Jelang Tahun Baru, Intip Tren Wisata yang Banyak Dicari Wisatawan

Ilustrasi berwisata.
Ilustrasi berwisata.

 Setiap tahun, cara orang berlibur selalu berubah mengikuti gaya hidup dan kebutuhan zaman. Jika dulu liburan identik dengan kemewahan dan foto-foto estetik di destinasi terkenal, kini banyak orang mulai mencari makna lebih dalam dari setiap perjalanan. Liburan bukan lagi sekadar pelarian dari rutinitas, tapi juga cara untuk menemukan keseimbangan diri dan menciptakan kenangan yang berkesan.

Tren wisata pun ikut berevolusi seiring perubahan ini. Kini, berwisata tak lagi sekadar tentang destinasi populer, tetapi juga soal pengalaman yang bermakna dan personal.

“Tren wisata ke depan adalah keseimbangan antara pengalaman, keberlanjutan, dan tanggung jawab. Harga menjadi nomor dua ketika wisatawan sadar akan nilai dari pilihannya. Wisatawan mencari experience, bukan sekadar tempat. ,” kata Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, dalam live talkshow belum lama ini. 

Kementerian Pariwisata terus memperkuat arah promosi pariwisata Indonesia menuju pendekatan yang lebih berkelanjutan dan bernilai tambah. Melalui strategi komunikasi yang menekankan pengalaman, kebersihan, dan tanggung jawab sosial, Kemenpar ingin memastikan promosi pariwisata tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas destinasi dan citra Indonesia di mata dunia.

“Karena itu, pelayanan dan ekosistem pariwisata kita harus naik kelas. Kebersihan itu keharusan. Orang berwisata ingin mendapatkan pengalaman terbaik. Kalau tidak bersih, berarti belum naik kelas,” ujarnya.

Menurut Ni Made, keberlanjutan tidak bisa dilepaskan dari keseimbangan antara alam, budaya, dan kesejahteraan masyarakat.

“Pariwisata yang baik adalah yang menjaga lingkungan, melestarikan budaya, dan memakmurkan masyarakat. Tiga hal itu harus jalan bersama,” katanya.

Kemenpar kini berfokus pada Program Unggulan Kementerian Pariwisata 2025 yang menjadi arah transformasi menuju pariwisata masa depan. Ada lima fokus utama. Pertama, transformasi digital melalui Tourism 5.0 dengan penerapan kecerdasan buatan untuk membantu wisatawan menemukan destinasi berkelanjutan. Kedua, penguatan subsektor gastronomi, bahari, dan wellness tourism yang menjadi bagian dari inisiatif Pariwisata Naik Kelas.

Ketiga, penyelenggaraan event bertaraf global dengan kekayaan intelektual Indonesia untuk memperkuat identitas dan daya saing kreatif bangsa di panggung dunia. Keempat, pengembangan desa wisata berbasis komunitas yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan. Kelima, penguatan kebersihan dan higienitas destinasi sebagai kelanjutan dari Gerakan Wisata Bersih yang kini telah menjadi praktik baku di banyak daerah wisata.

Menurutnya, pariwisata dunia sedang mengalami perubahan arah. Wisatawan tak lagi sekadar mencari tempat indah, melainkan juga nilai, makna, dan kontribusi.

“Kita ingin pariwisata Indonesia dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya, tapi juga karena cara kita menjaga dan menghargai yang kita miliki,” kata Ni Made.