Sosok Tuan Rondahaim Saragih yang Dinugerahi Gelar Pahlawan, Sang Napoleon der Bataks yang Ditakuti Belanda 

Tuan Rondahaim Saragih Garingging
Tuan Rondahaim Saragih Garingging

 Presiden Prabowo Subianto menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh yang berjasa bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan pada Senin, 10 November 2025. Salah satu diantaranya adalah Tuan Rondahaim Saragih dari Sumatera Utara (Sumut). 

Dikutip dari VIVA, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, menuturkan penetapan sepuluh nama-nama tersebut merupakan hasil finalisasi setelah Prabowo menerima masukan dari berbagai tokoh termasuk Ketua MPR RI Ahmad Muzani dan Wakil Ketua DPR. Sebagai informasi ada 49 nama yang diusulkan untuk mendapat gelar Pahlawan Nasional. 

Sebelum dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, Rondahaim pernah menerima tanda kehormatan bintang jasa sebagai Tokoh Provinsi Sumut dari Presiden BJ Habibie berdasarkan Kepres RI NO.077/TK/TAHUN 1999 tertanggal 13 Agustus 1999. 

Nama Tuan Rondahaim Saragih Garingging sudah tak asing bagi masyarakat Kota Pematang Siantar dan Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Sosoknya diabadikan sebagai nama jalan dan rumah sakit daerah di wilayah tersebut.

Rondahaim merupakan Raja ke-14 Kerajaan Raya yang kini menjadi bagian dari Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun. Ia dikenang sebagai pemimpin tangguh dan menentang keras penjajahan Belanda di Sumatera dengan strategi perang yang membuat pasukan kolonial kesulitan menembus wilayah kekuasaannya.

Selama masa kepemimpinannya, Rondahaim menggerakkan berbagai taktik perang yang efektif. Karena kegigihannya, Belanda menjulukinya sebagai Napoleon der Bataks, setelah ia turut berperang di wilayah Residen Sumatera Timur dan memimpin aksi pembakaran tembakau Deli.

Bahkan, Rondahaim membentuk pasukan gabungan dari sembilan kerajaan kecil yang ada di wilayah Simalungun, termasuk Raja Siantar, Sidamanik, Tanah Jawa, dan Purba. Pasukan itu dilatih menjadi prajurit gerilya dan kavaleri dan mengangkat Torangin Damanik dari Kerajaan Sidamanik sebagai Panglima Besar.

Dikenal cerdik dan tanpa kompromi terhadap kolonial, Rondahaim kerap menggunakan siasat untuk melindungi rakyatnya. Ia mengutus seorang pengawal yang berwajah mirip dirinya untuk menghadiri pertemuan untuk berunding di Pelabuhan Matapao,

Strategi tersebut berhasil mengelabui pihak Belanda. Baru saja utusan itu turun, pasukan Belanda langsung menembaknya. 

Rondahaim wafat pada tahun 1891 dan dimakamkan di Desa Aman Raya, Kecamatan Raya, Simalungun. Seusai kepergiannya yang diketahui secara tidak sengaja dari seorang pendeta Belanda, pasukan kolonial itu langsung menyerbu wilayah Simalungun.

Hanya dalam empat tahun, Belanda mampu menaklukkan tujuh kerajaan kecil yang sebelumnya berada di bawah perlindungan Rondahaim. Mirisnya, tidak ada yang tersisa dari Kerajaaan Raya yang dipimpin Rondahaim.