Menperin Imbau Perusahaan yang Relokasi Pabrik Tak Kurangi Produksi dan Tenaga Kerja

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengaku, pihaknya tidak mempermasalahkan relokasi pabrik, selama tetap berada di Indonesia serta tidak mengurangi kapasitas produksi.

"Relokasi pabrik selama dia masih di wilayah NKRI, selama dia tidak mengurangi kapasitas produksi dan jumlah tenaga kerjanya, maka sebagai pembina industri kami tidak terlalu memiliki masalah dengan relokasi," kata Agus di Jakarta, Rabu, 12 November 2025.

Dia mengimbau para kepala daerah juga harus mempelajari alasan industri tertentu dari daerah lain, yang merelokasikan pabriknya ke daerah yang dipimpinnya.

Ilustrasi Industri tekstil.

"Bagi investor salah satu komponen atau faktor dalam mewujudkan produk-produk yang kompetitif, itu adalah bagaimana mengefisienkan yang disebut dengan cost of production (biaya produksi)," ujar Agus.

Dia menambahkan, faktor-faktor yang berpengaruh misalnya seperti biaya produksi, tenaga kerja, biaya listrik, atau bahkan harga bahan baku yang relatif lebih kompetitif

Sebelumnya, Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Septian Hario Seto mengatakan 27 pabrik baru akan dibuka di Jawa Tengah pada sektor garmen dan industri alas kaki (footwear).

“Kalau dari studi kita di DEN, ada sekitar 27 pabrik yang baru buka, ini sektornya garmen dan footwear yang penyerapan tenaga kerjanya besar itu memang di Jawa Tengah (Jateng),” kata Seto.

Berdasarkan catatan DEN, terdapat lebih dari 130 ribu lowongan kerja yang akan dibuka di Jateng.Secara spesifik, pabrik-pabrik baru berasal dari empat kota di Jateng, yakni Brebes, Pekalongan, Tegal dan Pemalang.

Pekerja pabrik PT KMK Global Sport.

Pekerja pabrik PT KMK Global Sport.

Pabrik-pabrik tersebut ada yang baru mulai produksi hingga ekspansi. Pengusaha dinilai memperoleh keuntungan dari segi tenaga kerja karena belum banyak kompetisi antarindustri, dan segi logistik karena bisa memanfaatkan Tol Trans Jawa.

DEN melihat hal ini menjadi satu peluang untuk membentuk ekosistem di industri garmen dan alas kaki.

“Jadi kalau di baterai kan kita mulainya dari hulu, terus ke hilir ya, dari nikelnya dulu ke hilir. Nah, untuk yang garmen ini kita sudah ada hilirnya, sekarang bagaimana kita develop (mengembangkan) midstream (tahap tengah antara hulu dan hilir) dan upstream-nya (hulu),” ujarnya.