Dugaan Rasialisme di Laga Arema FC vs Malut United, Penyakit di Sepak Bola

Malut United, tribun, rasis, Dugaan Rasialisme di Laga Arema FC vs Malut United, Penyakit di Sepak Bola

Laga Arema FC melawan Malut United pada pekan ke-26 Super League 2025-2026 yang berakhir dengan skor 1-1 di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, meninggalkan luka karena dugaan ujaran rasialis dari tribun penonton.

Insiden terjadi di babak pertama, tepatnya sekitar menit ke-35.

Pemain Malut United, Yakob Sayuri, terlihat emosional dan mendekati bench Arema FC sambil menunjuk ke arah tribun. Laga pun sempat terhenti, menandai bahwa situasi di lapangan tidak lagi sekadar soal sepak bola.

Usai laga pelatih Malut United, Hendri Susilo, mengungkapkan bahwa pemainnya mengaku menjadi korban ujaran yang merendahkan.

“Dia bilang ke saya diteriaki dengan kata-kata rasis. Bahkan disebut ‘monyet’. Itu yang membuat dia terpancing,” ujar mantan pelatih PSBS Biak itu.

Bagi seorang pemain, tekanan dalam sebuah laga merupakan hal biasa. Namun, ketika yang datang adalah serangan terhadap identitas pribadi, situasinya berubah drastis.

Ia menilai reaksi Yakob Sayuri sebagai sesuatu manusiawi. Memahami bahwa tidak mudah bagi pemain untuk tetap tenang saat menghadapi perlakuan yang menghina batas-batas sportivitas tersebut.

Menurutnya, wasit sebenarnya sudah mencoba mengantisipasi potensi konflik sejak awal. Namun, insiden tersebut tetap memicu emosi di lapangan.

“Dia mungkin sedikit emosional, tapi itu wajar. Siapa pun bisa bereaksi jika mengalami hal seperti itu,” kata Hendri Susilo.

Malut United, tribun, rasis, Dugaan Rasialisme di Laga Arema FC vs Malut United, Penyakit di Sepak Bola

Pemain Malut United Yakob Sayuri saat laga pekan ke-26 Super League 2025-2026 melawan Arema FC yang berakhir dengan skor 1-1 di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jumat (3/4/2026) sore.

Sepak Bola yang Ternoda

Seperti diketahui kasus ini kembali membuka persoalan lama dalam dunia sepak bola bahwa rasisme belum sepenuhnya hilang dari tribun stadion.

Padahal, sepak bola dibangun di atas semangat kebersamaan. Perbedaan latar belakang pemain seharusnya menjadi kekuatan, bukan celah untuk saling merendahkan.

Ketika ujaran rasialis muncul, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu pemain, tetapi juga merusak nilai-nilai yang dijunjung dalam olahraga ini.

Atmosfer stadion yang seharusnya memberi dukungan justru berubah menjadi tekanan psikologis.

Atas insiden ini menjadi pengingat bahwa menjaga sepak bola tetap sehat adalah tanggung jawab bersama.

Suporter memiliki peran penting dalam menciptakan atmosfer positif, sementara penyelenggara dan otoritas kompetisi perlu memastikan aturan ditegakkan secara tegas.

Pelatih Marcos Santos sendiri mengaku tidak menyaksikan langsung kejadian tersebut, namun tetap menyampaikan permintaan maaf kepada pihak Malut United.

Ia menegaskan bahwa tindakan rasialis tidak memiliki tempat dalam sepak bola.

“Hal seperti itu tidak boleh terjadi. Kita semua sama,” pungkas pelatih asal Brasil ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang