Usai Rilis Memoar Kelam, Aurelie Moeremans Ngaku Kembali Diteror: Lucunya Ada yang Merasa!
Nama Aurelie Moeremans kembali menyita perhatian usai peluncuran memoar terbarunya berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth. Buku tersebut menjadi sorotan lantaran mengangkat kisah kelam masa remaja Aurelie yang mengaku menjadi korban grooming oleh mantan kekasihnya, seorang pria berusia jauh lebih dewasa saat dirinya masih berumur 15 tahun.
Dalam memoar itu, Aurelie membeberkan pengalaman berada dalam relasi yang penuh manipulasi dan kontrol. Ia menggambarkan bagaimana situasi tersebut perlahan merenggut kebebasan dan ruang aman, sebelum akhirnya ia berjuang untuk menyelamatkan diri dari lingkaran kekerasan tersebut. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Melalui kolom komentar di unggahan media sosialnya, Aurelie menegaskan bahwa penulisan buku itu bukanlah bentuk serangan personal.
"Aku nulis buku tentang pengalaman aku mengalami kekerasan saat umur 15 tahun. Niatnya sederhana, berbagi, tanpa sebut nama, tanpa serang siapa pun," kata Aurelie, dikutip Selasa 13 Januari 2026.
Namun, setelah potongan memoar tersebut viral di media sosial, Aurelie mengaku kembali merasakan tekanan. Ia menyebut ada pihak tertentu yang merasa tersinggung dan justru kembali mengusiknya.
"Lucunya, ada yang merasa, lalu malah ganggu aku lagi. Padahal caranya, justru berisiko buat dirinya sendiri. Selama ini aku memilih diam, tapi diam itu pilihan, bukan kewajiban. Dan setiap pilihan punya batas," ungkap Aurelie.
Situasi ini ikut menyeret perhatian publik pada akun Instagram Roby Tremonti, sosok yang diyakini warganet sebagai pria yang disebut Aurelie dengan nama samaran “Bobby” dalam bukunya. Meski tidak pernah disebut secara eksplisit, sejumlah netizen mengaitkan keduanya berdasarkan riwayat hubungan mereka di masa lalu.
Merespons derasnya spekulasi, Roby Tremonti mengunggah sejumlah kutipan bernuansa hukum yang menyinggung tuduhan, pencemaran nama baik, serta risiko hukum dari pernyataan di ruang publik. Ia menilai, meskipun namanya tidak tercantum dalam buku tersebut, dampaknya tetap terasa secara langsung.
“Dampak dari buku tersebut membuat akun Instagram saya mendapatkan komentar-komentar fitnah yang super liar,” ujarnya.
Roby juga menyoroti bagaimana opini publik terbentuk dengan cepat di era digital. Dalam pernyataan lanjutan, ia menyebut situasi tersebut sebagai bagian dari fenomena cancel culture.
“Tujuan dari sumber tersebut memang jelas mau membuat kredibilitas saya hancur, aka cancel culture bahasa modern sekarang,” tulisnya.
Di tengah ramainya perbincangan warganet, Roby tampak mengambil langkah membatasi interaksi di media sosial. Sejumlah unggahan di akun Instagram-nya kini hanya bisa dikomentari oleh akun tertentu, sementara beberapa unggahan lain menutup kolom komentar sepenuhnya.