Top 7+ Fakta Pro Kontra Renovasi Gedung Sate Bergaya Candi Bentar Senilai Rp 3,9 Miliar
- 1. Renovasi Sudah Lama Direncanakan Pemprov Jabar
- 2. Tujuan Utama: Penguatan Struktur dan Identitas Budaya
- 3. Usung Konsep Candi Bentar Khas Jawa Barat
- 4. Anggaran Rp 3,9 Miliar dari APBD Perubahan
- 5. Pemprov Pastikan Tidak Ganggu Layanan Publik
- 6. Tidak Menyentuh Struktur Cagar Budaya
- 7. Pro dan Kontra Muncul di Masyarakat
Renovasi pilar bergaya Candi Bentar di area luar Gedung Sate memantik pro dan kontra di masyarakat.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyebut pekerjaan tersebut penting untuk memperkuat struktur sekaligus menegaskan identitas budaya.
Namun, di sisi lain, sejumlah warga mempertanyakan urgensi penataan ulang yang menelan anggaran Rp 3,9 miliar itu di tengah upaya efisiensi. Berikut tujuh faktanya.
1. Renovasi Sudah Lama Direncanakan Pemprov Jabar
Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai melakukan perombakan pada pilar di area luar Gedung Sate, Kota Bandung.
Kepala Diskominfo Jabar, Adi Komar, mengatakan proyek tersebut bukan rencana baru, melainkan bagian dari peninjauan ulang yang seharusnya dilakukan sejak lama.
"Memang ini kan sudah lama ya, pagar dan sarana personal lainnya yang melingkari ini sudah lama tidak ditinjau ulang dan sudah lama tidak direnovasi. Ini sekalian kami renovasi karena kemarin-kemarin kan juga ada aktivitas-aktivitas masyarakat, ada unjuk rasa, dan lain-lain," ujarnya saat ditemui di Gedung Sate, Kamis (20/11/2025).
2. Tujuan Utama: Penguatan Struktur dan Identitas Budaya
Adi menjelaskan bahwa renovasi dilakukan untuk memperkuat area luar Gedung Sate agar tetap aman sekaligus menjaga nilai budaya bangunan bersejarah tersebut.
"Kami ingin memperkokoh lagi area sekitar Gedung Sate, terutama di bagian luar. Ya, itu salah satunya. Selanjutnya juga kami ingin tetap mempertahankan ikon Jawa Barat ini. Gedung Sate ini, selain sebagai kantor, tetapi juga sebagai ikon khas budaya Jawa Barat," tuturnya.
3. Usung Konsep Candi Bentar Khas Jawa Barat
Pilar yang sedang dibangun menerapkan konsep arsitektur Candi Bentar. Menurut Adi, desain itu dipilih karena menjadi bagian dari tradisi arsitektur keraton di Jawa Barat.
"Jadi, pilar ini konsepnya bentuknya Candi Bentar. Jadi, ini banyak digunakan, saat ini masih digunakan di keraton-keraton yang ada di Jawa Barat. Jadi, ini khas Jawa Barat," katanya.
Ia menambahkan bahwa desain tersebut menjadi elemen penting untuk menonjolkan kembali karakter budaya di lingkungan Gedung Sate.
"Terutama yang ini, ada pilar-pilar ini yang memang tadi menunjukkan lebih ke bagaimana memunculkan ikon budaya Jawa Barat di lingkungan Gedung Sate," jelasnya.
4. Anggaran Rp 3,9 Miliar dari APBD Perubahan
Renovasi pilar di sisi barat dan timur Gedung Sate menghabiskan dana sebesar Rp 3,9 miliar. Anggaran tersebut telah masuk dalam APBD Perubahan dan disahkan sesuai perencanaan.
"Sesuai dengan yang direncanakan, yang ditetapkan dalam APBD Perubahan, yaitu Rp 3,9 miliar," ujar Adi.
5. Pemprov Pastikan Tidak Ganggu Layanan Publik
Meski tengah melakukan efisiensi anggaran, Pemprov Jabar memastikan bahwa proyek ini tidak mengganggu layanan publik karena sudah dijadwalkan dalam APBD Perubahan.
"Ya, ini memang sudah direncanakan di APBD Perubahan dan dipastikan tidak mengganggu layanan publik ya," tutur Adi.
Adi menegaskan pemugaran diperlukan untuk memperkuat struktur lama yang mulai menua akibat waktu dan aktivitas masyarakat yang cukup intens di area tersebut.
6. Tidak Menyentuh Struktur Cagar Budaya
Adi memastikan renovasi tidak merombak struktur utama Gedung Sate yang berstatus cagar budaya. Namun demikian, konsultasi tetap dilakukan dengan Balai Cagar Budaya untuk memastikan seluruh proses sesuai ketentuan.
"Pilar ini kan di luar parkir, tidak masuk cagar budaya yang inti, ya. Artinya bukan bangunannya. Namun, kami juga konsultasi ke Balai Cagar Budaya. Selama ini berjalan dengan lancar koordinasinya," ujarnya.
Gedung Sate kini juga berfungsi sebagai salah satu objek wisata, selain sebagai kantor administrasi pemerintahan. Pemprov menambahkan fasilitas Bale Panganggeuhan di dalam area gedung sebagai ruang aduan untuk masyarakat.
"Apalagi sekarang di dalam sudah ada fasilitas Bale Panganggeuhan. Tempat orang untuk mengadu, ini bagian dari fasilitas publik juga," katanya.
7. Pro dan Kontra Muncul di Masyarakat
Renovasi pilar ini memunculkan tanggapan berbeda dari warga Kota Bandung. Sebagian menilai langkah Pemprov Jabar tepat karena mampu memperindah gedung bersejarah yang menjadi ikon ibu kota provinsi.
Andi Hermawan (21), warga Coblong, menyebut penataan yang mempertahankan gaya budaya lokal dapat menjadi nilai tambah.
"Saya setuju-setuju saja selama itu tidak merusak Gedung Sate, apalagi itu kan bangunan bersejarah ya, sebagai ikon Kota Bandung," katanya.
Ia menilai perawatan bangunan tua perlu dilakukan agar tidak rusak seiring waktu.
"Kalau untuk perawatan harus. Kan sayang juga kalau bangunan bersejarah dibiarkan nanti rusak, apalagi ini jadi simbol kalau ke Bandung," ujarnya.
Warga lainnya, Ijal (19) dari Kiaracondong, menilai renovasi boleh saja dilakukan selama tidak mengubah karakter bangunan.
"Ya itu misalkan kalau malah makin bagus ya enggak apa-apa. Tapi, tetap harus sesuai dengan Gedung Sate, asal jangan sampai beda, kan nanti gimana gitu," ucapnya.
Namun, kritik juga muncul dari sebagian warga yang menilai anggaran tersebut terlalu besar dan kurang tepat digunakan saat ini.
"Kata saya, mending uangnya dipakai yang lain dulu, misalkan masalah sampah, terus banjir, belum beres di Bandung," ujar Irfan Fitra (23), warga Sumur Bandung.
Senada, Kevin (34), warga Cimahi Utara, menilai anggaran Rp 3,9 miliar dapat membantu kebutuhan publik lain.
"Uangnya cukup besar, tetapi kalau dibagi misal untuk bansos atau bikin layanan kesehatan gratis, lumayan juga," katanya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.