Tere Liye Murka Prabowo ke Pakistan saat Rumah Warga Aceh Masih Terendam Lumpur dan Mayat-mayat Belum Ditemukan
Kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke Pakistan memicu perbincangan hangat di media sosial.
Kunjungan kenegaraan tersebut jadi sorotan lantaran dilakukan saat sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera masih menghadapi dampak banjir bandang dengan banyak warga yang belum sepenuhnya tertangani.
Penulis Tere Liye menjadi salah satu yang angkat suara. Ia menyampaikan kritik tajam, terutama terkait timing kunjungan tersebut.
Penulis novel Negeri Para Bedebah, Tere Liye
“Belum kering pak itu lumpur di rumah-rumah korban banjir. Mayat-mayat belum ditemukan semua. Yang susah payah nyari bantuan juga masih banyak,” tulis Tere Liye melalui Instagram pribadinya dikutip VIVA Rabu, 10 Desember 2025.
Tere Liye menilai situasi di lapangan masih sangat membutuhkan perhatian, namun ia tampak sangat kecewa saat mengetahui kabar Prabowo justru pergi ke luar negeri.
“Lucunya, setelah dia 'ngomelin' Bupati Aceh Selatan pergi umroh. Yang umroh itu masih mending, pakai duit sendiri. Bapak presiden jalan-jalan ke Pakistan begini, entah berapa belas miliar duit negara dipakai. Di saat korban banjir masih susah,” sindirnya.
Menurutnya, ketidakkonsistenan ini mencerminkan persoalan lebih besar dalam kepemimpinan.
“Begitulah negeri ini. Hilang sudah marwah. Orang lain tidak boleh, dia boleh. Mulai dari level netizen sampai puncak pejabatnya. Dan semua merasa baik-baik saja,” tandasnya.
“Tapi tapi tapi kan dia ke sana bahas lingkungan, tapi tapi tapiiii. Utk berpikir adil dan konsisten saja kita susah payah. Kita bangsa yang besaaaar! Besar halunya!” tandasnya.
Sebagai informasi, kedatangan Prabowo Subianto di Pakistan dilaporkan disambut langsung oleh Presiden Pakistan Asif Ali Zardari dan Perdana Menteri Muhammad Shehbaz Sharif di Nur Khan Airbase.
Kunjungan ini sekaligus memperingati 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Pakistan. Selain pertemuan bilateral, Prabowo dijadwalkan berdiskusi dengan sejumlah pihak mengenai peluang kerja sama baru di berbagai sektor, termasuk perdagangan, investasi, pertahanan, kesehatan, teknologi informasi, iklim, pendidikan, dan budaya.
Beberapa nota kesepahaman (MoU) juga diperkirakan akan ditandatangani selama agenda tersebut.