Sebab Blue Fire Ijen Padam dan Apakah Permanen? Ini Penjelasannya
Fenomena api biru atau blue fire di Kawah Ijen kembali menjadi sorotan setelah kabar muncul bahwa cahaya biru ikonis tersebut padam.
Informasi itu langsung berdampak besar pada sektor wisata lokal, terutama para pelaku usaha di sekitar kawasan Paltuding, Bondowoso, Jawa Timur.
Homestay sepi, okupansi anjlok hingga 10 persen
Dalam satu bulan terakhir, tingkat kunjungan wisatawan ke Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen turun drastis.
Pengusaha homestay, Siti Agustina, mengaku bahwa tamu banyak membatalkan pesanan begitu mendengar kabar bahwa blue fire tidak muncul.
Biasanya, seluruh dari 20 kamar homestay miliknya hampir selalu terisi. Namun kini, hanya sekitar dua kamar yang terisi dalam sepekan.
“Banyak yang batal karena dengar blue fire mati,” kata Siti.
Ia bahkan terpaksa merumahkan 5 dari 8 pekerja akibat pendapatan yang merosot tajam.
Mengapa blue fire Ijen padam?
Kepala TWA Ijen, Sigit Haribowo, membenarkan bahwa blue fire memang tidak tampak untuk saat ini.
Namun, penyebabnya bukan fenomena alam atau perubahan permanen, melainkan faktor teknis.
Menurut Sigit, pihak perusahaan pengelola sublimasi belerang sedang melakukan perawatan dan penggantian pipanisasi.
Api biru (Blue Fire) terlihat keluar dari kawah Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (23/6/2018). Kawah Ijen dengan kedalaman 200 meter menjadi salah satu dari dua lokasi di dunia yang memiliki fenomena api biru selain Islandia, membuat Ijen menjadi tujuan utama pendaki dari berbagai pelosok negeri hingga mancanegara.
Proses itu melibatkan penyiraman area tertentu sehingga memengaruhi keluarnya gas belerang yang menjadi “bahan bakar” bagi munculnya blue fire.
“Ada penyiraman sehingga tidak ada kegiatan api biru. Itu karena perawatan dan penggantian pipa,” ujarnya.
Sigit menegaskan bahwa penyebab padamnya blue fire bukan kerusakan alam, melainkan dampak sementara dari proses teknis pengelolaan tambang belerang.
Apakah blue fire Ijen padam permanen?
Berdasarkan penjelasan pihak TWA Ijen, fenomena blue fire tidak hilang secara permanen. Cahaya biru tersebut merupakan reaksi alami dari gas belerang yang terbakar ketika bertemu udara.
Selama aktivitas vulkanik Ijen masih memproduksi gas belerang, fenomena ini tetap dapat muncul.
Namun, muncul atau tidaknya blue fire dapat dipengaruhi beberapa kondisi, antara lain:
- Aktivitas teknis tambang belerang, seperti perawatan pipa atau penyiraman area kerja.
- Kondisi cuaca, terutama pada musim hujan yang dapat mengurangi visibilitas dan memengaruhi kemunculan api.
- Kecepatan angin dan debit gas, yang menentukan intensitas cahaya biru.
- Dengan kata lain, blue fire padam bukan karena hilang, tetapi karena akses gas belerang yang terbakar sementara terganggu.
Selain kabar mengenai blue fire, Sigit menyebutkan bahwa penurunan kunjungan wisatawan juga wajar terjadi karena musim hujan merupakan periode low season Kawah Ijen.
Artikel ini telah tayang di dengan judul "Blue Fire" di Kawah Ijen Padam, Kunjungan Wisata Anjlok Sebulan Terakhir.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang