Ledakan SMAN 72 Jakarta Diduga Berawal dari Bullying, Ini Bahayanya Perundungan pada Kesehatan Mental Remaja
Peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta pada Jumat siang, 7 November 2025, menyisakan duka dan tanda tanya besar. Ledakan yang terjadi di area masjid sekolah itu diduga melibatkan seorang siswa yang diduga menjadi korban perundungan atau bullying.
Saksi menyebut pelaku sempat mengalami tekanan psikologis akibat sering diejek dan dikucilkan oleh teman-temannya.
Dugaan ini memunculkan keprihatinan mendalam tentang bagaimana dampak bullying dapat menimbulkan luka mental serius hingga mendorong seseorang melakukan tindakan berbahaya.
Dampak Bullying terhadap Kesehatan Mental Remaja
Ilustrasi korban bullying.
Terlepas dari peristiwa tersebut, bullying merupakan tindakan yang menimbulkan dampak serius, terutama untuk kesehatan mental remaja laki-laki. Hal itu terungkap dari sebuah penelitian besar dari Universitas Manchester.
Mengutip dari situs resminya, studi ini melibatkan lebih dari 26.000 berusia 12 hingga 15 tahun dan menemukan bahwa perundungan menjadi salah satu penyebab utama munculnya gejala kecemasan dan depresi.
Penelitian tersebut juga menunjukkan perbedaan dampak antara anak laki-laki dan perempuan. Pada remaja laki-laki, gangguan mental seperti stres dan depresi justru dapat membuat mereka lebih rentan menjadi korban bullying di kemudian hari.
Sementara pada remaja perempuan, pengalaman menjadi korban perundungan sering kali menyebabkan penurunan dukungan sosial dan pertemanan, yang memperparah kondisi psikologis mereka.
Temuan ini menegaskan bahwa bullying bukan hanya masalah perilaku sosial, melainkan juga persoalan kesehatan mental yang perlu penanganan serius. Remaja yang terus-menerus mengalami perundungan cenderung menarik diri dari lingkungan, kehilangan motivasi belajar, bahkan merasa tidak berharga.
Peran Sekolah dan Keluarga dalam Mencegah Bullying
Bullying sulit dihilangkan sepenuhnya tanpa keterlibatan semua pihak. Para peneliti menekankan pentingnya dukungan sosial dan lingkungan positif di sekolah sebagai pelindung bagi kesehatan mental remaja.
"Penelitian kami memberikan bukti baru yang penting tentang dampak destruktif dari perundungan terhadap kesehatan mental remaja. Ada kebutuhan mendesak akan intervensi yang efektif untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh anak laki-laki dan perempuan selama masa perkembangan penting dalam kehidupan mereka" ungkap Dr. Qiqi Cheng, penulis utama penelitian.
Penelitian menyebut, hubungan pertemanan yang sehat juga terbukti dapat menurunkan risiko depresi dan kecemasan pada korban perundungan.
Sekolah diharapkan dapat menerapkan program anti-bullying yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua. Program tersebut tidak hanya fokus menghukum pelaku, tetapi juga memberikan pendampingan psikologis kepada korban agar dapat pulih dari trauma.
Guru juga perlu mendapatkan pelatihan untuk mengenali tanda-tanda tekanan mental pada siswa, seperti perubahan perilaku, prestasi yang menurun, atau sikap murung berkepanjangan.
Selain itu, orang tua memiliki peran penting dalam mendeteksi perubahan emosi anak di rumah. Sikap terbuka, empati, dan komunikasi yang baik dapat membantu anak merasa aman untuk menceritakan masalah yang mereka hadapi di sekolah.