3,5 Miliar Anomali Trafik Jadi Ancaman, Solusi Keamanan Siber Mulai Diperkuat
Perkembangan teknologi digital di Indonesia memang membawa banyak kemudahan. Namun di balik kemajuan tersebut, ancaman siber justru tumbuh semakin cepat dan kompleks. Dalam beberapa tahun terakhir, serangan digital tidak lagi menjadi isu kecil, melainkan ancaman serius bagi berbagai sektor, mulai dari bisnis hingga layanan publik.
Data terbaru berdasarkan laporan yang dikeluarkan BSSN menunjukkan bahwa terdapat lebih dari 3,5 miliar anomali trafik yang menargetkan infrastruktur digital Indonesia sepanjang 2025, mencakup sektor IoT, OT, sistem pembayaran digital, hingga API. Hal ini menjadi alarm penting bahwa keamanan siber tidak bisa lagi dianggap sebagai pelengkap, tetapi harus menjadi fondasi utama dalam transformasi digital.
Tak hanya jumlah serangan yang meningkat, tantangan lain juga muncul dari sisi kesiapan sumber daya manusia. Kekurangan tenaga ahli di bidang keamanan siber menjadi salah satu persoalan besar yang harus segera diatasi agar Indonesia tidak tertinggal dalam menghadapi era digital yang semakin agresif.
Para pelaku industri teknologi menilai bahwa tren serangan siber akan terus meningkat seiring dengan semakin banyaknya perusahaan yang beralih ke sistem digital. Setiap aktivitas yang terhubung dengan internet membuka peluang baru bagi peretas untuk mencoba menembus sistem.
Serangan digital disebut tidak selalu dilakukan oleh pelaku profesional. Banyak di antaranya justru dilakukan oleh individu yang sekadar mencoba kemampuan teknis mereka.

"Untuk hack itu makin besar karena semua perusahaan sekarang digital sehingga impactnya potentially hacker itu juga makin banyak," ungkap Buddy Restiady, Finance & Risk Management Director Digiserve di Jakarta pada Selasa, 28 April 2026.
Ia juga menambahkan bahwa pelaku serangan berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar hingga kelompok profesional yang memang mencari keuntungan finansial dari aktivitas ilegal tersebut.
Selain itu, ancaman lain yang sering terjadi adalah serangan melalui email palsu atau phishing. Teknik ini terlihat sederhana, namun sangat berbahaya karena dapat memberikan akses langsung ke sistem perusahaan.
"Phishing mail itu begitu kita klik langsung connect ke sistem, dia akan masuk melalui jaringan digital," jelasnya.
Dari hal yang dijelaskan, solusi dihadirkan oleh perusahaan teknologi Digiserve yang mulai memperkenalkan langkah kolaboratif melalui sebuah kolaborasi strategis dengan DBM Works Solusi Indonesia.
Kolaborasi ini melibatkan teknologi keamanan siber dari Korea Selatan yang dikenal memiliki sistem pengawasan jaringan yang sangat matang. Pendekatan ini dilakukan untuk menjawab tantangan besar yang saat ini dihadapi Indonesia, terutama dalam menghadapi serangan digital yang semakin kompleks.
Salah satu solusi yang diperkenalkan adalah layanan pemantauan keamanan secara terpusat. Sistem ini dirancang untuk mengawasi aktivitas jaringan secara terus-menerus, sehingga ancaman dapat terdeteksi sebelum menimbulkan kerugian besar. Sistem pemantauan semacam ini berfungsi layaknya ruang kendali utama.
"Di SOC itu bisa dilihat traffic data sehingga jika ada aktivitas-aktivitas mencurigakan bisa langsung terdeteksi dan bisa langsung dicegah sebelum terjadi insiden cybersecurity," jelas Edi Nopian Mulia, Vice President (VP) IT, Product & Solution di Digiserve.
Selain ancaman serangan, Indonesia juga menghadapi kesenjangan talenta digital yang cukup besar. Kebutuhan tenaga ahli di bidang keamanan siber diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Beberapa institusi pendidikan mulai merespons tantangan ini dengan membuka program studi terkait keamanan siber. Namun, jumlah lulusan yang tersedia masih belum mampu memenuhi kebutuhan industri.
Kolaborasi antara pemerintah, universitas, dan perusahaan teknologi menjadi kunci penting dalam menutup kesenjangan tersebut. Program pelatihan dan transfer pengetahuan dari negara lain juga dinilai sebagai langkah strategis untuk mempercepat peningkatan kemampuan tenaga kerja lokal.
Di era digital saat ini, keamanan siber tidak bisa lagi dipandang sebagai biaya tambahan yang membebani perusahaan. Sebaliknya, perlindungan sistem digital merupakan investasi penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis.
Tanpa sistem keamanan yang memadai, risiko kerugian akibat serangan digital bisa sangat besar. Bahkan dalam beberapa kasus, satu serangan saja dapat menimbulkan kerugian miliaran rupiah.
Oleh karena itu, berbagai pihak kini mulai menyadari bahwa menjaga keamanan digital adalah tanggung jawab bersama. Mulai dari perusahaan, pemerintah, hingga masyarakat umum perlu memiliki kesadaran yang sama untuk meningkatkan perlindungan data dan sistem digital.