Sebagian Orang Perfeksionis Sulit Menikmati Waktu Istirahat, Mengapa Bisa Begitu?

Sebagian Orang Perfeksionis Sulit Menikmati Waktu Istirahat, Mengapa Bisa Begitu?

Bagi sebagian orang, waktu istirahat bisa menjadi momen untuk mengisi ulang energi.

Namun bagi sebagian orang dengan sifat perfeksionis, beristirahat justru sering memunculkan rasa bersalah.

Mereka merasa harus terus produktif, menyelesaikan target, atau melakukan sesuatu yang “bermanfaat”.

Akibatnya, rebahan sejenak atau mengambil jeda sering dianggap sebagai kemalasan, bukan kebutuhan.

Perfeksionis Sulit Lepas dari Tuntutan Diri

Fenomena ini cukup umum terjadi pada individu perfeksionis.

Mereka cenderung menetapkan standar tinggi terhadap diri sendiri dan sulit merasa puas dengan pencapaian yang dimiliki.

Menurut psikoterapis Sharon Martin, DSW, LCSW dari Psychology Today, perfeksionisme bukan sekadar keinginan untuk melakukan yang terbaik.

Dalam banyak kasus, kondisi ini juga berkaitan dengan rasa takut gagal dan takut dinilai buruk oleh orang lain.

Psikolog klinis Yesel Yoon mengatakan, perfeksionis sering kali memiliki gambaran ideal yang sangat tinggi terhadap hasil akhir suatu pekerjaan.

Karena itu, mereka merasa harus selalu bekerja keras demi memenuhi ekspektasi tersebut.

Akibat pola pikir tersebut, waktu istirahat kerap dianggap menghambat produktivitas. Bahkan ketika tubuh sudah lelah, mereka tetap merasa perlu “melakukan sesuatu”.

Self-Care Kerap Dianggap Tidak Produktif

Dikutip dari Psychology Today, banyak para perfeksionis memandang self-care sebagai sesuatu yang egois atau tidak cukup produktif.

Mereka terbiasa mengaitkan nilai diri dengan pencapaian dan hasil kerja.

Karena itulah, saat berhenti sejenak untuk beristirahat, muncul rasa cemas, bersalah, atau takut dianggap tidak maksimal.

Perfeksionisme juga disebut berkaitan dengan kecemasan, stres kronis, hingga burnout.

Orang perfeksionis cenderung terus mengkritik diri sendiri dan sulit memberi ruang untuk kesalahan kecil.

Psikolog Claudia Hammond mengatakan perfeksionis biasanya menempatkan diri di bawah tekanan besar karena merasa tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun.

You can't make a single mistake,” kata Hammond saat menjelaskan bagaimana perfeksionisme membuat seseorang sulit merasa cukup.

Dampaknya Bisa Mengganggu Kesehatan Mental

Di sisi lain, kebiasaan selalu mengejar kesempurnaan juga dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan menikmati pencapaian kecil maupun waktu santai.

alih merasa bangga setelah menyelesaikan sesuatu, mereka justru hanya merasa lega karena berhasil memenuhi ekspektasi.

Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memicu kelelahan mental karena seseorang terus merasa harus bekerja lebih keras demi mencapai standar yang dibuat sendiri.

Sebagian Orang Perfeksionis Sulit Menikmati Waktu Istirahat, Mengapa Bisa Begitu?

Virgo dikenal perfeksionis, tapi juga penuh kasih. Simak 7 cara mencintai wanita Virgo agar hubungan lebih harmonis dan langgeng.

Belajar Menganggap Istirahat sebagai Kebutuhan

Beberapa psikolog menyarankan agar perfeksionis mulai belajar melihat istirahat sebagai bagian penting dari produktivitas, bukan tanda kemalasan.

Self-care tidak selalu berarti liburan mahal atau berhenti total dari pekerjaan.

Hal sederhana seperti tidur cukup, berjalan santai, membatasi pekerjaan di akhir pekan, hingga memberi jeda pada diri sendiri juga termasuk bentuk merawat kesehatan mental.

Selain itu, penting untuk membangun self-compassion atau sikap berbelas kasih terhadap diri sendiri.

Orang perfeksionis sering merasa nilai dirinya ditentukan oleh hasil yang sempurna, padahal manusia tetap bisa berharga meski melakukan kesalahan.

Belajar menerima bahwa tidak semua hal harus sempurna memang tidak mudah.

Namun dengan pola pikir yang lebih fleksibel, seseorang dapat tetap berkembang tanpa terus-menerus merasa tertekan.

Jadi, istirahat bukan musuh produktivitas. Tubuh dan pikiran juga membutuhkan jeda agar bisa kembali bekerja dengan sehat dan seimbang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang