Tren Rp 10.000 di Tangan Istri, Ini yang Harus Diperhatikan Suami Saat Memberi Uang Belanja

Pembicaraan soal nafkah dan uang belanja kembali mencuat karena tren “Rp 10.000 di tangan istri yang tepat” sedang ramai di media sosial, sampai menimbulkan perdebatan.
Sebagian menganggapnya sebagai hiburan semata, sedangkan yang lainnya menilai tren ini bisa berdampak serius pada cara suami memahami pembagian nafkah dan uang belanja.
Dalam menentukan keduanya, pasangan suami dan istri harus membicarakannya dengan terbuka tanpa menutupi apa pun, baik dari segi kebutuhan maupun nominal. Lantas, apa saja yang harus dibahas?
Penentuan nominal nafkah dan uang belanja
1. Kebutuhan mendasar dan jangka panjang
Psikolog klinis Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi. menuturkan, suami dan istri bisa membicarakan tentang kebutuhan mendasar seperti listrik dan air.
“Lalu, kalau sudah punya anak dan mereka bertambah besar, tentunya kebutuhannya juga semakin besar. Misalnya butuh membelikan kendaraan atau laptop,” tutur psikolog yang berpraktik di RS DR Oen Solo Baru ini saat dihubungi pada Rabu (1/10/2025).
Apa yang dibicarakan bukan cuma yang terjadi saat ini, mengingat kehidupan tidak statis, lantaran terus berjalan seiring waktu.
Perencanaan nominal nafkah dan uang belanja pun harus berkembang sesuai dengan kebutuhan yang dimiliki pada setiap fase kehidupan.
Saat mencapai suatu fase kehidupan, nominal nafkah dan uang belanja terbaru tinggal dikembangkan berdasarkan yang pernah direncanakan dahulu, alih-alih membahasnya dari awal.
2. Jumlah penghasilan
“Kemudian jumlah penghasilan kotor berapa, dan penghasilan bersih berapa. Penghasilan dari semua sumber, misalnya gaji dari pekerjaan utama, pekerjaan sampingan, dan lain-lain. Itu perlu diobrolkan,” ucap Joko.
3. Apa yang menjadi prioritas saat ini?
Selanjutnya adalah membahas tentang apa yang sedang diprioritaskan, seperti kebutuhan pokok dan apakah ada utang atau cicilan yang harus dibayarkan.
Jadi, penghasilan untuk hal-hal yang sedang diprioritaskan bisa dipisahkan dari nafkah dan uang belanja agar tidak saling mengganggu.
4. Jangan lupakan tabungan
Joko juga menyoroti pentingnya membahas tentang tabungan saat menentukan nominal nafkah dan uang belanja untuk istri.
“Ada tabungan, dan tabungan darurat untuk tiga sampai enam bulan,” tutur dia.
Tabungan darurat bisa dimanfaatkan jika mengalami sesuatu yang di luar prediksi, dan hal tersebut tidak tertutup oleh BPJS atau asuransi lainnya.
Menentukan berapa yang harus disisihkan untuk menabung dapat membantu suami menentukan nominal yang harus diberikan kepada istri.
5. Biaya healing
Selanjutnya adalah alokasi untuk healing, seperti liburan atau makan-makan. Jangan sampai biaya healing mengganggu nafkah dan uang belanja karena tidak diatur sebelumnya.
“Healing dan hiburan itu perlu, dan enggak harus mahal. Misalnya makan bersama di tempat makan sederhana, di pinggir jalan, bareng-bareng sekeluarga. Itu sudah menyenangkan,” kata Joko.
6. Pembagian uang
Untuk pasangan suami istri yang sama-sama bekerja, pembagian uang untuk rumah tangga dan tabungan harus dibicarakan, karena juga membantu menentukan nominal nafkah dan uang belanja.
Misalnya urusan rumah tangga apa saja yang harus dibayar menggunakan gaji suami dan gaji istri. Lalu, berapa nominal yang perlu ditransfer ke tabungan.
Jangan lupa untuk membahas hal-hal yang sudah disebut sebelumnya. Baru setelah itu, tentukan nominal nafkah dan uang belanja yang akan diberikan kepada istri, dan nominal tersebut diberikan setiap hari, minggu, atau bulan.
“Intinya perlu ada kesepakatan bersama terkait dengan hal ini, dan perlu ada evaluasi. Misalnya dengan kesepakatan masih belum cukup, apa yang harus dilakukan,” tutur Joko.
“Bicarakan dengan baik, jangan hanya berdasarkan tren, ‘wah ini bisa hidup dengan Rp 10.000 ya’, karena kebanyakan itu hanya sebagai lucu-lucuan saja. Dalam kehidupan nyata, saya kira susah untuk bisa hidup hanya dengan Rp 10.000, apalagi di zaman sekarang,” pungkas dia.