Tengku Zanzabella Sebut Roby Tremonti Belum Tentu Bersalah dalam Polemik Buku Aurelie Moeremans

Tengku Zanzabella
Tengku Zanzabella

 Polemik seputar buku memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans masih terus bergulir dan memantik beragam respons publik. Salah satu suara yang ikut menyita perhatian datang dari Tengku Zanzabella, yang menilai bahwa Roby Tremonti tidak bisa serta-merta dicap sebagai sosok buruk yang ramai dituding warganet.

Seperti diketahui, Aurelie Moeremans mengungkap pengalaman masa lalunya yang disebut sebagai bentuk child grooming oleh sosok pria yang ia samarkan dengan nama “Bobby”. Meski identitas tersebut tidak pernah disebutkan secara gamblang, banyak netizen berspekulasi bahwa sosok tersebut merujuk pada Roby Tremonti. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya. 

Roby Tremonti

Tengku Zanzabella menilai, reaksi publik yang terlalu cepat menunjuk satu nama berpotensi menciptakan ketidakadilan. Ia menegaskan bahwa empati terhadap korban tidak seharusnya menghilangkan prinsip kehati-hatian dan asas praduga tak bersalah.

“Jadi ada ketidakadilan yang dilakukan oleh para netizen kita yaitu memvonis dengan langsung menunjuk orangnya seperti Roby gitu. Dengan tidak mengurangi empati kita terhadap korban ya, kita itu nggak boleh juga memvonis langsung kalau dia adalah pelakunya gitu,” kata Zanzabella yang dikutip dari Instagramnya @zanzabellaa pada Jumat, 16 Januari 2026. 

Ia juga menyoroti dampak serius yang bisa timbul ketika seseorang dituduh tanpa dasar hukum yang jelas. Menurutnya, klarifikasi yang dilakukan Roby tidak bisa langsung diartikan sebagai pengakuan, melainkan bentuk pembelaan diri atas reputasi yang terancam.

“Kalau misalnya si Roby itu klarifikasi karena dia menyangka itu dia karena mungkin orang menunjuk dia dan memvonis dia adalah orang tersebut yang melakukan abuse atau apapun itu maka reputasi dia jatuh ya,” katanya lagi. 

Tengku Zanzabella menekankan bahwa penilaian bersalah atau tidak seharusnya menjadi kewenangan hukum, bukan opini publik.

“Kalau gue tipikal orang yang seharusnya ini dibuktikan dulu dengan putusan dari jalur hukum. Baru kita bisa memvonis dia sebagai pelaku. Kalau nggak ya sudah,” terangnya. 

Ia juga menilai bahwa hubungan masa lalu Aurelie tidak hanya melibatkan satu orang, sehingga publik perlu melihat konteks secara lebih luas dan objektif.

“Karena apa? Karena dia adalah salah satu mantan dari si Aurelie,” terangnya lagi. 

Lebih jauh, Tengku Zanzabella mengaku menilai persoalan ini berdasarkan analisa dan intuisi pribadi, sembari menyoroti adanya sejumlah ketidakkonsistenan dalam narasi yang berkembang.

“Banyak hal-hal yang tidak konsisten di sana (dalam buku). Seperti detail, pertemuan, kedekatan itu nggak konsisten,” tuturnya. 

Meski demikian, ia menegaskan tidak sedang membela siapa pun secara membabi buta. Menurutnya, bisa saja kenyataan berada di tengah-tengah.

“Ini juga nggak boleh membela satu pihak karena kita nggak tahu juga. Bisa saja Roby tidak seburuk itu dan Aurelie tidak sebaik itu,” tuturnya lagi. 

Di akhir pernyataannya, Tengku Zanzabella tetap menegaskan bahwa child grooming adalah tindakan yang salah dan harus ditindak secara hukum. Namun, ia mengingatkan agar publik tidak mendahului proses hukum dengan opini.

“Gue mendukung Aurelie ini untuk membawanya ke jalur hukum. Sehingga bisa dibuktikan dengan benar ya. Nggak opini mendahului putusan gitu loh,” tandasnya.