Makin Banyak Pengangguran di Jepang, Bagaimana Nasib Tenaga Kerja Asing?
Pasar tenaga kerja Jepang yang selama ini dikenal tangguh mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Data terbaru mengindikasikan bahwa lapangan kerja di Negeri Sakura sedang mengalami perlambatan.
Meningkatnya angka pengangguran ini menjadi sinyal bahwa ekonomi Jepang kini menghadapi tekanan yang tidak bisa diabaikan.
Di sisi lain, perusahaan terus berjuang memenuhi kebutuhan tenaga kerja, mereka sekaligus harus menghadapi tantangan baru, yakni permintaan upah yang semakin tinggi. Situasi ini menempatkan Jepang di persimpangan yang sulit, antara menjaga stabilitas ekonomi dan menahan dampak dari krisis tenaga kerja yang kian kronis.
Menurut laporan Kementerian Dalam Negeri Jepang, tingkat pengangguran naik menjadi 2,6 persen pada Agustus 2025, naik dari 2,3 persen pada bulan sebelumnya. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dalam lebih dari setahun, dan sedikit di atas perkiraan ekonom yang memprediksi angka 2,4 persen.
Di saat yang sama, rasio lowongan kerja terhadap pelamar turun dari 1,22 menjadi 1,20. Artinya, ada sekitar 120 lowongan untuk setiap 100 pencari kerja, dan ini merupakan level terendah sejak 2022.
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Jepang
“Pasar tenaga kerja yang kuat mungkin mulai kehilangan tenaganya,” ujar Masato Koike, ekonom senior di Sompo Institute Plus, sebagaimana dikutip dari NDTV, Kamis, 9 Oktober 2025.
“Tarif tinggi yang diberlakukan pemerintahan Trump telah mengurangi lowongan, terutama untuk pekerjaan paruh waktu. Kini, bahkan posisi penuh waktu mulai terkena dampaknya,” sambungnya.
Meskipun terjadi pelemahan kecil, data ini tetap menunjukkan bahwa pasar kerja Jepang masih relatif kuat. Namun, kekurangan tenaga kerja jangka panjang terus menekan perusahaan untuk menaikkan upah demi mempertahankan karyawan.
Tekanan tersebut membuat pertumbuhan upah tetap tinggi, dan hal ini menjadi salah satu faktor penting yang dipantau Bank of Japan (BOJ) dalam menentukan arah kebijakan moneter.
BOJ akan mengumumkan keputusan suku bunga berikutnya pada 30 Oktober mendatang, dan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga semakin besar. Dua anggota dewan sebelumnya sudah menyatakan keberatan terhadap kebijakan suku bunga tetap, menandakan arah bank sentral mulai bergeser ke pengetatan.
Dalam laporan terbarunya, BOJ mengakui bahwa memperluas pasokan tenaga kerja melalui perempuan dan lansia kini semakin sulit. Meski begitu, ada sisi positif di mana jumlah pekerja perempuan penuh waktu mencapai rekor tertinggi dengan 13,6 juta orang pada Agustus. Ini, menandai dua bulan berturut-turut kenaikan sejak pencatatan dimulai pada 2013.
Awal tahun ini, perusahaan-perusahaan besar Jepang juga sepakat menaikkan gaji lebih dari 5%, peningkatan terbesar dalam lebih dari 30 tahun. Namun, lonjakan upah ini menimbulkan efek domino.
“Kenaikan tajam upah minimum memberi tekanan tambahan pada struktur gaji, melebihi yang seharusnya terjadi secara alami,” kata Koike. “Jika dibiarkan, hal ini bisa berdampak negatif terhadap pasar tenaga kerja secara keseluruhan.
Dampak nyata mulai terasa. Menurut data Tokyo Shoko Research, sebanyak 237 perusahaan Jepang bangkrut antara Januari hingga Agustus tahun ini karena kekurangan tenaga kerja, naik sekitar 22% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Banyak dari mereka tidak sanggup mengikuti kenaikan gaji dan biaya operasional yang melonjak. Untuk menutup kekosongan tersebut, banyak perusahaan kini mengandalkan tenaga kerja asing.
Hingga Oktober tahun lalu, jumlah pekerja asing di Jepang mencapai rekor 2,3 juta orang, mengisi posisi yang ditinggalkan oleh tenaga kerja domestik yang menua dan menurun.
Kenaikan pengangguran yang bersamaan dengan kekurangan tenaga kerja menunjukkan betapa kompleksnya situasi ekonomi Jepang saat ini. Negara dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia itu kini harus mencari keseimbangan baru, antara mempertahankan pertumbuhan, mengendalikan inflasi, dan memastikan roda tenaga kerja tetap berputar.