Cerita Warga Saat Longsor di Cibeunying: Saya Gendong Anak Sambil Nangis

jawa barat, tanah longsor, Cilacap, longsor Cibeunying, Cerita Warga Saat Longsor di Cibeunying: Saya Gendong Anak Sambil Nangis

Suasana tenang di Dusun Cibuyut dan Tarukahan, Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, berubah mencekam pada Kamis (13/11/2025) malam.

Dentuman keras terdengar dari arah bukit yang berada tepat di atas permukiman warga.

Tak lama berselang, bukit itu ambrol. Longsoran besar menerjang kawasan hunian dan meratakan belasan rumah hanya dalam hitungan detik. Dua warga dilaporkan meninggal dunia, sementara 21 orang lain masih dicari.

Yayung (62), salah satu korban selamat, masih mengingat jelas detik-detik mengerikan itu. Ia baru pulang dari tahlilan dan sedang mencuci kaki di teras.

"Saya baru pulang tahlilan, masih di teras cuci kaki. Tiba-tiba ada suara gemuruh keras banget, seperti suara pesawat," kata Yayung, Jumat (14/11/2025).

Dua anak Yayung berusaha lari keluar rumah. Keduanya sempat tertimpa reruntuhan, tetapi berhasil diselamatkan.

"Anak saya telat keluarnya, sudah kejatuhan reruntuhan, tapi masih bisa lari, alhamdulillah selamat, habis itu rumah langsung ambruk," ujarnya.

Kedua anak Yayung—berusia 28 tahun dan 11 tahun—kini dirawat di rumah sakit karena patah tulang. Istrinya juga selamat karena berada di teras saat tanah bergerak. Namun, seluruh harta benda mereka, termasuk empat sepeda motor, hilang tertimbun.

"Barang tidak ada yang selamat, semua ketimbun," ucapnya sambil memandangi puing rumahnya.

“Begitu Cepat, Tanpa Tanda-tanda”

Edi, warga Dusun Cibuyut lainnya, juga menjadi saksi langsung bagaimana tanah bergerak menghantam kampung mereka. Menurutnya, longsor terjadi tanpa peringatan.

"Saya lagi ngopi di rumah tetangga sekitar jam setengah delapan malam. Tiba-tiba ada bunyi gemuruh, keras sekali. Kayak suara truk nurunin muatan," kenang Edi.

Begitu mendongak ke arah bukit, ia melihat tanah bergerak cepat disertai hembusan angin kuat.

"Ada angin kencang banget dari arah longsor. Tahu-tahu gelap semua. Saya lihat pohon kelapa itu jalan di atas tanah," ujarnya.

Dalam kondisi gelap dan penuh debu, pikiran Edi langsung tertuju pada anaknya yang tidur di rumah. Ia berlari menerobos material longsor dan tanah yang masih labil.

"Kamar anak saya untungnya tidak kena. Tapi rumah saya roboh semua. Saya gendong anak sambil nangis. Syok banget," kata dia.

Sebelumnya diberitakan, longsor besar melanda Dusun Cibuyut dan Tarukahan pada Kamis malam. Dua warga ditemukan meninggal, sementara 21 orang lain masih dalam pencarian.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Cilacap, Budi Setyawan, menjelaskan bahwa hujan deras sejak Kamis sore membuat tebing di atas pemukiman tidak mampu menahan beban air.

"Material tanah tebing kemudian ambruk dan menimbun permukiman warga sekitar pukul 20.00 WIB," ujar Budi, Jumat (14/11/2025).

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.