Microsoft Cuan Miliaran Dolar, tapi PHK Jalan Terus
Dalam beberapa bulan terakhir, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri teknologi global semakin menjadi sorotan.
Perusahaan-perusahaan besar yang selama ini dikenal stabil dan mapan tak luput dari langkah efisiensi ini.
Salah satunya Microsoft, raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS) yang justru mencatat kinerja keuangan sangat baik, namun tetap melakukan PHK dalam jumlah signifikan.
Fenomena ini menunjukkan adanya “paradoks” dalam bisnis teknologi saat ini, di mana satu sisi, perusahaan mampu membukukan pendapatan dan keuntungan besar, sisi lainnya, tetap memilih merampingkan struktur organisasi.
Bagi para pekerja, tentu hal ini menjadi tanda tanya besar sekaligus kekhawatiran terhadap masa depan dunia kerja, khususnya di sektor teknologi yang sedang gencar berinvestasi di bidang kecerdasan buatan (AI).
Microsoft kembali mengumumkan pemangkasan tenaga kerja dengan memberhentikan 42 karyawan yang berbasis di Redmond, Washington DC.
Gelombang PHK ini menjadi kelanjutan dari upaya berbulan-bulan perusahaan untuk merampingkan tenaga kerja di tengah lonjakan belanja untuk kecerdasan buatan (AI).
Sejak Mei 2025, lebih dari 15 ribu karyawan Microsoft secara keseluruhan telah di-PHK. Dengan pemangkasan terbaru, jumlah pekerja di negara bagian Washington yang terdampak telah melampaui 3.200 orang.
“Perubahan organisasi dan tenaga kerja adalah bagian penting dan rutin dalam mengelola bisnis kami. Kami akan terus memprioritaskan serta berinvestasi di bidang pertumbuhan strategis untuk masa depan kami, dan untuk mendukung pelanggan serta mitra kami,” kata juru bicara Microsoft, seperti dikutip dari The Seattle Times, Jumat, 12 September 2025.
Headset Microsoft.
Headset Microsoft.
Beberapa gelombang bahkan sangat besar, seperti lebih dari 6.000 karyawan yang diberhentikan pada Mei, dan tambahan 9.000 orang pada Juli.
Ironisnya, di tengah gelombang PHK tersebut, Microsoft justru melaporkan rekor pendapatan kuartalan dan laba untuk periode April–Juni 2025, yang merupakan kuartal terakhir tahun fiskal perusahaan.
Perusahaan meraup pendapatan sebesar US$76,4 miliar (setara Rp1.252 triliun) dengan laba US$27,2 miliar (setara Rp446 triliun).
Selain itu, untuk pertama kalinya Microsoft melaporkan kinerja divisi komputasi awan (cloud) Azure.
Divisi ini berhasil menembus pendapatan US$75 miliar (setara Rp1.230 triliun) tahun lalu, dengan tingkat pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan pesaing utamanya, Amazon Web Services (AWS).
CEO Microsoft Satya Nadella bahkan sempat mengakui adanya ketidakselarasan antara kesuksesan finansial perusahaan dengan pemangkasan tenaga kerja masif.
Ia menyebut situasi ini sebagai bentuk “ketidakpastian dan ketidaksesuaian yang tampak” di tengah situasi bisnis.
Microsoft bukan satu-satunya perusahaan teknologi besar yang melakukan langkah efisiensi. Amazon, Salesforce, hingga Oracle juga mengambil langkah serupa sepanjang 2025.
Langkah kolektif ini menunjukkan tren global di mana perusahaan teknologi besar memilih strategi efisiensi untuk menjaga daya saing di tengah perubahan industri, khususnya terkait investasi besar-besaran dalam kecerdasan buatan (AI).