan tikus juga banyak berkembang biak di area ini," kata Ismono.

Ismono mengimbau agar petani menggunakan sepatu boot dan sarung tangan saat beraktivitas di sawah dan ladangnya.

Apa itu leptospiroris?

Penyakit leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans yang menyebar melalui urine hewan yang terinfeksi.

Dicukil dari (26/3/2024), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap, pasien yang terkonfirmasi leptospirosis umumnya akan menunjukkan tanda dan gejala tertentu, seperti demam dan muncul warna kuning di area mata dan kulit.

Penyakit leptospirosis juga akan menimbulkan gejala lainnya seperti mual, muntah, serta timbul rasa nyeri.

Sedangkan dilansir dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC, berikut gejala awal penyakit leptospirosis yang harus diwaspadai:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Mata dan kulit berwarna kuning
  • Mual
  • Muntah
  • Muncul rasa nyeri di seluruh badan dan sendi
  • Muncul kemerahan di bagian mata
  • Perut sakit
  • Diare
  • Muncul ruam di kulit.

Gejala leptospirosis biasanya muncul secara tiba-tiba dan terjadi dalam dua fase, yaitu:

  • Fase pertama: Gejala yang dirasa adalah demam, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, muntah, atau diare. Pada fase ini, pasien mungkin pulih untuk sementara waktu namun kemudian jatuh sakit lagi.
  • Fase kedua: Jika fase kedua terjadi, gejala yang dirasakan pasien akan lebih parah. Pasien mungkin mengalami gagal ginjal atau hati atau meningitis.

Penyakit leptospirosis umumnya berlangsung selama beberapa hari hingga 3 minggu atau lebih. Adapun waktu antara paparan seseorang terhadap sumber yang terkontaminasi bakteri leptospirosis dan menjadi sakit adalah 2 hari hingga 4 minggu.

Kemenkes mengimbau kepada masyarakat yang merasa demam selama lebih dari 3 hari agar segera memeriksakan diri ke layanan medis. Apalagi, jika demam diikuti tanda kuning, nyeri sekali di badan, dan ada riwayat banjir sebelumnya di sekitar domisilinya.

Ciri khas demam karena leptospirosis

Diberitakan Antara, demam pada leptospirosis sering dikira demam biasa.

Padahal, ada ciri khusus yang menandakan demam yang terjadi adalah akibat penyakit leptospirosis.

Menurut dokter umum RS Sari Asih Cipondoh Tangerang, Banten, Putri Mutiara Sari, demam tinggi yang muncul secara mendadak disertai menggigil merupakan salah satu gejala khas leptospirosis.

Penderita juga kerap mengalami nyeri otot, terutama pada bagian betis, punggung, dan pinggang, serta sakit kepala hebat.

“Kondisi lingkungan yang basah dan banjir inilah yang menjadi sarana utama penyebaran bakteri leptospira dari urine tikus ke lingkungan manusia. Penyakit ini dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat,” ujar Putri di Tangerang, Kamis.

Ia menjelaskan, leptospirosis merupakan penyakit infeksi zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia.

Penularan utamanya terjadi melalui kontak kulit dengan air atau tanah yang telah tercemar urine hewan pembawa bakteri, paling sering tikus. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang