Harga Emas Melesat, Ketidakpastian Tarif AS Jadi Biang Kerok
Pergerakan harga emas kembali menjadi perhatian pelaku pasar global. Di tengah ketidakpastian kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS), pelemahan dolar, serta dinamika geopolitik yang belum mereda, logam mulia ini terus menunjukkan tren penguatan.
Investor kini mencermati apakah reli emas masih akan berlanjut dalam waktu dekat. Nyatanya, sejumlah indikator fundamental menunjukkan sentimen terhadap emas masih positif, imbas kombinasi faktor eksternal seperti kebijakan tarif baru AS, data inflasi, hingga perkembangan konflik geopolitik menjadi katalis yang menopang harga emas di pasar internasional.
Mengacu laporan dari The Times of India, Selasa, 24 Februari 2026, harga emas spot pada pekan yang berakhir 20 Februari ditutup menguat hampir 1,2 persen di level US$5.104 per ons. Jika dikonversi dengan kurs Rp16.800 per dolar AS, harga tersebut setara sekitar Rp85,7 juta per ons. Bahkan pada Jumat, emas melonjak sekitar 2,1 persen.
Penguatan berlanjut pada 23 Februari, saat dolar AS kembali melemah akibat ketidakpastian kebijakan tarif. Saat laporan ditulis, emas tercatat naik 1,50 persen ke posisi US$5.182 per ons atau sekitar Rp87 juta per ons.
Sentimen pasar juga dipengaruhi putusan Mahkamah Agung AS atau Supreme Court of the United States yang memutuskan bahwa Presiden Donald Trump melampaui kewenangannya dalam menerapkan sejumlah tarif tahun lalu. Namun, Trump menyatakan akan tetap memberlakukan tarif global baru sebesar 15 persen berdasarkan ketentuan hukum lain yang mulai berlaku 24 Februari.
Ketidakpastian terkait kebijakan tarif ini menambah kekhawatiran pelaku pasar. Uni Eropa bahkan meminta AS untuk tetap menghormati kesepakatan dagang sebelumnya, mengingat belum jelas apakah tarif baru tersebut akan menggantikan perjanjian yang telah disepakati.
Dari sisi makroekonomi, data Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal IV menunjukkan pertumbuhan tahunan 1,4 persen, jauh di bawah estimasi 2,8 persen dan melambat dari 4,4 persen pada kuartal sebelumnya. Perlambatan ini dipicu penurunan belanja pemerintah akibat penutupan sementara.
Di sisi lain, indeks harga PCE, indikator inflasi pilihan bank sentral AS, tercatat lebih tinggi dari perkiraan. Core PCE naik 3 persen secara tahunan pada Desember, di atas proyeksi 2,9 persen.
Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, menyatakan akan mendukung pemangkasan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan Maret jika pasar tenaga kerja melemah. Pernyataan ini turut menekan imbal hasil obligasi AS dan mendukung harga emas.
Geopolitik dan Posisi Spekulan
Ketegangan AS-Iran tetap menjadi pendorong utama harga emas. Putaran ketiga perundingan nuklir dijadwalkan berlangsung pada 26 Februari di Jenewa. Iran menyatakan terbuka untuk mencapai kesepakatan jika sanksi dilonggarkan, sementara AS masih mempertahankan berbagai opsi kebijakan.
Proyeksi Harga Emas
Secara teknikal, analis menyebut emas masih mendapat dukungan dari pelemahan dolar, risiko geopolitik, dan ketidakpastian tarif. Jika mampu ditutup di atas US$5.150 selama dua sesi berturut-turut, emas berpotensi menguji level US$5.450 per ons atau sekitar Rp91,6 juta per ons.
Adapun area support berada di kisaran US$5.100 hingga US$5.000 per ons, atau sekitar Rp85,7 juta hingga Rp84 juta per ons.