Rupiah Melemah Seiring Rencana Prabowo Revisi Aturan Devisa Hasil Ekspor SDA

Ilustrasi Uang Rupiah
Ilustrasi Uang Rupiah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.589 per Selasa, 21 Oktober 2025. Posisi rupiah itu melemah 4 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.585 pada perdagangan Senin, 20 Oktober 2025.

Sementara perdagangan di pasar spot pada Rabu, 22 Oktober 2025 hingga pukul 09.15 WIB, rupiah ditransaksikan di level Rp 16.617 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 30 poin atau 0,18 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.587 per dollar AS.

Ilustrasi mata uang Rupiah.

Presiden Prabowo Subianto disebut berpeluang merevisi aturan mengenai penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam atau DHE SDA 100 persen di dalam negeri.

Sebelumnya, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8/2025, yang mengatur bahwa eksportir wajib menempatkan DHE SDA yang mereka peroleh 100 persen selama 12 bulan di dalam negeri.

"Namun, belakangan Presiden Prabowo kerap mengevaluasi penerapan DHE SDA di beberap rapat terbatas (ratas)," ujar Ibrahim.

Sebelumnya, Presiden Prabowo disebut belum puas dengan dampak DHE SDA terhadap cadangan devisa (cadev) Indonesia.

Pemerintah menyoroti bahwa pemberlakukan PP itu belum berdampak besar kepada cadev.  

Sebagai informasi, per akhir September 2025, Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa sebesar US$148,7 miliar. Jumlahnya mengalami penurunan dalam tiga bulan berturut-turut, yakni pada bulan Juni, Juli, dan Agustus 2025.

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.580 - Rp 16.610," ujarnya.