Skandal Naturalisasi Disebut Bisa Jadi Aib Sepak Bola Malaysia

Malaysia, Timnas Malaysia, Naturalisasi, Sanksi FIFA, Skandal Naturalisasi Disebut Bisa Jadi Aib Sepak Bola Malaysia

Eks pemain Timnas Malaysia, Datuk M. Karathu, menilai polemik soal pemain naturalisasi bisa menjadi sebuah aib bagi sepak bola Negeri Jiran.

Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) dianggap FIFA telah melanggar Pasal 22 Kode Disiplin FIFA (FDC) terkait pemalsuan dokumen pemain naturalisasi.

Sebagai konsekuensinya, FAM harus membayar denda sebesar 350.000 franc Swiss (sekitar Rp 7,3 miiar).

Tujuh pemain naturalisasi yang tersangkut yakni Gabriel Felipe Arrocha, Facundo Tomas Garces, Rodrigo Julian Holgado, Imanol Javier Machuca, Joao Vitor Brandao Figueiredo, Jon Irazabal Iraurgui, dan Hector Alejandro Hevel Serrano mesti membayar denda 2.000 franc Swiss (sekitar Rp 42 juta).

Ketujuh pemain naturalisasi tersebut juga dilarang melakukan aktivitas sepak bola selama 12 bulan alias setahun.

Keputusan ini efektif sejak pernyataan FIFA keluar per 26 September 2025.

Menyikapi hal ini, Datuk M. Karathu mendesak FAM berbenah dan mengambil langkah nyata untuk mengembalikan integritas sepak bola Malaysia.

“Kita perlu tahu bagaimana hal itu dilakukan. Apakah melalui agen? Apa yang membuat para pemain ini memutuskan bermain untuk Malaysia hanya ketika mereka berusia 28 atau 29 tahun?” ujar Karathu yang merupakan  mantan pelatih klub Perak dan Kelantan, dilansir dari The Star.

“Jika memang benar, maka ini hal yang menyedihkan bagi sepak bola Malaysia. Bahkan bisa disebut sebuah aib,” ujar  eks pemain timnas Malaysia periode 1963 hingga 1970 tersebut.

Pria berusia 82 tahun tersebut ini menekankan pentingnya transparansi untuk menyelesaikan polemik naturalisasi ini.

“Saya sudah lama berada di sepak bola, sebagai pemain, pelatih, dan direktur teknis. Saya sudah melihat semuanya. Dari pejabat hingga agen, Anda selalu harus berhati-hati,” tutur Datuk M. Karathu yang telah lebih dari lima dekade berkecimpung di dunia sepak bola.

“Badan dunia tidak akan mengeluarkan pernyataan tanpa bukti yang kuat. Kita tahu FAM akan mengajukan banding setelah putusan lengkap keluar, jadi mari kita tunggu, tetapi pertanyaan tetap harus diajukan.”

Pemain Timnas Malaysia, Facundo Tomas Garces, menjadi salah satu pemain naturalisasi bermasalah yang turun dalam laga Malaysia vs Vietnam di putaran ketiga Kualifikasi Piala Asia 2027 pada 10 Juni 2025.(Photo by Mohd RASFAN / AFP)

Kembangkan Bakat Lokal

Karathu berharap kejadian ini bisa jadi refleksi bagi sepak bola Malaysia. Ia berharap bakat-bakat lokal bisa lebih dibina dan diperhatikan.

“Ketika Tunku Abdul Rahman (mantan Perdana Menteri) menjabat sebagai presiden AFC, kita memiliki Turnamen Merdeka yang menginspirasi pemain muda dan melahirkan generasi pesepak bola,” katanya.

“Sekarang, kita menghadapi penurunan jumlah penonton di liga domestik dan ketergantungan besar pada pemain impor. Padahal kita memiliki begitu banyak anak-anak lokal berbakat yang bisa berkembang jika dibina dengan benar,” tutur Datuk M. Karathu.

Karathu merasa Malaysia tak kekurangan talenta. Pemain berkualitas diyakininya akan bisa dihasilkan asal ada program akar rumput yang kuat serta pendidikan teknis yang tepat.

“Selama saya jalan pagi, saya masih melihat anak-anak bermain dengan sangat baik. Jika kita ajarkan mereka bagaimana melakukan pressing, kapan menyerang dan bertahan dengan benar, kita akan memiliki bintang-bintang sendiri, seperti bagaimana Lamine Yamal dari Spanyol muncul di usia yang begitu muda,” ujarnya.

Malaysia, Timnas Malaysia, Naturalisasi, Sanksi FIFA, Skandal Naturalisasi Disebut Bisa Jadi Aib Sepak Bola Malaysia

Persik Kediri mengumumkan bahwa Ong Kim Swee akan menjadi pelatih baru mereka untuk menghadapi Liga 1 musim 2025/2026.

Ong Kim Swee Singgung Plan A dan Plan B 

Apa yang disampikan Datuk M. Karathu senada dengan ucapan pelatih Persik Kediri asal Malaysia, Ong Kim Swee.

“Setelah apa yang telah terjadi, ini bukan saatnya untuk menyalahkan. Kita harus punya rencana, Rencana A dan Rencana B. Setiap negara di dunia melakukan hal yang sama,” katanya.

Rencana A yang dimaksud adalah menunggu hasil banding FIFA dengan harapan susunan pemain tetap utuh.

FAM punya waktu 10 hari sejak putusan diterbitkan untuk melakukan banding kepada FIFA.

Adapun Rencana B yang disampaikan Ong adalah menyangkut pengembangan bakat sejak level akar rumput.

“Kita perlu bertanya pada diri sendiri – bisakah kita menerima bermain tanpa para pemain ini? Bisakah kita masih percaya bahwa kita kompetitif?” ujarnya.

Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.