DPRD Jabar Kritik Pagar Gedung Sate Model Kerajaan dan Habiskan Rp3,9 M, Dedi Mulyadi: Jangan Ikutin Netizen
Rencana pembangunan pagar baru di kawasan Gedung Sate yang disebut-sebut mengadopsi konsep arsitektur “kerajaan” atau menyerupai gerbang Candi Bentar (sebutan bagi bangunan gapura berbentuk dua banguna serupa) mendapat kritik tajam dari anggota DPRD Jawa Barat Zaini Shofari. Ia menilai desain tersebut tidak sesuai dengan sejarah arsitektur Gedung Sate maupun filosofi bangunan yang sudah berdiri sejak 1924 itu.
Ketua Fraksi PPP DPRD Jabar Zaini Shofari menjelaskan bahwa pagar yang saat ini dibangun menurut diskominfo disebut Candi Bentar, namun Zaini mengatakan istilah candi bentar sendiri memiliki makna khusus dalam bahasa Sanskerta, yakni terbelah.
Pagar Gedung Sate bergaya Kerajaan
Menurutnya Gerbang Candi Bentar selalu memiliki dua sisi yang simetris dan lurus sebagai simbol pemisah antara ruang luar dan ruang dalam. Model ini banyak ditemukan di Jawa, termasuk di Keraton Kesepuhan dan berbagai bangunan bercorak Hindu-Jawa.
“Kalau di Candi Bentar itu, bentuknya utuh terpisah dua sisi. Sedangkan pintu masuk Gedung Sate itu utuh, tidak terbelah. Jadi kalau mau memakai istilah Candi Bentar, itu tidak tepat menempatkannya di Gedung Sate.” kata Zaini, Jumat (21/11/2025).
Lebih Lanjut Zaini mengatakan Gedung Sate sendiri dibangun pada tahun 1924 dengan gaya arsitektur Indo-Eropa yang memadukan unsur Hindu dan Islam. Bagian atasnya memiliki enam tusuk sate yang melambangkan 6 juta gulden anggaran pembangunan kala itu.
"Di bawahnya terdapat tiga umpak yang melambangkan Iman, Islam, dan Ihsan. Struktur bangunannya juga dipengaruhi desain arsitektur Alhambra peninggalan Bani Umayyah di Granada, Spanyol," kata Zaini.
Lebih lanjut kata Zaini, bangunan Gedung Sate sendiri memiliki pilar-pilar bulat, jendela khas, dan ornamen yang sarat simbol. Karena itu, DPR menilai bahwa pagar baru seharusnya mengikuti karakter arsitektur Gedung Sate, bukan sekadar dibuat berdasarkan ide mendadak tanpa kajian mendalam.
“Kalau tiba-tiba ada pagar dengan bentuk yang tidak sesuai, apalagi dengan warna putih-merah yang kontras dengan Gedung Sate, itu akan merusak estetika keseluruhan,” tegasnya.
Selain persoalan estetika dan sejarah, Zaini juga mempertanyakan urgensi pembangunan pagar tersebut. Dengan anggaran mencapai Rp3,9 miliar, proyek ini dinilai tidak sebanding dengan kebutuhan mendesak masyarakat.
Ia menyinggung perbandingan anggaran bantuan untuk santri miskin hanya dialokasikan sebesar
Rp5,1 miliar selisih sedikit dengan anggaran pagar yang mencapai miliaran rupiah.
“Jadi sepenting itukah ornamen pagar? Apa lebih penting pagar daripada mencerdaskan kehidupan bangsa, termasuk membantu para santri?” ujarnya. Apalagi anggaran untuk sarana keagamaan pada 2025 ini sudah dipangkas drastis, dari Rp153 miliar menjadi tinggal Rp5,1 miliar.”katanya.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi
Zaini mengatakan DPRD menegaskan bahwa proyek sebesar itu harus memiliki kajian arsitektur, sosial, budaya, dan historis yang matang. Pembangunan pagar tidak boleh hanya berorientasi pada estetika, apalagi jika desainnya bertentangan dengan filosofi bangunan bersejarah seperti Gedung Sate.
“Ini bukan soal pagar saja, tapi soal menghormati sejarah, estetika, dan prioritas anggaran publik,” tutupnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barar Dedi Mulyadi mengatakan bahwa pembangunan pagar tersebut sudah sesuai kajian arsitek.
"Jangan ngikutin netizen, kita ngikutin arsitek. Kalau ngikutin netizen gak akan selesai selesai, nanti banyak versinya. Tapi banyak juga netizen yang memuji ko, ngak ada masalah," tegas Dedi. (Laporan Cepi Kurnia, tvOne, Bandung)