PDI-P Tolak Gelar Pahlawan Soeharto: Itu Pengkhianatan terhadap Reformasi
— Politikus PDI Perjuangan, Guntur Romli, menegaskan bahwa partainya menolak penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto.
Menurut Guntur, PDI-P hanya menerima sembilan dari sepuluh tokoh yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto sebagai penerima gelar pahlawan nasional tahun 2025.
“PDI Perjuangan menerima gelar pahlawan bagi Gus Dur, Marsinah, dan lain-lain, kecuali kepada Soeharto. Kami menolak gelar pahlawan pada Soeharto,” ujar Guntur kepada Kompas.com, Selasa (11/11/2025).
Kritik PDI-P: Gelar Pahlawan Soeharto Menyakiti Reformasi
Guntur menilai keputusan memberikan gelar pahlawan kepada Soeharto merupakan pengkhianatan terhadap semangat Reformasi 1998.
“Bagaimana mungkin sosok yang sudah digulingkan rakyat Indonesia tiba-tiba disebut pahlawan? Bagaimana mungkin Marsinah dan Gus Dur yang menjadi sasaran kekerasan di era Orde Baru, pelaku dan korbannya sama-sama ditempatkan sebagai pahlawan?” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa negara semestinya menuntut tanggung jawab hukum, bukan memberi penghargaan.
“Negara seharusnya menagih kepada Soeharto dan ahli warisnya ganti rugi triliunan sebagaimana putusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap, bukan malah memberikan gelar pahlawan dan tunjangan tahunan, belum lagi proses pengadilan HAM berat,” imbuhnya.
Gelar Pahlawan Nasional 2025
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada 10 tokoh dalam upacara di Istana Negara, Jakarta, pada Senin (10/11/2025).
Acara tersebut diawali dengan pengumandangan lagu “Indonesia Raya”, dilanjutkan prosesi mengheningkan cipta yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo.
“Marilah kita sejenak mengenang arwah dan jasa-jasa para pahlawan yang telah berkorban untuk kemerdekaan, kedaulatan, dan kehormatan bangsa Indonesia,” kata Prabowo dalam sambutannya.
Penganugerahan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional, yang ditetapkan di Jakarta pada 6 November 2025.
Sejumlah ahli waris tokoh-tokoh yang mendapatkan gelar Pahlawan Nasional mengikuti prosesi pemberian gelar di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025). Presiden Prabowo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh yang dinilai berjasa besar bagi Indonesia, antara lain K.H. Abdurrahman Wahid, Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto, Marsinah, Mochtar Kusumaatmaja, Hj. Rahma El Yunusiyyah, Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, Sultan Muhammad Salahuddin, Syaikhona Muhammad Kholil, Tuan Rondahaim Saragih, dan Zainal Abidin Syah. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/nz
Daftar 10 Penerima Gelar Pahlawan Nasional 2025
nama tokoh yang menerima gelar pahlawan nasional tahun 2025:
- Abdurrahman Wahid (Gus Dur) – tokoh dari Jawa Timur
- Jenderal Besar TNI Soeharto – tokoh dari Jawa Tengah
- Marsinah – tokoh dari Jawa Timur
- Mochtar Kusumaatmadja – tokoh dari Jawa Barat
- Hajjah Rahma El Yunusiyyah – tokoh dari Sumatera Barat
- Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo – tokoh dari Jawa Tengah
- Sultan Muhammad Salahuddin – tokoh dari Nusa Tenggara Barat
- Syaikhona Muhammad Kholil – tokoh dari Jawa Timur
- Tuan Rondahaim Saragih – tokoh dari Sumatera Utara
- Zainal Abisin Syah – tokoh dari Maluku Utara
Dalam upacara tersebut, gelar pahlawan nasional untuk Soeharto diterima oleh putri sulungnya, Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto), sebagai ahli waris.
Simbol Politik di Balik Penghargaan
Bagi sebagian pihak, pemberian gelar kepada Soeharto dianggap sebagai upaya rekonsiliasi sejarah antara generasi pasca-Reformasi dan warisan Orde Baru.
Namun bagi yang menolak, keputusan ini justru membuka kembali luka lama bangsa, mengingat Soeharto digulingkan lewat gerakan rakyat pada 1998 karena krisis ekonomi dan dugaan pelanggaran HAM.
PDI-P menegaskan, sikapnya bukan sekadar politik oposisi, melainkan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai Reformasi.
“Menolak bukan berarti melawan negara, tapi menjaga memori publik agar sejarah tak dibolak-balik,” ujar Guntur menegaskan.
Sebagian artikel ini telah tayang di KOMPAS.com dengan judul .
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.