Benarkah Sleep Divorce Bisa Membuat Hubungan Suami Istri Lebih Harmonis?
Belakangan ini, tren sleep divorce mulai banyak dipilih pasangan suami istri di berbagai belahan dunia. Meski terdengar tidak biasa, pilihan ini justru diambil oleh pasangan yang saling mencintai, tetapi merasa tidak nyaman saat harus tidur bersama dalam satu tempat tidur.
Keputusan ini umumnya diambil karena banyak pasangan mengaku kualitas tidurnya terganggu ketika tidur bersama dengan pasangannya. Bahkan, Global Sleep Survey 2025 yang dirilis oleh Resmed mencatat bahwa sepertiga pasangan mengalami gangguan tidur akibat pasangan mereka sendiri.
Perempuan terlihat lebih terdampak dibandingkan laki-laki. Sebanyak 20 persen perempuan mengatakan tidurnya terganggu setiap malam oleh pasangan, sementara hanya 11 persen laki-laki yang melaporkan keluhan serupa. Survei yang sama juga mengungkapkan bahwa setengah dari pasangan di Amerika Serikat sesekali memilih menjalani sleep divorce, yaitu tidur di kamar terpisah demi mendapatkan istirahat yang lebih berkualitas.
Lantas apa itu sleep divorce dan bagaimana manfaatnya untuk hubungan suami istri? Melansir laman TODAY, Rabu 14 Januari 2026, sleep divorce adalah pilihan bagi pasangan yang memutuskan tidur terpisah demi kualitas istirahat yang lebih baik.
Penyebabnya beragam, mulai dari dengkuran, suhu tubuh, kaki yang sering bergerak, insomnia, jadwal tidur yang berbeda, hingga kebutuhan akan ruang pribadi. Bentuknya pun bisa berbeda-beda, dari ranjang terpisah di kamar yang sama, hingga kamar yang benar-benar berbeda.
Michael Breus, psikolog klinis di Los Angeles yang dikenal sebagai “The Sleep Doctor”, mengatakan ada pasangan yang tidur terpisah di hari kerja dan kembali tidur bersama saat akhir pekan. Dr. Mehmet Oz bahkan menyarankan untuk mencobanya tiga kali seminggu terlebih dahulu, sekadar melihat apakah cocok.
Kelebihan Sleep Divorce
Beberapa pasangan mengaku pengaturan ini justru memperbaiki hubungan mereka. Tubuh lebih segar, emosi lebih stabil, dan konflik berkurang.
“Kalau bangun dalam keadaan capek dan pasangan adalah penyebabnya, kamu akan lebih mudah kesal, marah, dan tersinggung,” kata psikiater Weiner.
Sejumlah terapis bahkan menyebut sleep divorce bisa meningkatkan kualitas hubungan seksual karena pasangan tidak lagi saling menganggap remeh.
“Mereka harus benar-benar memikirkannya dan menjadikan seks sebagai prioritas. Mereka juga jadi lebih sering berdiskusi soal kapan dan bagaimana mereka akan berhubungan intim,” kata psikolog dan terapis seks, Kate Balestrieri kepada The New York Times pada 2025
Elizabeth dan Ryan Pearson telah tidur di kamar terpisah selama bertahun-tahun karena dengkuran dan jam tidur yang berbeda.
Kekurangan Sleep Divorce
Namun, tidak semua ahli setuju. Pakar tidur dari RWJ Barnabas Health, New Jersey, Dr. Carol Ash menilai tidur bersama lebih sehat untuk hubungan.
“Saat tidur dengan pasangan, pola gelombang otak menjadi lebih sinkron dan stabil. Hal ini meningkatkan kualitas tidur dan diyakini berperan dalam menjaga hubungan tetap sehat,” ujarnya.
Tidur bersama juga memicu pelepasan hormon ikatan emosional dan berdampak positif bagi kesehatan mental.
Ash menyarankan pasangan untuk mengevaluasi alasan tidur terpisah. Jika masalahnya adalah dengkuran, sebaiknya cari solusi medis. Bisa jadi salah satu pasangan perlu menurunkan berat badan atau menghindari tidur telentang. Weiner bahkan menyarankan trik sederhana: memakai kaus dengan kantong di bagian belakang berisi bola tenis agar tubuh tetap miring saat tidur.
Namun jika tidur terpisah disebabkan konflik hubungan, masalah tersebut perlu diselesaikan terlebih dahulu.
Cara Menjalani Sleep Divorce dengan Sehat
Terapis pasangan asal New York, Tamara Green mengatakan ia sering melihat sleep divorce justru memperbaiki hubungan dan kehidupan seksual kliennya.
“Mereka cukup istirahat, lebih tenang, dan lebih mampu mendengarkan serta memenuhi kebutuhan satu sama lain,” kata Green.
Meski begitu, topik ini memang tidak selalu mudah dibicarakan. Berikut beberapa tips dari Green pertama mulai membicarakan hal ini dengan pasangan terlebih dahulu. Awali dengan menyampaikan rasa cinta dan apresiasi pada pasangan, lalu jelaskan bahwa akhir-akhir ini kualitas tidurmu kurang baik. Hindari kata ‘kamu’ seperti ‘kamu bikin aku susah tidur’. Gunakan ‘kita’ sebagai contoh. ‘Sepertinya kita sama-sama belum bisa tidur nyenyak karena pola tidur kita berbeda.’ Cara ini membuat pasangan tidak merasa disalahkan.
Ajukan perubahan dengan lembut, misalnya ‘Aku penasaran apakah kamu mau mencoba cara lain yang mungkin lebih baik untuk kita berdua. Aku mengangkat topik ini karena aku sangat peduli dengan hubungan kita dan kualitas tidur kita’.
Kedua, tetap luangkan waktu bersama. Manfaatkan momen untuk sentuhan fisik sepanjang hari berpelukan di dapur atau saling bersandar saat menonton TV. Jadwalkan waktu intim di kalender dan anggap itu penting. Jangan lupa juga menjadwalkan kencan berdua.
Ketiga ungkapkan rasa terima kasih. Ucapkan hal sederhana seperti, ‘Aku bersyukur kita bisa menyelesaikan hal-hal seperti ini bersama. Itulah alasan aku jatuh cinta padamu’. Atau, ‘Aku sangat menghargai kamu mau memahami betapa sulitnya aku tidur’.