Fenomena Baru! Mahasiswa Mulai Jadikan AI Partner Diskusi

Wow! Speaker Pintar Buatan Anak Negeri Ini Mampu Kembangkan Kecerdasan Buatan. (FOTO: Pixabay)
Wow! Speaker Pintar Buatan Anak Negeri Ini Mampu Kembangkan Kecerdasan Buatan. (FOTO: Pixabay)

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara mahasiswa di Tanah Air dalam proses belajar di kampus. Jika dulu mahasiswa hanya mengandalkan dosen, buku atau teman kini mahasiswa mulai menjadikan AI sebagai partner diskusi untuk memahami materi kuliah, mengembangkan ide, hingga menciptakan inovasi dari hasil belajar di dalam kelas.

Fenomena penggunaan AI di lingkungan kampus menunjukkan perubahan pola belajar di kalangan mahasiswa. Teknologi tidak lagi sekadar dipakai untuk mencari jawaban instan, tetapi mulai digunakan sebagai ruang diskusi dan eksplorasi ide.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Country Marketing Manager Google Indonesia, Muriel M, membenarkan bahwa AI di lingkungan kampus tidak hanya berfokus pada membantu mahasiswa menyelesaikan tugas akademik, tetapi juga mendorong lahirnya kreativitas dan pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab. Muriel menyampaikan, Google mengembangkan teknologi AI dengan berbagai fitur baru yang semakin mendukung proses pembelajaran mahasiswa. Sejumlah teknologi seperti Veo 3, Lyria, hingga NotebookLM.

"Kami ingin melihat mahasiswa mampu memanfaatkan teknologi AI ini untuk tiga hal. Yang pertama adalah untuk mendorong produktivitas perkuliahan. Itu nomor satu. Nomor dua adalah menciptakan solusi yang reafir di kampus. Ketiga adalah untuk menjadi role model," kata Muriel dalam acara Inagurasi Google Student Ambassador 2026 di Jakarta.

Syahdika Kurnia Azhari atau Dika, mahasiswa Teknik Elektro di Politeknik Negeri Medan, menjadi salah satu yang memanfaatkan AI sebagai teman diskusi. Ia terbiasa mempelajari berbagai hal yang bersifat praktikal, mulai dari rangkaian listrik hingga sistem teknik yang harus diuji secara langsung.

Selama bertahun-tahun, ia memandang dunia engineering sebagai sesuatu yang sepenuhnya fisik dan bergantung pada praktik laboratorium. Namun perspektif itu mulai berubah ketika ia mengenal Gemini, AI yang dikembangkan Google. 

Bagi Dika, AI bukan pengganti proses belajar utama, melainkan alat bantu untuk memperluas pemahaman. Ia menggunakan Gemini untuk menyusun ide, mengeksplorasi konsep, hingga memahami sistem teknik secara lebih menyeluruh.

“AI membantu saya melihat suatu sistem dari perspektif yang lebih luas. Jadi bukan hanya memahami teori, tetapi juga bagaimana konsep itu bisa dikembangkan,” beber Dika dalam sesi Talkshow Inagurasi Google Student Ambassador 2026 di Jakarta.

Dika juga memanfaatkan Gemini untuk mensimulasikan konsep sistem pengisian daya kendaraan listrik langsung dalam proses belajarnya. Hal yang sebelumnya membutuhkan perangkat lunak khusus kini bisa dieksplorasi lebih cepat melalui bantuan AI.

Dika bersama timnya mengembangkan She Success sebuah aplikasi yang dirancang untuk membantu perempuan pelaku usaha kecil untuk mengembangkan bisnis mereka di daerah Sei Rotan. Inspirasi proyek tersebut lahir dari pengalaman pribadi Dika melihat perjuangan ibunya dan banyak perempuan wirausaha kecil lainnya. 

Bagi Dika, AI membantu mempercepat proses berpikir dan eksplorasi ide menjadi inovasi nyata yang berdampak. Sebagai alumni Google Student Ambassador (GSA) angkatan 2025, program GSA memberinya ruang untuk mengubah gagasan menjadi solusi yang memiliki dampak sosial.

Google Indonesia terus mendorong sosok seperti Dika untuk menularkan pemanfaatan AI sebagai teman diskusi, bukan hanya sekadar membantu mengerjakan tugas secara instan. Antusiasme pelajar yang tinggi terhadap teknologi ini, mendorong Student Ambassador kembali hadir pada tahun 2026 yang melibatkan 2.000 mahasiswa dari seluruh Indonesia. Program ini akan terus mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya mahir teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya untuk menjawab tantangan nyata.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Kalian semua adalah role model yang kata mahasiswa-mahasiswa lain bisa luhaktu dan gimana secara memanfaatkan AI untuk para artis dan pertanggung jawab Dan ini semua dari tiga hal ini kita harapkan bisa membentuk komunitas mahasiswa yang literasi AI-nya unggul dan bagus," tutur Muriel.

Kehadiran fitur-fitur tersebut menunjukkan bahwa AI kini berkembang bukan hanya sebagai alat pencari informasi, tetapi juga sebagai partner belajar yang mampu membantu mahasiswa memahami materi, menyusun gagasan, hingga menghasilkan karya kreatif secara lebih efisien.