Ustaz Daas Latif Ungkap Sebelum Suami Berangkat Kerja Dianjurkan Beri Nafkah Istri
Kematian itu pasti terjadi. Namun demikian kita tidak pernah tau kapan ajal akan menjemput. Bisa saja kematian menghampiri ketika kita saat bekerja atau bahkan saat perjalanan menuju kantor.
Lantas bagaimana Islam melihat kematian yang terjadi saat seseorang sedang bekerja atau saat berangkat kerja? Benarkah mereka yang meninggal saat bekerja termasuk mati dalam keadaan syahid?
Terkait hal ini Ustaz Daas Latif angkat bicara. Dijelaskan Ustaz Daas Latif, seorang bisa dikatakan mati syahid ketika bekerja bisa dilihat dari jenis pekerjaan yang dilakoninya. Misalnya seorang mencari nafkah namun dengan cara merampok atau mencuri kemudian meninggal lantaran pekerjaannya itu maka tidak dikatagorikan sebagai mati syahid.
”Tapi perampok, matinya mati kafir, mati dalam kebatilan. Atau dia merasa jihad fisabilillah bakar gereja dia mati kafir. Kalau dia bekerja sebagai security misalnya di sebuah bank. Mencari nafkah adalah sebuah kewajiban bagi suami, mencari nafkahnya adalah tuntutan agama lalu dia mati dalam pekerjaan itu, mati syahid,” kata sang ustaz dikutip dari tayangan YouTube, Kamis 11 Desember 2025.
Lebih lanjut dijelaskan ustaz Daas Latif bahwa mati syahid yang dimaksudkan adalah ketika seseorang meninggal saat bekerja maka kematiannya itu senilai dengan pahala orang yang mati syahid. Namun jenazah dan aturan-aturan pemakaman jenazah orang tersebut dilakukan selayaknya orang biasa meninggal.
”Pahalanya pahala syahid tetapi jenazahnya tetap dimandikan, dikafani, dimakam. Beda kalau mati syahid di zaman nabi Perang Uhud mereka tidak dimandikan lagi, dimakamkan tidak dikafani dimakamkannya seperti apa yang terjadi. Misalnya pakai baju ini ya dimakamkan pakai baju ini yang ada darah tidak apa-apa, baju dan darah ini akan menjadi saksi di akhirat kelak,” kata beliau.
Ustaz Daas Latif juga menjelaskan bahwa untuk bisa meninggal dalam keadaan syahid ketika bekerja maka kita perlu mengikuti tata cara yang diajarkan nabi. Dijelaskannya Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa setiap kali keluar rumah untuk mencari nafkah disunahkan untuk berwudhu lalu menutup aurat.
”Maka setiap kali keluar rumah wudhu, menutup aurat, menghadap kiblat, berdoa sejenak Inna sholati wanusuki wama yahya wamamati lilahirobilalamin. Lalu kita berdiri menuju ke pintu (baca) Bismillahi tawakkaltu 'alallah, wa la haula wa la quwwata illa billah. Lalu melangkah kaki kanan. Jadi memang kita sudah berserah diri kepada Allah apalagi kita sudah dalam keadaan suci sudah wudhu, menutup aurat,” jelasnya.
Diungkap lebih lanjut, jika ingin lebih baik lagi, sebelum keluar rumah Nabi menganjurkan suami untuk memberikan sedekah kepada istri. Sedekah yang dimaksudkan ini bukan berupa dirham atau uang melainkan kecupan di dahi istri.
”Sebelum keluar rumah berikan ketenangan pada suami, peluk suami ’bang jangan menghalalkan segala cara, jangan lupa solat, saya di rumah mendoakan abang selamat cari nafkah. Apapun yang abang dapatkan tidak akan apa adanya kalau tidak ada ridho Allah’ penting memberi doa, memberikan ketenangan suami, memberikan senyuman karena bisa jadi itu yang terakhir,” kata dia.