Kades Menghilang Saat Desa Sambeng Menolak Tambang, Warga: Awale Debat Jebule Minggat

Hilangnya Kepala Desa (Kades) Sambeng di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, masih menjadi misteri.
Kades Sambeng Rowiyanto dikabarkan hilang sejak Desember 2025.
Menurut kesaksian warga dan perangkat desa, Kades Rowiyanto tidak dapat dihubungi sejak Jumat (5/12/2025) siang.
Dilansir dari , Humas Paguyuban Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan dan Tanah Air (Gema Pelita) Sambeng, Khairul Hamzah mengungkapkan, Rowiyanto sempat terlihat pada Kamis (4/12/2025).
“Itu selesai ada pertemuan warga di tanggal 4 Desember 2025. Itu kan pertemuan resmi warga dengan BPD dan juga Pemdes, termasuk beliau yang juga dihadiri oleh Pak Kapolsek. Kemudian juga dihadiri oleh Bapak Danramil,” kata Khairul.
Di pertemuan tersebut, warga Desa Sambeng menyatakan penolakan terhadap rencana penambangan tanah uruk untuk pembangunan jalan tol Jogja–Bawen.
Kemudian pada Jumat (5/12/2025) pagi, Kades Rowiyanto masih sempat menghadiri peletakan batu pertama pembangunan gedung Koperasi Merah Putih.
Nah, selepas agenda tersebut, Rowiyanto tidak lagi bisa dihubungi.
Tercatat sejak 5 Desember 2025, WhatsApp Rowiyanto tak bisa dihubungi dan hanya centang satu. Rumahnya pun kosong saat didatangi.
Warga pun menyatakan kekecewaannya. Mereka merasa ditinggalkan saat seharusnya berjuang bersama.
Warga menggeruduk DPRD
Dilansir dari , Kamis, warga Desa Sambeng sendiri saat ini terus berjuang melawan usulan tambang.
Pada Kamis (12/2/2026), warga Desa Sambeng sempat menggelar demonstrasi di DPRD Kabupaten Magelang.
Mereka menggelar aksi dengan membawa hasil tani dan menyuarakan seruan menolak rencana penambangan tanah uruk untuk tol Yogyakarta-Bawen di wilayah Desa Sambeng.
Hasil tani seperti pepaya, durian, kelapa, serta ketela sengaja dibawa sebagai simbol hasil bumi dari tanah yang hendak ditambang.
Warga desa berjuang menolak penambangan tanah di bawah payung Gema Pelita.
Dalam demo di DPRD itu, ada pemandangan tak biasa. Beberapa warga membentangkan poster dan banner yang justru bernada menyindir hilangnya Kades Rowiyanto.
Beberapa tulisan yang terlihat adalah, "Kades Bersama Rakyat Jarene" dan "Awale Debat Jebule Minggat".
Perjuangan warga Desa Sambeng
Menurut Khairul Hamzah, warga tidak ingin kejadian di penambangan pasir Sungai Progo berulang. Karena penambangan itu beroperasi tanpa pemberitahuan kepada warga terlebih dulu.
"Sempat terjadi penolakan, (penambangan pasir) berhenti. Kemudian, mereka datang lagi dengan mengatakan sudah mengantongi izin," ujar Khairul.
Berkaca dari pengalaman tersebut, warga Desa Sambeng menuntut segala proses menuju penerbitan izin usaha pertambangan (IUP) dihentikan.
Perjuangan warga Sambeng tidak pernah surut. Pada awal Januari 2026, warga Desa Sambeng sempat menggeruduk Kantor Pertanahan Kabupaten Magelang, demi menyerahkan surat bantahan persetujuan penggunaan tanah warga sebagai tambang tanah uruk untuk pembangunan tol.
Berdasarkan penelusuran Gema Pelita, ada 45 nama yang diduga dicatut dalam persetujuan tersebut.
Mereka menduga ada manipulasi data demi meloloskan izin tambang. Sebab, dari 45 warga yang dicatut, dua di antaranya sudah meninggal dunia, namun terdapat tanda tangan.
Kepala Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Magelang Sun Eddy Widijanto mengeklaim pihaknya baru mengetahui adanya dugaan data palsu tersebut beberapa bulan setelah PTP Pemanfaatan Ruang terbit pada 30 September 2025.
Terlebih, menurut Eddy, penerbitan PTP Pemanfaatan Ruang tidak mensyaratkan persetujuan pemilik tanah dan cukup dengan klarifikasi dengan kepala desa selaku penguasa wilayah.
Warga merasa berjuang sendirian
Diketahui, perjuangan warga Desa Sambeng menolak tambang ini sudah dimulai sejak Juli 2025, saat keresahan warga pertama kali mencuat usai pertemuan di Balkondes Sambeng.
Saat itu, CV Merapi Terra Prima memaparkan rencana penambangan tanah uruk, lengkap dengan skema kompensasi.
Namun, sekitar 80 warga yang hadir bersepakat untuk menolak. Kekhawatiran mereka jelas, yaitu mengenai dampak lingkungan, sosial, dan keamanan jika tambang ada di wilayah mereka.
Namun belakangan, beredar isu bahwa 90 persen warga pemilik tanah setuju. Warga Desa Sambeng langsung serentak membantah klaim tersebut.
“Sambeng ini desa kecil. Kami saling bertemu tiap minggu. Tidak ada yang mengizinkan tambang,” tegas Khairul.
Sementara itu, sejumlah warga mengaku didatangi sekelompok orang yang mengaku “tim”.
Mereka membawa narasi proyek strategis nasional, bahkan menggunakan bahasa intimidatif.
Kades Rowiyanto sendiri sempat menyatakan berpihak pada warga.
Rowiyanto bahkan menandatangani surat pernyataan siap mundur bila ingkar. Namun, sejak 5 Desember 2025, ia justru menghilang.
“Kami berjuang mati-matian, tapi orang tua kami malah pergi entah ke mana,” kata Khairul dengan getir.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang