Harga Minyak Dunia Ambles 11 Persen Usai Iran Buka Selat Hormuz

Ilustrasi Minyak Mentah
Ilustrasi Minyak Mentah

Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam setelah Iran mengumumkan bahwa jalur pelayaran strategis Selat Hormuz kembali dibuka untuk kapal-kapal komersial. Sentimen ini langsung mendorong reli di pasar saham Amerika Serikat (AS), bahkan membuat dua indeks utama Wall Street mencetak rekor tertinggi baru.

Selat Hormuz merupakan jalur penting perdagangan energi global karena menjadi pintu utama distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah ke berbagai negara. Ketika akses di wilayah ini terganggu akibat konflik geopolitik, harga minyak biasanya melonjak tajam karena kekhawatiran terhadap pasokan global.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun, pada Jumat, 17 April 2026, pasar justru merespons positif usai Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Selat Hormuz kembali terbuka selama masa gencatan senjata berlangsung.

“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur untuk semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka selama sisa periode gencatan senjata, melalui rute terkoordinasi seperti yang telah diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran,” tulis Abbas Araghchi dalam unggahannya di platform X.

Pernyataan tersebut langsung memicu penurunan harga minyak mentah secara signifikan. Melansir dari NBC News, Sabtu, 18 April 2026, harga minyak mentah AS (U.S. crude oil) turun 11,4 persen menjadi US$83,85 per barel atau setara Rp1,42 juta per barel, menjadi level terendah sejak 10 Maret.

Sementara itu, minyak mentah Brent internasional juga merosot 9 persen menjadi US$90,38 per barel atau sekitar Rp1,53 juta per barel.

Penurunan ini menjadi salah satu penurunan harian terbesar sejak perang dimulai. Tidak hanya itu, kontrak berjangka minyak pemanas yang menjadi acuan bahan bakar jet juga turun 10 persen, sedangkan kontrak bensin grosir RBOB turun 5 persen.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut merespons kabar tersebut melalui platform Truth Social. “Iran baru saja mengumumkan bahwa Selat Iran sepenuhnya terbuka dan siap untuk lalu lintas penuh. Terima kasih!”

Namun, Trump juga menegaskan bahwa blokade laut terhadap Iran masih tetap diberlakukan. “Blokade angkatan laut akan tetap berlaku penuh terhadap Iran saja, sampai transaksi kami dengan Iran 100 persen selesai.”

Analis GasBuddy Patrick De Haan menilai penurunan harga minyak ini berpotensi cepat menurunkan harga bahan bakar bagi konsumen. “Ini bisa mempercepat penurunan harga bahan bakar mulai akhir pekan ini dengan rata-rata nasional kemungkinan turun di bawah US$4 per galon hingga mungkin US$3,65-US$3,85,” tulis De Haan.

Sebagai gambaran, harga rata-rata bensin di AS pada Jumat siang berada di level US$4,09 per galon atau sekitar Rp69.530 per galon, menurut data AAA, dan terus turun beberapa sen setiap hari sepanjang pekan ini.

Meski begitu, harga minyak masih tergolong tinggi dibanding awal tahun. Sejak perang dimulai, harga minyak mentah AS masih naik 25 persen, dan melonjak lebih dari 45 persen sejak awal 2026.

Sentimen positif ini juga mengangkat pasar saham Wall Street. Indeks S&P 500 ditutup naik 1,2 persen dan membukukan kenaikan mingguan lebih dari 4,5 persen. Nasdaq Composite naik 1,5 persen dengan kenaikan mingguan mencapai 6,8 persen. Keduanya resmi ditutup di level rekor tertinggi baru. Indeks Dow Jones juga melonjak 868 poin atau 1,8 persen, sementara Russell 2000 naik 2,1 persen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun ke 4,24 persen, level terendah sejak 18 Maret, menunjukkan investor mulai lebih optimistis terhadap stabilitas ekonomi.

Reaksi positif juga terjadi di Eropa. Indeks Stoxx 600 naik 1,4 persen, indeks DAX Jerman melonjak 2,2 persen, saham Prancis naik 2 persen, dan indeks FTSE 100 Inggris menguat hampir 1 persen.