Psikolog Sebut Doom Scrolling Medsos Sebelum Tidur Bisa Ganggu Kesehatan Mental

doom scrolling, doom scrolling artinya, efek doom scrolling sebelum tidur, doom scrolling medsos, scrolling medsos sebelum tidur, dampak scrolling medsos sebelum tidur, Psikolog Sebut Doom Scrolling Medsos Sebelum Tidur Bisa Ganggu Kesehatan Mental

— Pernahkah kamu berniat hanya membuka media sosial sebentar sebelum tidur, tetapi justru berujung pada berjam-jam menggulir layar tanpa henti? 

Kebiasaan ini dikenal dengan istilah doom scrolling, yaitu aktivitas terus-menerus membaca atau menonton berita dan konten negatif secara daring.

Meski sekilas tampak sepele, kebiasaan ini ternyata berdampak besar pada kesehatan mental, terutama bila dilakukan pada malam hari. 

Kecanduan doom scrolling sebelum tidur 

Psikolog Klinis, Praktisi, dan Edukator isu kesehatan mental Dra. Tika Bisono, MPsiT., Psikolog menjelaskan, doom scrolling kini menjadi salah satu penyebab meningkatnya stres, kecemasan, dan kelelahan emosional di era digital.

“Salah satu kebiasaan yang sulit lepas di era sekarang ini adalah doom scrolling. Biasanya dilakukan ketika malam hari mau tidur atau saat stres, buka konten di media sosial rasanya sulit untuk berhenti,” kata Tika dalam Webinar Fenomena Kesepian Pada Perantau: Bagaimana Mengatasinya, Sabtu (4/10/2025).

Ia menjelaskan, di malam hari yang seharusnya tubuh mulai beristirahat, justru banyak orang menghabiskan waktu dengan menatap layar ponsel. 

Tanpa disadari, aktivitas ini mengganggu jam biologis tubuh. Paparan cahaya biru dari gawai bisa menekan produksi hormon melatonin yang berperan penting dalam mengatur pola tidur. 

Akibatnya, seseorang menjadi sulit tidur dan mudah mengalami stres, bahkan setelah layar sudah dimatikan.

Dampak doom scrolling pada kesehatan mental

Menurut Tika, efek negatif dari doom scrolling bukan hanya pada pola tidur, tapi juga pada kondisi psikologis. 

“Ketika doom scrolling, bisa saja kita melihat berita negatif yang membuat energi seperti tersedot. Alhasil ada perasaan sedih, cemas, bahkan marah,” jelasnya.

Konten berita buruk yang terus muncul, baik tentang bencana, konflik, atau isu sosial, membuat otak terus dalam kondisi siaga. 

Reaksi ini mirip seperti stres kronis karena otak memproses setiap informasi negatif seolah ancaman nyata.

Kebiasaan ini seringkali membuat seseorang terjebak dalam lingkaran kecemasan yang tidak berkesudahan. 

Saat ingin mencari tahu lebih banyak, justru muncul lebih banyak informasi yang memperburuk suasana hati. 

“Kegiatan ini bisa terlihat seperti sedang mengetahui informasi terkini, tapi tanpa disadari bisa membuat mental kita terjebak dalam kecemasan,” terangnya.

Mengapa doom scrolling terasa sulit dihentikan?

Secara psikologis, doom scrolling memiliki efek mirip seperti perilaku adiktif lainnya. Otak mendapatkan sensasi kepuasan sementara setiap kali menemukan informasi baru. 

Namun, kepuasan itu cepat hilang dan digantikan dengan rasa ingin tahu lebih banyak.

“Buka media sosial terasa seperti kebutuhan, padahal seringkali hanya karena rasa gelisah. Semakin sering dilakukan, semakin sulit dihentikan,” kata Tika.

Kebiasaan ini biasanya muncul di malam hari karena suasana tenang membuat seseorang lebih fokus pada pikiran dan perasaannya. 

Saat merasa kesepian atau stres, ponsel menjadi pelarian untuk mencari distraksi, meski justru berujung memperparah kecemasan.

Batasi gawai sebelum tidur untuk jaga kesehatan mental

Untuk mencegah dampak buruk doom scrolling, Tika menyarankan agar seseorang mulai menerapkan batasan penggunaan gawai, terutama di malam hari.

“Sebaiknya sebelum tidur hindari memegang gawai, sisihkan waktu sejam sebelum tidur untuk terlepas dari gawai supaya tidak kecanduan doom scrolling,” sarannya.

Langkah sederhana seperti membaca buku, menulis jurnal, atau melakukan latihan pernapasan bisa menjadi alternatif kegiatan sebelum tidur. 

Dengan begitu, pikiran mendapat waktu untuk tenang dan tubuh bisa beristirahat optimal.

Lebih lanjut, ia mengimbau untuk ambil jeda waktu dari gawai sebagai bentuk self-care. Tidur cukup, membatasi paparan berita negatif, dan menetapkan waktu bebas layar adalah langkah penting untuk menjaga keseimbangan emosi.

Dengan istirahat digital yang cukup, seseorang bisa merasa lebih fokus, bahagia, dan siap menghadapi tantangan hari berikutnya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.