Kenapa Petugas Sulit Identifikasi Korban Ponpes Al Khoziny? Ini 4 Kendalanya

sidoarjo, Al Khoziny, al khoziny buduran sidoarjo, Ponpes Al Khoziny, ponpes al khoziny ambruk, ponpes al khoziny buduran, santri al khoziny, ponpes al khoziny buduran sidoarjo, ponpes al khoziny roboh, mushala Al Khoziny, al khoziny ambruk, Kenapa Petugas Sulit Identifikasi Korban Ponpes Al Khoziny? Ini 4 Kendalanya, Sidik Jari Rusak dan Minim Data Biometrik, Identifikasi Gigi Tidak Menemukan Ciri Khas, Seragam Korban Tidak Memiliki Identitas, Minimnya Informasi Ciri Fisik dari Keluarga, Tes DNA Jadi Pilihan Terakhir Identifikasi Korban

Tim Forensik Disaster Victim Identification (DVI) RS Bhayangkara Surabaya menghadapi sejumlah kendala dalam proses identifikasi jenazah korban ambruknya bangunan bertingkat Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim).

Kepala Bidang DVI Pusdokkes Polri, Kombes Pol dr Wahyu Hidajati, menjelaskan ada empat aspek utama yang menyulitkan proses pencocokan identitas korban tragedi robohnya musala Ponpes Al Khoziny.

Sidik Jari Rusak dan Minim Data Biometrik

Menurut Wahyu, kerusakan pada bagian jari jenazah menjadi kendala besar dalam identifikasi menggunakan sidik jari. Padahal, tim biasanya mengandalkan Mobile Automatic Multi Biometric Identification System (MAMBIS) untuk proses ini.

“Kalaupun sidik jari bisa dideteksi, anak-anak usia 12–15 tahun ini belum memiliki KTP atau data biometrik resmi sebagai pembanding,” ujar Wahyu saat ditemui, Jumat (3/10/2025).

Hal tersebut membuat tim DVI tidak bisa langsung mencocokkan identitas korban berdasarkan sidik jari, berbeda dengan korban dewasa yang biasanya memiliki data biometrik lengkap.

Identifikasi Gigi Tidak Menemukan Ciri Khas

Proses identifikasi melalui rekam gigi juga menemui jalan buntu. Wahyu menyebut tidak ditemukan ciri khas atau kondisi unik pada gigi korban yang dapat dijadikan pembeda.

Selain itu, data ante-mortem dari keluarga korban runtuhan Ponpes Al Khoziny juga masih terbatas. Informasi detail mengenai struktur atau kondisi gigi anak-anak yang dilaporkan hilang belum tercatat secara lengkap.

Seragam Korban Tidak Memiliki Identitas

Kendala lain muncul dari pakaian yang dikenakan para korban. Saat kejadian, mayoritas santri menggunakan baju koko putih dan sarung karena sedang melaksanakan salat Asar di lantai bawah bangunan ponpes.

“Semua pakaiannya seragam, tidak ada identitas apa pun di baju koko yang mereka kenakan,” terang Wahyu.

Ketiadaan atribut khusus, seperti nama, label, atau tanda lain, membuat tim kesulitan menelusuri identitas korban hanya dari pakaian yang dikenakan.

Minimnya Informasi Ciri Fisik dari Keluarga

Selain itu, informasi dari keluarga korban runtuhan Ponpes Al Khoziny juga masih minim. Banyak keluarga belum bisa memberikan keterangan rinci mengenai ciri fisik khusus, misalnya letak tahi lalat, bekas luka, atau tanda lahir.

“Meskipun ada yang mengaku hafal, sampai saat ini pembandingnya belum ditemukan,” tambah Wahyu.

Tes DNA Jadi Pilihan Terakhir Identifikasi Korban

Dengan berbagai hambatan tersebut, tim DVI akhirnya menyiapkan opsi terakhir berupa tes DNA. Metode ini dinilai paling akurat untuk memastikan identitas korban sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.

Namun, tes DNA membutuhkan waktu yang relatif lama, tergantung kondisi jaringan tubuh yang dijadikan sampel.

“Kalau jaringan tubuhnya rusak atau busuk, prosesnya bisa memakan waktu hingga dua minggu,” jelas Wahyu.

Jika identitas korban berhasil dipastikan melalui tes DNA, pihak RS Bhayangkara Surabaya akan segera menghubungi keluarga untuk proses pengambilan jenazah. Selanjutnya, proses pemulasaran hingga pemakaman akan disesuaikan dengan permintaan keluarga korban.

Seperti diketahui, tragedi runtuhnya bangunan bertingkat yang difungsikan sebagai musala di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo terjadi pada Senin (29/9/2025). Peristiwa ini menelan banyak korban, sebagian besar adalah santri yang tengah melaksanakan salat Asar.

Proses evakuasi korban runtuhan Ponpes Al Khoziny hingga kini masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan. Sementara itu, tim DVI berfokus memastikan identitas para korban agar segera dapat diserahkan kepada pihak keluarga.

Sebagian Artikel ini telah tayang di Surya.co.id dengan judul 4 Kesulitan Identifikasi Jenazah Korban Runtuhan Bangunan Ponpes Al Khoziny, Lewat Tes DNA