Muncul Jasa Teman Jalan, Psikolog Sebut Bentuk Coping Instan

Belakangan ini, jasa teman jalan semakin ramai dibicarakan. Lewat platform tertentu, seseorang bisa menyewa orang asing untuk menemani jalan, nongkrong, hingga menghadiri acara bersama.
Layanan ini populer terutama di kota-kota besar, di mana banyak orang merasa kesepian atau canggung untuk datang sendiri ke acara sosial.
Namun, apa sebenarnya yang dicari pengguna jasa ini? Apakah sekadar teman sesaat, atau ada kebutuhan psikologis yang lebih dalam?
Mengapa orang mau membayar jasa teman jalan?
Psikolog Klinis Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi., menjelaskan bahwa jasa ini bisa dilihat dari sisi psikologi sebagai bentuk coping atau mekanisme untuk mengurangi rasa sepi.
“Banyak orang merasa lebih aman ketika menggunakan jasa ini karena aturannya jelas, sifatnya formal, dan ada batasan yang disepakati sejak awal. Mereka bisa mendapat teman jalan tanpa harus takut dinilai atau terbebani emosi seperti dalam relasi pertemanan biasa,” kata psikolog Joko kepada Kompas.com, Kamis (2/10/2025).
Menurutnya, ada beberapa motivasi yang mendorong orang untuk menggunakan jasa teman jalan:
- Rasa aman dan privasi: pengguna merasa lebih tenang karena tidak harus berurusan dengan penilaian orang dekat.
- Butuh teman ngobrol: beberapa orang ingin validasi emosional dari orang asing yang dianggap netral.
- Mengurangi rasa canggung: misalnya saat datang ke pernikahan, konser, atau nongkrong di kafe sendirian.
“Kadang justru lebih nyaman curhat ke orang asing, karena keluarga atau teman dekat bisa punya subjektivitas tertentu berdasarkan pengalaman masa lalu,” tambahnya.
Fenomena jasa teman jalan makin populer di kota besar. Psikolog jelaskan kaitannya dengan kesepian urban.
Lebih banyak peminat di kalangan perempuan
Seorang pemilik jasa Gue Temenin Jalan, David (32), menyebut jasanya lebih banyak diminati perempuan. Alasannya, menurut psikolog Joko, jasa ini dianggap lebih aman dibanding bertemu orang baru secara acak.
“Dalam layanan formal, ada struktur dan aturan yang jelas. Kalau ada masalah, lebih mudah dilacak. Itu memberi rasa aman tambahan, terutama bagi perempuan,” jelasnya.
Selain itu, adanya kontrak yang jelas sejak awal juga meminimalkan risiko, sehingga pengguna bisa merasa lebih leluasa menjalani aktivitas bersama tanpa khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan.
Tidak menyelesaikan akar masalah kesepian
Meski bisa memberi rasa nyaman sesaat, psikolog Joko menekankan bahwa jasa teman jalan pada dasarnya hanyalah bentuk coping instan.
“Ini bisa mengurangi rasa sepi sementara, tapi tidak menyelesaikan akar masalah. Kalau kesepian dibiarkan terus-menerus, bisa berisiko pada stres, kecemasan, bahkan depresi,” ujarnya.
Kesepian yang berkepanjangan, kata dia, juga bisa berdampak pada kesehatan fisik.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stres kronis bisa menurunkan daya tahan tubuh, mengganggu tidur, hingga meningkatkan risiko penyakit tertentu.
Bukan pengganti relasi jangka panjang
Menurut psikolog Joko, kebutuhan utama manusia tetaplah hubungan yang autentik dan berkelanjutan dengan orang lain. Jasa teman jalan hanya menutupi kekosongan sementara.
“Kalau ada masalah kepercayaan atau kesulitan membangun relasi dengan orang terdekat, itu yang seharusnya dicari solusinya. Jasa ini bisa jadi pilihan sesaat, tapi bukan jalan keluar permanen,” tegasnya.
Ia menambahkan, pengguna jasa sebaiknya tetap menyadari batasan. Jangan sampai kenyamanan instan membuat orang semakin menjauh dari upaya membangun hubungan sehat dengan keluarga, sahabat, atau pasangan.
Menyangkut kesepian urban
Fenomena jasa teman jalan sejalan dengan tren masyarakat perkotaan yang serba cepat dan individualistis.
Kesibukan, tekanan sosial, hingga meningkatnya angka kesepian membuat layanan ini terasa relevan bagi sebagian orang.
Meski begitu, pakar psikologi mengingatkan agar layanan ini dilihat sebagai opsi sesaat, bukan solusi utama.
Interaksi nyata, dukungan emosional dari orang terdekat, dan keberanian membangun relasi jangka panjang tetap menjadi kebutuhan fundamental setiap individu.
“Pada akhirnya, rasa aman dan validasi paling sehat datang dari hubungan yang tulus, bukan yang instan,” tutup psikolog Joko.