Kecam Ancaman Tarif AS Terkait Greenland, Italia dan Belanda Ikut Buka Suara
Delapan negara Eropa mengecam ancaman tarif Amerika Serikat terkait isu Greenland dan menegaskan komitmen menjaga keamanan kawasan Arktik, Minggu (18/1/2026).
Pernyataan bersama itu dikeluarkan Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Belanda, Norwegia, Swedia, dan Inggris sebagai respons atas kebijakan dagang AS.
negara tersebut menilai ancaman tarif berisiko merusak hubungan transatlantik dan memperburuk stabilitas kawasan.
Mereka menegaskan sikap bersatu untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas teritorial masing-masing.
"Ancaman tarif merusak hubungan transatlantik dan berisiko terus memperburuk hubungan. Kami akan terus bersatu dan terkoordinasi dalam tanggapan kami. Kami berkomitmen untuk menjunjung tinggi kedaulatan kami," tulis pernyataan bersama tersebut, Seperti dukutip Antara dari Anadolu.
Komitmen Jaga Keamanan Arktik
Pernyataan itu menegaskan kembali komitmen delapan negara untuk memperkuat keamanan Arktik sebagai kepentingan bersama transatlantik.
Latihan militer yang telah direncanakan sebelumnya disebut sebagai bagian dari upaya tersebut.
"Latihan Denmark yang telah dikoordinasikan sebelumnya, 'Arctic Endurance', yang dilakukan bersama Sekutu, menanggapi kebutuhan ini. Latihan ini tidak menimbulkan ancaman bagi siapa pun," tegas pernyataan itu.
Delapan negara juga menyatakan solidaritas penuh terhadap Denmark dan Greenland di tengah meningkatnya ketegangan.
"Dengan melanjutkan proses yang dimulai pekan lalu, kami siap untuk terlibat dalam dialog berdasarkan prinsip-prinsip kedaulatan dan integritas teritorial yang kami dukung dengan teguh," tambah pernyataan tersebut.
Italia Nilai Rencana Pemberlakuan Tarif AS sebagai Kesalahan
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyebut rencana pemberlakuan tarif AS terhadap negara-negara Eropa sebagai sebuah kesalahan.
Pernyataan itu disampaikan Meloni saat kunjungan ke Korea Selatan, sebagaimana dilaporkan Rai News Italia.
Meloni mengatakan telah membahas isu tersebut dengan Presiden AS Donald Trump serta Sekretaris Jenderal NATO.
Ia menekankan kawasan Arktik memiliki nilai strategis sehingga langkah sejumlah negara Eropa memperkuat keamanan perlu dipahami.
Pernyataan Meloni merespons pengumuman Trump pada Sabtu (17/1) soal tarif 10 persen mulai 1 Februari terhadap barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia.
Tarif tersebut akan naik menjadi 25 persen pada awal Juni jika tidak tercapai kesepakatan bagi AS untuk membeli Greenland.
Belanda Sebut Ancaman AS sebagai Pemerasan
Menteri Luar Negeri Belanda David van Weel menyebut ancaman tarif Presiden AS sebagai bentuk pemerasan. Ia menilai langkah tersebut tidak sejalan dengan prinsip aliansi.
"Sekutu tidak memperlakukan satu sama lain seperti ini... Apa yang terjadi adalah pemerasan. Dan itu tidak perlu, karena tidak membantu memperkuat aliansi. Itu juga tidak berkontribusi pada keamanan Greenland," kata van Weel kepada stasiun televisi NPO 1.
Van Weel mengaku terkejut dengan eskalasi yang terjadi, terutama setelah pertemuan AS, Denmark, dan Greenland pada 14 Januari.
"Denmark mengajukan permintaan: 'Bergabunglah dengan kami, beberapa negara lagi, untuk menunjukkan kepada AS bahwa kami menanggapi masalah keamanan dengan serius.' Niatnya positif, tetapi kemudian justru dihukum karena itu,” ujarnya.
Di parlemen Belanda, pemimpin aliansi GroenLinks-PvdA Jesse Klaver menyerukan respons Eropa yang cepat, bersatu, dan tegas terhadap ancaman Trump. Ia menilai Eropa perlu menetapkan batasan, bukan mengikuti tekanan.
Sebelumnya, pada 17 Januari, Menteri Pertahanan Belanda Ruben Brekelmans menyatakan Belanda akan mengirim dua perwira ke Greenland untuk misi pengintaian bersama sekutu NATO guna memperkuat keamanan wilayah tersebut.
Posisi Greenland dan Ancaman Trump
Trump berulang kali menyatakan Greenland harus menjadi bagian dari AS dengan alasan kepentingan keamanan nasional.
Namun, otoritas Denmark dan Greenland menolak tegas pernyataan tersebut dan menekankan pentingnya penghormatan terhadap integritas teritorial.
Greenland merupakan koloni Denmark hingga 1953 dan tetap menjadi bagian dari Kerajaan Denmark meski memperoleh otonomi luas sejak 2009.
Pulau terbesar di dunia itu berstatus wilayah otonom dengan urusan pertahanan dan kebijakan luar negeri tetap berada di bawah kendali Kopenhagen, sementara Amerika Serikat memiliki pangkalan militer di wilayah tersebut.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang