Kisah Dokter Yose, Ubah Warung Kopi di Aceh Tamiang Jadi Klinik Darurat

Dokter Yose, Aceh Tamiang, banjir Aceh Tamiang, banjir aceh, banjir sumatera, bencana sumatera, dokter yose, Kisah Dokter Yose, Ubah Warung Kopi di Aceh Tamiang Jadi Klinik Darurat, Sempat terjebak di Aceh Tamiang, Perjalanan menuju Aceh Tamiang, Warkop jadi klinik darurat, Berburu benang jahit

Beberapa relawan medis merapat ke lokasi bencana di Sumatera, ke daerah yang paling parah terdampak, seperti di Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.

Salah satunya adalah dr Teuku Yose Mahmuddin Akbar, Sp. BS, spesialis bedah syaraf dari RSU Zainoel Abidin dan RS Ibu & Anak Banda Aceh.

Dokter Yose, demikian ia akrab disapa, terpanggil untuk merapat ke Aceh Tamiang demi membantu korban bencana yang terluka.

Ia mengubah warung kopi (warkop) jadi klinik darurat, dan mengobati ratusan korban dengan luka robek.

Bahkan, bedah minor pun ia lakukan di warkop tersebut.

Begini kisah dr Yose dari kawasan bencana, Aceh Tamiang.

Sempat terjebak di Aceh Tamiang

Menurut Fahmi Yunus, dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, dr Yose sempat hilang kontak 5 hari saat banjir besar menerjang, Rabu (26/12/2025).

"Dia terjebak di Aceh Tamiang saat dalam perjalanan bus dari Banda Aceh ke Medan, ketika banjir terjadi," ujar adik ipar dr Yose ini kepada Kompas.com, Rabu (10/12/2025). 

Diketahui, dr Yose melaju ke Medan dalam agenda menjenguk kerabatnya yang tinggal di sana.

"Sejak 26 dini hari itu nyangkut di Tamiangnya, bus gak bisa jalan. Lalu 5 hari tak ada kabar, baru beliau dievakuasi ke Medan tanggal 30 November, karena Tamiang lebih dekat ke Medan," ujarnya.

Dokter Yose diketahui berada di Medan hingga Selasa (2/12/2025).

Melihat parahnya kondisi di Tamiang, dr Yose memutuskan kembali ke sana selepas membeli bekal obat-obatan dan peralatan medis seadanya.

Perjalanan menuju Aceh Tamiang

Dihubungi melalu pesan singkat, dr Yose menceritakan perjalanannya kembali ke Aceh Tamiang pasca-banjir.

"Tanggal 2 Desember 2025 beli obat dan keperluan lain lalu berangkat dari Medan ke Tamiang via jalur laut (boat) tapi harus menginap di Pangkalan Susu karena badai," ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (9/12/2025) malam.

Dr Yose sempat mengusahakan adanya pengawalan karena beredar kabar bahwa ada penjarahan relawan.

Tapi untungnya, jalur boat aman dari penjarahan.

Setelah melewati akses yang tak mudah, dr Yose tiba di Tamiang pada Rabu (3/12/2025) dan masih bertahan di sana hingga hari ini, Rabu (10/12/2025).

Warkop jadi klinik darurat

Dokter Yose, Aceh Tamiang, banjir Aceh Tamiang, banjir aceh, banjir sumatera, bencana sumatera, dokter yose, Kisah Dokter Yose, Ubah Warung Kopi di Aceh Tamiang Jadi Klinik Darurat, Sempat terjebak di Aceh Tamiang, Perjalanan menuju Aceh Tamiang, Warkop jadi klinik darurat, Berburu benang jahit

Dokter Yose membuka klinik darurat di sebuah warkop di Aceh Tamiang.

Awalnya, dr Yose hanya membantu korban banjir yang menderita luka robek di sana sini. Kemudian, keluhan pengungsi pun bertambah, menjadi gangguan kutu air dan keluhan kulit lainnya.

"Saya juga melakukan bedah minor di Tamiang," ujarnya.

Di hari pertama di Tamiang, dr Yose mengaku menangani sekitar 100 orang korban. Dalam tiga hari, ia menangani sekitar 250-300 korban.

Warkop yang menjadi klinik darurat, adalah tempat perlindungan pengungsi sejak hari pertama bencana.

Dokter Yose membuka klinik tersebut karena rumah sakit resmi di Aceh Tamiang rusak dan tidak bisa beroperasi.

Warkop tersebut memiliki tiga lantai, dan semua lantai sudah terisi penuh pengungsi hingga hari ini.

"Perkiraan saya ada 300-600 orang total semua. Karena 1 lantai 100-200 orang, dan semua penuh, bahkan sesak," ujar dr Yose.

Awalnya, ketika pertama kali menginjakkan kaki di Tamiang yaitu pada 3 Desember 2025, klinik darurat yang tersedia hanya di warkop tersebut.

"Awalnya hanya ini, tapi saat ini ada beberapa, tadi saya datang di sekitar lokasi kami ada 3 yang berdekatan" sambungnya.

Menurut dr Yose, di klinik darurat, yang paling dibutuhkan adalah petugas medisnya, terutama dokter.

"Akan lebih baik lagi yang berpengalaman di kebencanaan," ujar dr Yose.

Berburu benang jahit

Pasokan obat dan peralatan medis di Tamiang pasca-banjir memang sangat terbatas.

Menurut pengakuan dr Yose, ia sempat kehabisan benang jahit untuk bedah. Hingga ia harus membelinya di kota Pangkalan Brandan, Sumatera Utara, yang berjarak sekitar 53,3 km dari Tamiang.

"Sempat klinik kami kekurangan benang jahit, hingga harus membeli hingga ke kota Pangkalan Brandan. Berangkat sore, tapi cuaca buruk dan ada antrean BBM, baru bisa kembali jam 3 lewat dini hari. Itu pun cuma beli 4 benang, karena keterbatasan dana," papar dr Yose.

"Tapi saat ini benang jahit sudah banyak tersedia, karena disumbang Mbak Najwa Shihab dan saya minta di posko lain yang punya lebih," sambung dr Yose.

Dicukil dari Instagram Fahmi Yunus, @fahmiyunus, setiap harinya ada ratusan orang yang merapat di klinik darurat di warkop Aceh Tamiang.

Selain mengeluhkan luka robek dan patah tulang, banyak pasien yang juga mengeluhkan asma, penyakit jantung, dan diabetes.

"Penyintas banjir banyak yang sakit. Ada yang luka, patah tulang, sakit jantung, asma, hingga diabetes. Beliau membuka klinik darurat di warkop karena rumah sakit resmi rusak dan tidak bisa beroperasi, sementara layanan medis sangat dibutuhkan," tulis Fahmi Yunus dalam sebuah video yang menampakkan dr Yose tengah membantu beberapa pasien, termasuk melakukan bedah minor.

Bagi masyarakat yang ingin meringankan beban saudara-saudara kita di Sumatera, bisa menyalurkan bantuan melalui link ini: https://kmp.im/BencanaSumatera.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang