Gagalkah Proyek Naturalisasi? Sepak Bola adalah Wajah Kita

piala dunia 2026, naturalisasi timnas, Gagalkah Proyek Naturalisasi? Sepak Bola adalah Wajah Kita

KATA apa yang tepat untuk mewakili pupusnya harapan Indonesia ikut dalam kompetisi sepak bola terbesar dunia? Rasanya sulit mencari satu atau dua kata yang bisa mewakilinya. 

Komentar banyak fans, pengamat, dan pecinta sepak bola—mulai dari lapo tuak, warung kopi, hingga coffee shop—sungguh warna-warni. Semua kata mewakili kekesalan, kesedihan, hingga kemarahan.

Upaya para pendukung timnas yang meluap-luap adalah wujud kecintaan pada Ibu Pertiwi, pada olahraga yang paling banyak menyorot mata dunia. Itu dari sisi kita sebagai pendukung setia timnas.

Bagaimana dengan para pemain, ofisial, hingga PSSI sendiri? Saya tidak ingin menebak-nebak apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Yang pasti, kita kalah. Kekalahan selalu mewakili kekecewaan sekaligus kesedihan.

Tentu yang paling terpukul selain para fans adalah para pemain itu sendiri. Mereka memikul beban ganda, terutama pemain naturalisasi.

Mengapa? Karena ekspektasi kita begitu tinggi kepada mereka; alasan paling kuat mengapa proyek naturalisasi dilakukan adalah untuk menang, titik. Harapan paling tinggi tentu lolos Piala Dunia—tidak lain dan tidak bukan.

Sekarang waktu yang tepat untuk kita kembali belajar—dari kemenangan maupun dari kekalahan demi kekalahan.

Saya, jika boleh jujur, pernah bertungkus lumus dalam dunia sepak bola Indonesia. Tidak terlalu lama, hampir belasan tahun.

Mulai dari mengelola klub hingga menjadi bagian dari pengurus PSSI. Berdasarkan pengalaman yang tidak panjang itu, saya ingin berbagi pandangan dalam tulisan ini.

Gagalkah proyek naturalisasi?

Pertanyaan yang hari ini mungkin banyak ditanyakan adalah: apakah proyek naturalisasi kita gagal? Jawabannya beragam.

Jika ukurannya kemenangan, tentu kita bisa menyebut “gagal”. Namun, sebuah proses bukan hanya soal kalah-menang.

Kita juga tidak boleh lupa adagium dalam sepak bola: “Untuk apa bermain indah di lapangan kalau tidak ada gol yang tercipta?”

Bahasa sederhananya, ujung dari pertandingan adalah kemenangan. Cara pandang semacam ini sah-sah saja. Pada poin ini, saya ingin menggarisbawahi bagaimana kita memberi makna pada sepak bola dan naturalisasi.

Lantas, bagaimana kita memaknai sepak bola dan naturalisasi?

Naturalisasi adalah buah dari cinta. Naturalisasi adalah panggilan dari sejarah. Naturalisasi memiliki modal sistem kerja, kerangka pikir, hingga ekosistem—dari usia anak-anak sampai dewasa—yang kemudian “pindah rumah” ke ekosistem yang baru.

Padahal, kita bisa melihat bahwa sepak bola dan naturalisasi yang terjadi di Indonesia mencerminkan cara kita menyelesaikan persoalan.

Jika dianalogikan dengan kehidupan sehari-hari, sepak bola memberi pelajaran penting: bukankah kepuasan tertinggi hadir ketika masalah selesai dalam ruang pertarungan “duel” 11 vs 11, dan kemarahan tertinggi diselesaikan di tangan wasit?

Belum lagi pengaruh luar lapangan terhadap keputusan wasit. Jika itu kita tarik ke kehidupan sehari-hari, bagaimana kondisi kehidupan sosial kita hari ini? Mirip, bukan?

Perlu diingat dan menjadi catatan kita bersama, sepak bola dan naturalisasi juga mencerminkan ketiadaan “jaminan”—jaminan untuk menang.

Sama halnya dengan produk investasi: tidak boleh ada jaminan balas jasa. Sama halnya juga dengan hidup: Tuhan bekerja untuk semua; bukankah kita menolak gagasan bahwa “tangan-tangan Tuhan” hanya bekerja untuk segelintir orang? Mengubah “tanpa jaminan” menjadi “jaminan” itu sendiri.

Sepak bola dan naturalisasi juga cerminan dari aturan. Mari kita lihat: dalam sepak bola ada offside, kartu kuning, kartu merah, anulir gol; bahkan sekarang ada VAR.

Semua pihak tahu aturannya sebelum pertandingan; tidak ada cerita aturan berubah saat pertandingan sedang berjalan.

Bukankah dalam kehidupan bernegara kita juga punya aturan seperti itu? Bagaimana kondisinya?

Terakhir, sepak bola dan naturalisasi adalah cerminan karakter. Konon, dulu ada kisah legendaris: PSMS Medan mewakili karakter lugas dan cepat; Persib dan Persija mewakili teknik tinggi.

Ada istilah klub luar Jawa disebut blue collar, klub Jawa disebut white collar: kerja keras versus gaya. Semuanya bermuara pada sikap pantang menyerah melawan privilege. Bagaimana karakter kita hari ini?

Sepak bola adalah wajah kita

Sepak bola adalah pertemuan cinta dan panggilan. Emosi dan rasional. Darah dan keringat. Bakat dan sistem. Sekali lagi, sepak bola adalah cermin paling jernih dari wajah sosial kita.

Coba lihat siapa yang hadir: pejabat, pengusaha, pelajar, profesor, dosen, tukang sate, kondektur, CEO, kaya, miskin.

Jika dilakukan sebuah penelitian, sepak bola adalah unsur metodis paling lengkap; ia melebihi representasi responden survei Pilpres, Pilkada, Pileg, BPOM, atau lainnya.

Apa yang terjadi di luar lapangan turut menggambarkan wajah sosial kita. Industri sepak bola selalu menarik sebagai laboratorium.

Dalam sebuah laga, antarrumah judi saling bersaing; dalam hal ini data statistik menjadi penting.

Misal, sehari sebelum pertandingan dimulai, Messi atau Ronaldo tiba-tiba demam dan muntah; situasi itu akan mengubah statistik pertandingan, dan rumah judi pun memperbarui probabilitasnya.

Apakah dunia sosial-politik kita juga bekerja dengan pola seperti itu?

Sekarang mari lihat dunia sepak bola kita secara lebih makro. Sebagai contoh, dukungan bukan hanya saat pertandingan besar dengan ikut “perburuan tiket”. Dukungan semestinya berlaku sejak pertandingan usia dini.

Kegagalan Timnas ke Piala Dunia adalah warning bahwa kita harus kembali ke dasar. Mari lihat dasar para pemain naturalisasi; mereka adalah produk dari “supporting merit”-nya Belanda—hampir 90 persen hasil binaan piramida kompetisi KNVB, negeri kincir angin tersebut.

Bagaimana dengan kondisi di Tanah Air? Kompetisi kita masih jauh, “hidup segan, mati tak mau”.

Kita bahkan belum berbicara bahwa sebuah klub wajib memenuhi aspek sporting, infrastructure, personnel & administration, legal, dan finance.

Mungkinkah itu membaik jika hanya berharap pada angan-angan tanpa “campur tangan Tuhan” yang diwujudkan dalam kerja nyata untuk membangun asa?

Sepak bola adalah bentuk kejujuran yang paling mudah dikenali karena permainannya menjadi tontonan terbuka—tentu juga terbuka terhadap segala komentar: manis, asam, pedas; kasar atau halus.

Tidak boleh ada ketersinggungan berlebihan. Jawaban paling ampuh atas semua komentar, analisis, dan respons para pendukung adalah: istirahat, kembali ke papan tulis (benahi semua ekosistem industri sepak bola), lalu latihan dan latihan.

Bercermin dari sepak bola dan naturalisasi yang sudah kita jalani, bukankah itu pantulan dari cermin wajah kita—wajah sendi-sendi kehidupan warga negara Indonesia? Jika pantulan itu masih membuat kita marah, lantas apa penyebabnya?

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.