Babak Baru Sepak Bola Italia, 2 Nama Bersaing Jadi Presiden FIGC
Dua kandidat presiden baru Federasi Sepak Bola Italia, FIGC, telah diketahui. Giovanni Malago akan bersaing dengan Giancarlo Abete.
FIGC butuh pemimpin baru setelah Gabriele Gravine mengundurkan diri akibat kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2026.
Giancarlo Abete pun memastikan dirinya akan mencalonkan diri sebagai Presiden FIGC. Sebelumnya, Giovanni Malago memutuskan maju dalam pemilihan setelah didukung oleh 18 klub Serie A.
Mayoritas klub Serie A memilih Malago, yang pernah menjabat Presiden CONI (Komite Olimpiade Italia), sebagai kandidat mereka dalam pertemuan umum Lega Serie A di Milan pada Senin (13/4/2026).
Malago dipilih oleh klub-klub Serie A sebelum mempresentasikan rencananya, sehingga beberapa klub seperti Lazio dan Hellas Verona memilih untuk abstain.
Kendati demikian, Lazio dan Verona bukan menentang pencalonan Malago. Kedua klub ingin lebih dulu meninjau kerangka peraturan dalam pemilihan presiden baru FIGC.
Giancarlo Abete Pernah Jadi Presiden FIGC
Sementara itu, posisi Presiden FIGC bukanlah ruang baru bagi Giancarlo Abete yang kini menjabat sebagai Presiden Lega Nazionale Dilettanti (LND).
Abete pernah menduduki kursi Presiden FIGC dari 2007 hingga 2014.
"Saya akan meminta Dewan Direksi LND agar memberikan wewenang yang sama seperti yang diberikan kepada Malago oleh klub-klub Serie A," ujarnya saat acara Premio Bearzot di Roma.
Adapun LND merupakan badan yang membawahi liga sepak bola amatir di Italia, termasuk Serie D.
"Jika ini adalah pendekatan yang diambil, kami akan mengikutinya. Saya telah memanggil badan pengurus LND dan akan meminta persetujuan untuk menyatakan kesiapan saya agar saat pertemuan nanti ada beragam posisi yang disampaikan."
"Saya juga mengajak komponen teknis dan liga-liga lainnya untuk melakukan hal yang sama karena kami membutuhkan kontribusi dari semua pihak."
Perlu diketahui bahwa suara dari LND menyumbang 34% dari total suara dalam pemilihan Presiden FIGC.
Kiper timnas Italia Gianluigi Donnarumma berdebat dengan wasit setelah Alessandro Bastoni menerima kartu merah pada laga final playoff Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 zona Eropa antara Bosnia-Herzegovina dan Italia di stadion Bilino-Polje di Zenica pada 31 Maret 2026.
Satu Orang Tak Cukup Selesaikan Problem Sepak Bola Italia
Di sisi lain, Serie A hanya 18%. Namun, kandidat harus memperoleh lebih dari 50% suara untuk terpilih.
Abete menyoroti kekurangan dari metode seleksi yang digunakan oleh Lega Serie A yang menyebabkan Malago muncul sebagai kandidat.
"Metode yang berbeda tentu akan lebih baik. Tentu saja, kandidat yang bergengsi seperti Malago telah terpilih," katanya.
"Namun, kita harus membahas masalah terlebih dahulu baru kemudian membicarakan tentang orangnya. Karena satu orang saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan sepak bola Italia, siapa pun dia."
"Oleh karena itu, kami akan fokus pada isu-isu dan memberikan sinyal awal bahwa pencalonan ini tidak akan berdiri sendiri," ucap Abete dilansir dari Football Italia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang