Bahaya Ungkit Biaya Pendidikan Saat Anak Gagal SNBT
Baru-baru ini, media sosial diramaikan oleh unggahan seorang remaja yang berniat mengakhiri hidup usai gagal lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
Anak tersebut mengaku putus asa karena ayah dan ibunya menunjukkan reaksi yang sangat kecewa, bahkan mengungkit biaya yang sudah dikeluarkan untuk pendidikannya. Padahal, sebelumnya mereka berjanji tidak akan marah dan kecewa jika sang anak gagal masuk kampus impian.
Rasa kecewa orangtua saat anak gagal menembus kampus negeri memang bisa dipahami, apalagi jika sudah banyak uang yang dikeluarkan untuk membayar sekolah dan berbagai les.
Namun, memarahi anak dan mengungkit masalah biaya di saat mereka sedang terpuruk, justru sangat berbahaya bagi mental anak, sekaligus bisa merenggangkan hubungan keluarga.
Beban ekspektasi dan kekecewaan orangtua
Psikolog Klinis Dewasa, Divani Aery Lovian, M.Psi., Psikolog, menilai bahwa perasaan merugi yang dialami orangtua adalah hal yang manusiawi.
Menurutnya, hal tersebut berakar dari runtuhnya harapan yang telah dibangun dengan tekun selama bertahun-tahun. Orangtua merasa telah memberikan segalanya, mulai dari waktu, tenaga, hingga materi.
"Banyak warga di Indonesia itu keberhasilan akademik itu kan dikaitkan sama keberhasilan pengasuhan ya, dan ini sampai sekarang masih banyak ditemukan," tutur Divani saat dihubungi pada Jumat (29/5/2026).
Akibat pandangan masyarakat tersebut, kegagalan anak masuk perguruan tinggi impian diartikan sebagai kegagalan orangtua dalam mendidik.
Beban moral dan ketakutan akan penilaian lingkungan sekitar membuat sebagian orangtua merespons situasi secara defensif.
"Akibatnya, ketika anak gagal, sebagai orangtua juga tanpa sadar ikut ngerasa gagal jadi orangtua. Sudah investasi banyak tapi ternyata enggak bisa," tutur Divani.
Rasa malu dan cemas akan masa depan anak pada akhirnya terakumulasi dan meledak menjadi kemarahan atau deretan kalimat menyakitkan. Itu sebabnya orangtua perlu juga menenangkan diri sebelum menghadapi sang anak yang sedang bersedih.
Ilustrasi keluarga beraktivitas di rumah.
Menanggung rasa bersalah
Di sisi lain, anak yang menyadari kekecewaan orangtuanya akan memikul beban psikologis berlipat ganda.
Kegagalan menembus perguruan tinggi negeri, ditambah dengan kegagalan memenuhi harapan keluarga, membuat mereka semakin tersudut.
Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Alida Shally Maulinda, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa anak pasti kebingungan ketika mendapati orangtua yang awalnya berjanji untuk tidak kecewa, ternyata menunjukkan reaksi sebaliknya.
"Sayangnya, ini sering terjadi sehingga membuat anak tidak hanya merasa gagal lolos SNBT, tetapi juga gagal memenuhi harapan orangtua. Rasa kecewa pun akhirnya semakin menyesakkan dada," ungkap Alida saat dihubungi pada Jumat.
Dalam kondisi ini, anak sangat membutuhkan ruang aman untuk membicarakan ketakutan mereka tanpa khawatir dihakimi.
"Biasanya orangtua juga merasa kecewa karena sudah melihat perjuangan anak selama ini, yang berarti orangtua sebenarnya menghargai perjuangan anak," terang Alida.
Pemahaman dari diskusi yang terbuka sangat penting disampaikan agar anak menyadari bahwa kegagalan tersebut bukan berarti kasih sayang keluarga telah hilang atau tergantikan oleh kemarahan.
Dampak fatal mengungkit biaya les
Rasa kecewa terkadang membuat seseorang mengucapkan sesuatu tanpa disadari akibatnya, seperti halnya ketika orangtua mengungkit biaya yang sudah dihabiskan untuk pendidikan anaknya.
"Justru yang ditangkap itu adalah pesan bahwa si anak ini menganggap dirinya itu adalah beban, atau mungkin kekecewaan atau aib gitu ya buat keluarga," jelas Divani.
Pemikiran semacam itu akan menghancurkan fondasi kepercayaan diri anak secara perlahan. Keberhasilan akademis seolah bertransformasi menjadi kewajiban untuk membayar lunas pengorbanan orangtua.
"Anak mungkin saja merasa terluka dan mengganggap bahwa dirinya adalah beban yang menyusahkan orangtua karena gagal," tutur Alida.
Lebih lanjut, tekanan verbal semacam itu terbukti merugikan perkembangan pola pikir dan karakter anak di masa depan.
Mereka berisiko mengambil jalan pintas yang tidak baik demi sebuah prestasi sesaat, atau justru sepenuhnya menyerah pada keadaan tanpa mau berjuang lagi.
"Di sisi lain, mungkin saja anak menjadi takut untuk gagal lagi sehingga takut mencoba lagi, menarik diri, serta kehilangan motivasi untuk melakukan sesuatu yang mendukung perkembangannya," pungkas Alida.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang