Cerita Masa Kecil Lionel Messi, Dulu Anak Bertubuh Mungil, Kini Jadi Legenda Sepak Bola
Lionel Messi tumbuh dari lingkungan sederhana di Rosario, Argentina, sebelum namanya menjelma sebagai salah satu pesepak bola terbesar dalam sejarah dunia.
Bakat Messi bahkan disebut membuat pelatih masa kecilnya, Enrique Dominguez, merasa tidak perlu lagi melatih pemain lain setelah pernah menangani sosok yang ia anggap sebagai “pemain terbaik di dunia”.
Kini, Messi bersiap menatap Piala Dunia keenamnya bersama Argentina, tim yang ia bawa menjadi juara dunia pada edisi sebelumnya atau Piala Dunia 2022.
Jejak masa kecil Messi di Rosario
Messi lahir sebagai anak ketiga dari empat bersaudara di Rosario, kota di tepi Sungai Parana, Argentina.
Rumah masa kecilnya berada di La Bajada, sebuah distrik kelas pekerja yang kini menjadi tempat ziarah bagi para penggemar sepak bola dari berbagai negara.
Kisah hidup Messi juga tergambar di sejumlah dinding dan gedung tinggi di Rosario melalui mural berukuran besar.
Salah satu mural menampilkan tulisan, “Dari galaksi lain, tetapi dari lingkungan saya,” sebagai gambaran betapa istimewanya sosok Messi bagi warga setempat.
Di sekitar rumah lamanya, sebuah bendera Kolombia juga terlihat tergantung di pagar, berdampingan dengan bendera Argentina berukuran lebih kecil.
“Leo, kehebatanmu melampaui batas, terima kasih atas semua sepak bola dan keajaibannya. Seorang warga Kolombia yang berterima kasih,” demikian pesan pada bendera tersebut.
Bagi warga Rosario, Messi bukan hanya bintang dunia, melainkan anak dari lingkungan mereka yang berhasil membawa nama kota itu dikenal luas.
Bakat yang terlihat sejak kecil
Salah satu teman masa kecil Messi, Walter Barrera, masih mengingat hari-hari ketika mereka tumbuh bersama di sekitar kawasan La Bajada.
Walter mengenang jalan pintas menuju sekolah yang biasa mereka lewati melalui lubang di pagar kawat berduri di sekitar pangkalan militer.
Pada suatu kesempatan, keduanya sempat dikejar tentara yang berjaga karena melewati jalur tersebut.
“Kami sedikit nakal, tetapi kami bukan anak-anak yang buruk,” kata Walter kepada AFP sambil tersenyum.
Saat kecil, Messi dan teman-temannya sempat mencoba berbagai olahraga, mulai dari rugby, baseball, hingga footvolley.
Namun, arah hidup Messi sejak awal tampak lebih dekat dengan sepak bola. “Kami tahu dia akan sukses, dia jago,” ujar Walter.
Pada usia lima tahun, kecepatan kaki Messi sudah menarik perhatian di klub lokalnya.
Tubuhnya yang kecil membuat ia dijuluki La Pulga atau Si Kutu, tetapi kemampuan olah bolanya jauh melampaui anak-anak seusianya.
Messi kemudian bergabung dengan Malvinas Argentinas, akademi muda Newell’s Old Boys, klub besar Rosario yang hingga kini masih menjadi tim favoritnya.
Di Newell’s, Messi bertemu dengan Enrique Dominguez, pelatih yang kelak menyebut bakatnya sebagai sesuatu yang sangat langka.
“Bagi saya, dia seperti anugerah dari Tuhan,” kata Dominguez, yang kini berusia 72 tahun.
Dominguez mengaku tidak melihat banyak hal yang perlu diajarkan kepada Messi karena kemampuan sang pemain sudah terlihat matang sejak usia belia.
“Suatu hari seseorang bertanya kepada saya, ‘Apa yang Anda kenali dari pengajaran Anda ketika Anda melihat Leo bermain?’ Tidak ada, karena tidak ada yang perlu diajarkan kepadanya. Dia sudah tahu segalanya,” ujar Dominguez.
Menurut Dominguez, hal-hal yang dilakukan Messi di lapangan saat ini sudah tampak sejak ia berusia 12 tahun.
Perjalanan ke Barcelona dan mimpi Piala Dunia keenam
Penyerang Inter Miami Lionel Messi (kanan) dan putranya, pemain U12 Inter Miami Thiago Messi terlihat di depan gawang selama pertandingan sepak bola perdana Inter Miami CF Youth International Cup antara Inter Miami U12 dan Orlando SC U12 di Chase Stadium di Fort Lauderdale, Florida, pada 24 Mei 2024. (Foto oleh Chris ARJOON / AFP)
Pelatih lain Messi di Newell’s, Adrian Coria, masih mengingat kondisi keluarga Messi ketika sang pemain masih kecil.
Ayah Messi, Jorge, bekerja sebagai buruh pabrik dan pernah mengatakan bahwa ia belum tentu bisa mengantar putranya latihan karena tidak memiliki cukup uang untuk membeli bensin.
Pada masa itu, keluarga Messi juga mengetahui bahwa Lionel mengalami kekurangan hormon pertumbuhan.
Kondisi tersebut berisiko menghambat perkembangan fisiknya dan mengancam masa depan sepak bolanya.
“Leo 40 sentimeter lebih pendek dari rekan setimnya dan 15 kilogram lebih ringan. Bagi seorang pemain, itu sulit,” kata Coria.
Keluarga Messi kemudian mengatur agar Lionel mengikuti uji coba di akademi muda FC Barcelona, La Masia.
Barcelona menerima Messi dan membantu menanggung biaya perawatan yang dibutuhkan untuk kondisi pertumbuhannya.
Messi akhirnya pindah ke Barcelona pada tahun 2000 ketika usianya baru 13 tahun.
Sejak saat itu, Messi tidak lagi menetap di Argentina, tetapi ikatan emosionalnya dengan Rosario dan negaranya tidak pernah benar-benar terputus.
“Dia tahu apa yang diinginkannya. Dia ingin menjadi pemain sepak bola, dia ingin menjadi yang terbaik,” ujar Coria.
Perjalanan panjang dari La Bajada menuju panggung dunia kini membawa Messi ke babak lain dalam kariernya.
Setelah mengantar Argentina menjadi juara Piala Dunia, Messi bersiap menghadapi Piala Dunia keenamnya (Piala Dunia 2026) dengan status sebagai kapten sekaligus simbol harapan publik Argentina.
Bagi Rosario, kisah Messi tetap menjadi cerita tentang anak kecil dari lingkungan sederhana yang membawa mimpi besar hingga ke puncak sepak bola dunia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang