Kutai Timur Resmi Berstatus KLB Campak, Kenali Lagi Gejala dan Faktor Risikonya

Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, resmi menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk penyakit campak.
Hingga awal Maret 2026 ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat akumulasi suspek campak di wilayah Kutim telah mencapai 105 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati mengungkap, lonjakan tertinggi terjadi pada pekan ketiga Januari lalu dengan temuan 19 kasus dalam satu minggu.
Adapun wilayah dengan suspek terbanyak berada di Kecamatan Sangatta Utara.
"Secara total dari pekan pertama hingga pekan kesembilan di bulan Maret ini, suspek campak sudah menyentuh 105 kasus. Surat edaran terkait status KLB ini akan segera diterbitkan," ujar Yuwana, Selasa (10/3/2026), dilansir dari Tribun.
Lonjakan kasus ini diduga dipicu oleh beberapa faktor, mulai dari pengaruh wabah serupa di Pulau Jawa, kondisi kebersihan lingkungan (hygiene) yang rendah, hingga belum optimalnya capaian imunisasi dasar di Kutim.
Diketahui, data tahun 2025 menunjukkan imunisasi MR 1 (Measles-Rubella) di Kutim sudah mencapai 88,9 persen.
Sayang, angka ini merosot tajam pada pemberian dosis kedua atau MR 2 yang hanya menyentuh 65,9 persen saja.
"Padahal, perlindungan optimal memerlukan tiga kali imunisasi, yaitu pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan 5 tahun. Jika balita belum divaksin, kami imbau orangtua segera mendatangi faskes atau posyandu terdekat," tegasnya.
Apa gejala campak?
Dilansir dari (7/3/2026), dalam konferensi pers daring pada Kamis (26/2/2026), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjelaskan gambaran penyakit campak secara jelas.
Dokter Andi Saguni, MA, Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes mengungkap, penularan campak melalui droplet dan air borne transmission (percikan air liur atau ludah).
"Hal ini terutama terjadi saat batuk, bersin, atau jika bersentuhan dengan benda yang terkontaminasi," paparnya.
Sedangkan faktor risiko penularan campak adalah:
- Mereka yang belum atau tidak lengkap imunisasi campak-rubella
- Ada kontak erat dengan penderita campak
- Status gizi yang kurang baik
- Tidak menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Vaksinasi campak sendiri memiliki 3 tahapan, yaitu:
- 9 bulan: imunisasi campak rubella (MR) dosis 1
- 18 bulan: imunisasi campak rubella (MR) dosis 2
- Kelas 1 SD: imunisasi campak rubella (MR) pada anak sekolah (BIAS).
Dr Andi juga menjelaskan gejala campak yang bisa dideteksi oleh masyarakat, yaitu:
- Demam
- Ruam makulopapular
- Batuk/pilek
- Konjungtivitis
- Gatal-gatal
- Terkadang diare.
"Demam umumnya pada kurang lebih hari ke-15 setelah paparan. Sedangkan ruam biasanya muncul kurang lebih pada hari ke-18 setelah paparan," ucapnya.
Pengobatan campak sendiri mencakup:
- Pemberian vitamin A
- Pengobatan simtomatis kasus yang tidak komplikasi
- Pengobatan kasus dengan komplikasi.
Upaya yang perlu dilakukan masyarakat demi mencegah meningkatnya kasus campak adalah:
- Periksa status imunisasi anak, pastikan anak sudah mendapatkan imunisasi MR lengkap.
- Bagi yang berada di wilayah yang sedang dilaksanakan kampanye campak, diharapkan berpastisipasi agar anak mendapatkan perlindungan.
- Segera bawa anak ke puskesmas atau rumah sakit jika mengalami demam dan ruam (bercak merah) untuk mendapatkan penanganan.