Waduh! Makin Banyak Pengangguran di Selandia Baru
Selandia Baru tengah menghadapi lonjakan pengangguran terbesar dalam beberapa tahun terakhir, dengan jumlah pengangguran mencapai sekitar 158 ribu orang. Meski analis memperkirakan kondisi akan membaik pada 2026, para ahli menegaskan bahwa tak semua pencari kerja akan terserap kembali ke dunia kerja.
Tingkat pengangguran di negeri itu kini naik tajam dari 3,2 persen menjadi 5,2 persen, level tertinggi sejak pandemi. Padahal beberapa tahun lalu, pasar tenaga kerja Selandia Baru dikenal paling tangguh di kawasan Pasifik.
Kini, banyak perusahaan menahan rekrutmen baru di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kepala peramal Infometrics, Gareth Kiernan, menegaskan bahwa bahkan dalam kondisi ideal, tingkat pengangguran “normal” tidak akan bisa nol persen.
“Bahkan pada tingkat 4 persen, bisnis masih kesulitan menemukan staf yang sesuai untuk mengisi lowongan,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari RNZ, Selasa, 14 Oktober 2025.
Auckland New Zealand
Ia menambahkan, sisa pengangguran di level tersebut biasanya mencakup orang-orang yang sedang berpindah pekerjaan, atau mereka yang belum memiliki keterampilan teknis dan kesiapan kerja.
Awal tahun ini, terungkap ada penerima tunjangan JobSeeker work ready support yang sudah hidup dari bantuan sosial selama hampir 44 tahun. Fakta ini menunjukkan adanya kelompok masyarakat yang sulit keluar dari jebakan pengangguran jangka panjang.
Kiernan juga memperingatkan bahwa jika tingkat pengangguran terlalu rendah, justru bisa memicu tekanan ekonomi baru. “Seperti yang kita lihat selama pandemi, tingkat pengangguran di bawah 4 persen kemungkinan besar akan menyebabkan tekanan besar pada biaya tenaga kerja, yang kemudian memicu inflasi, sehingga tidak berkelanjutan dalam jangka menengah,” katanya.
Meski begitu, Infometrics memperkirakan akan ada sekitar 85 ribu pekerjaan baru hingga akhir 2026, namun tak semua pengangguran akan tertolong. “Dengan kata lain, kami memperkirakan jumlah pekerja pada akhir 2026 akan meningkat 86.200 dari level Juni 2025, dan pada akhir 2027 meningkat 136.000 dari Juni 2025,” jelas Kiernan.
Ia menilai proyeksi itu cukup optimistis, tetapi mengingat lemahnya ekonomi tahun ini, pemulihan bisa lebih lambat dari harapan. “Masalahnya, saat ini belum ada tanda-tanda perbaikan berarti. Jadi agak seperti tindakan penuh keyakinan untuk mengatakan semuanya akan baik-baik saja pada akhir tahun depan, terutama melihat betapa mengecewakannya kondisi ekonomi tahun ini,” tambahnya.
Sementara itu, Profesor Matt Roskruge dari Massey University menilai pengangguran nol persen tidak mungkin terjadi karena selalu ada pergerakan alami di pasar tenaga kerja. “Selalu ada gesekan di pasar tenaga kerja, orang berpindah pekerjaan, mencari kecocokan keterampilan atau lokasi yang tepat, atau butuh waktu untuk menemukan pekerjaan yang sesuai,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa tingkat pengangguran alami berkisar 2–4 persen, dan di bawah angka itu, negara bisa menghadapi kekurangan tenaga kerja serius. “Dari sudut pandang pemberi kerja, sedikit kelebihan tenaga kerja membantu menjaga upah tetap terkendali. Ketika tenaga kerja langka, pekerja memiliki daya tawar lebih tinggi, yang dapat mendorong kenaikan upah dan biaya serta memicu inflasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan, Selandia Baru masih bisa menurunkan pengangguran hingga 2 persen tanpa masalah, seperti yang sempat terjadi pada dekade 2010-an. Namun di sisi lain, Craig Renney, Direktur Kebijakan di Council of Trade Unions, memperingatkan bahwa sebagian penganggur mungkin akan tertinggal saat pasar mulai pulih.
Renney menambahkan, pengangguran tinggi bisa menekan pertumbuhan upah, terutama bagi pekerja berpendapatan rendah, serta memperburuk ketimpangan ekonomi. “Ada juga risiko nyata bahwa di masa depan kita melihat munculnya jenis ekonomi yang berbeda, dan orang-orang memiliki keterampilan yang tidak sesuai,” ujarnya.
Dengan jumlah pengangguran yang terus meningkat dan ekonomi yang masih lesu, Selandia Baru kini berada di persimpangan penting antara pemulihan atau stagnasi tenaga kerja. Para ahli menekankan bahwa tanpa investasi besar dalam peningkatan keterampilan, ribuan warga bisa tetap terjebak dalam pengangguran jangka panjang meski kondisi ekonomi membaik.